Marhaban bikum...

13 April 2015

Memahami dan Menyelami Tarian Asli di Kasunanan Surokarto Hadiningrat


Bedhaya Ketawang (Bedhoyo Ketawang)
Bedhaya Ketawang adalah tarian asal Kasunanan Surokarto Hadiningrat yang sesungguhnya berasal dari Kasultanan Mataram Hadiningrat. Bedhaya Ketawang berarti tarian langit. Karena tarian ini mengisahkan tentang pergerakan bintang-bintang di langit. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa tarian ini mengisahkan tentang pernikahan Kanjeng Panembahan Senopati raja Mataram pertama dengan Kanjeng Ratu Kidul yang menguasai Laut Selatan.

Bedhaya Ketawang terdiri dari 9 orang penari yang melambangkan 9 lubang di tubuh manusia (mulut, lubang hidung, lubang mata, lubang telinga, anus dan kemaluan), 9 mata angin dan 9 dewa yang menempati mata angin dan 9 fase hidup manusia. Kesembilan penari ini dinamakan satu set. Biasanya, Keraton Kasunanan akan menyiapkan 2 set untuk berjaga-jaga. Bedhaya Ketawang hanya akan ditarikan pada saat Jumenengan Dalem atau Tingalan Jumenengan Dalem Susuhunan Pakubuwono (Penobatan atau Peringatan Pengobatan Susuhunan Pakubuwono). dan dilarang ditarikan pada saat lain selain itu. Jika saat latihan terdapat 2 set, maka jumlah penari akan menjadi 2 set lebih satu atau ada 19 orang yang latihan menari. Dengan Kanjeng Ratu Kidul ikut menari menjadi penari ke-19 dan saat pentas akan ditampilkan 1 set, maka penarinya akan menjadi 1 set lebih 1 atau 10 penari dengan Kanjeng Ratu Kidul menjadi penari ke-10. Setiap penari memiliki jabatannya masing-masing. yaitu:

Apit mburi : lengan kiri
Apit ngarep : lengan kanan
Apit meneng : kaki kiri
Batak : jiwa pikiran
Buncit : organ kemaluan
Dadha : dada
Endhel ajeg : nafsu
Endhel weton : kaki kanan
Jangga (gulu) : leher


Para penari memiliki motivasi tersendiri bahwa jika mereka tidak benar melakukan tarian, maka mereka akan ditarik oleh Kanjeng Ratu Kidul ke laut. Syarat-syarat para penari adalah harus perawan dan tidak dalam keadaan haid. Jika penari tiba-tiba mengalami masa haidnya, maka penari itu akan digantikan oleh penari lain. untuk pakaiannya, adalah sebagai berikut:

Dodot bermotif alas-alasan dan panjang 4 meter


# samparan bermotif cinde merah. dililitkan dari kiri ke kanan satu kali. dan sisa kain dijadikan ekor dengan nama seredan.
# sondher bermotif cinde sekar warna merah. sondher adalah kain yang dijadikan selendang menari

# Saat penari menampilkan Tari Bedhaya Ketawang, jika ada pakaian penari yang rusak atau kendur maka abdi dalem keparak siap untuk membetulkan. Namun, para penari tidak berhenti menari. Jadi abdi dalem lah yang membetulkan sambil mengikuti gerakan sang penari. 
# Gamelan yang mengiringi "Kyai Kaduk Manis" dan "Kyai Manis Renggo" dan instrumen yang digunakan hanya Kemanak, Kethuk, Kenong, Kendhang Ageng, Kendhang Ketipung, dan Gong Ageng. Tarian ini merupakan tarian erotis karena bisa mengundang birahi laki-laki jika disaksikan dengan khidmat, namun erotisme itu tersembunyi dan dikemas oleh gerakan-gerakan yang lembut dan halus. Tarian ini ditarikan pada Jumenengan nDalem atau Tingalan Jumenengan nDalem. 

Tarian ini mewajibkan para penarinya berlatih pada hari Selasa Kliwon karena Selasa Kliwon adalah hari dimana Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul mengikat sumpah. yaitu sumpah Kanjeng Ratu untuk melindungi Mataram dan sumpah Panembahan Senopati untuk menikahkan semua raja keturunannya termasuk dirinya dengan Kanjeng Ratu sebagai tanda pertemanan. Dan karena sumpah ini, Susuhunan biasanya akan memilih satu diantara 9 penari yang dirasakan sebagai penjelmaan Kanjeng Ratu untuk dijadikan selirnya sebagai tanda pemenuhan sumpah Panembahan Senopati. 

Dikisahkan seluruh pakaian yang dikenakan oleh para penari adalah hasil karya Kanjeng Ratu. Dan baju ini menjadi baju pernikahan Keraton dengan nama "Basahan". dan karena tarian ini juga menggambarkan keanggunan wanita jawa, maka penari dipakaikan perhiasan emas seperti kelatbahu, giwang, cincin dan lain-lain.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...