Showing posts with label Nostalgia dan Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Nostalgia dan Cerpen. Show all posts

24 January 2016

Sejarah Berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadinigrat

Penembahan Senopati yang waktu mudanya bernama Sutowijoyo memerintah di Mataram dari tahun 1585 sampai dengan tahun 1601. Pada tahun 1601 Raden Mas Jolang yang bergelar Susuhunan Hadi prabu Hanyakrawati menggantikan sebagai raja Mataram sampai dengan tahun 1913. setelah Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati meninggal beliau digantikan oleh Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, yang memerintah mulai tahun 1613 sampai tahun 1945. Pada saat pemerintahan Sultan Agung, keraton Mataram berada dalam puncak kejayaan. Karena banyak raja-raja yang ditaklukkan, yaitu raja-raja pesisir Utara Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kalimantan Barat, Madura, Surabaya dan Cirebon.

Sultan Agung merupakan figur raja yang taat kepada agama Uslam dan tidak senang pada Belanda yang berada di tanah Jawa. Sultan Agung mempunyai cita-cita untuk menguasai seluruh pulau Jawa. Namun cita-cita Sultan Agung untuk menguasai seluruh pulau Jawa gagal. Karena pada waktu itu terdapat tiga kekuatan politik yaitu Mataram, Banten dan VOC di Batavia.


Rasa tidak senang dari Sultan Agung pada Belanda tersebut dapat kita lihat pada usaha Sultan Agung yang dua kali menyerang VOC di Batavia, sebagai pusat pemerintahan Belanda di Jawa. Tetapi usaha tersebut gagal karena terjangkitnya wabah penyakit dan kurangnya bahan pangan karena lumbung padi dibakar oleh Belanda. Sebagai rasa hormat dari pemerintah Indonesia yang sekarang telah merdeka maka Sultan Agung mendapatkan penghargaan sebagai salah satu Pahlawan Nasional yang berusaha mengusir penjajah dari bumi Indonesia.


Pada saat pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, beliau banyak menjalin hubungan yang bersifat ekonomis dan politik dengan daerah-daerah lain. Bukti kerjasama tersebut dalam bidang ekonomi adalah Palembang dan Jambi menggantungkan kebutuhan berasnya dari Mataram. Karena rakyat di Palembang dan Jambi lebih suka menanam lada daripada padi. Juga pada tahun 1641 Mataram menjalin hubungan dengan bangsa Portugis di Malaka, Mataram mengirim beras ke Portugis di Malaka sedang bangsa Portugis di Malaka menyediakan keperluan sandang dan keperluan-keperluan perang Mataram. Sedangkan bukti kerjasama dalam bidang politik yaitu memberikan perlindungan kepada Palembang dan Jambi agar terhindar dari Expansi Aceh dan Banten. Yang kemudian perlindungan itu berakhir pada tahun 1642, pada saat armada Mataram dihancurkan oleh armada VOC di dekat Palembang. Bahkan sultan Agung Hanyakrakususma juga menjalin hubungan dengan pusat agama Islam di Mekkah, berkat hubungan tersebut beliau memperoleh gelar Sultan (Soewarso, 1985 :45).


Di zaman ini juga kebudayaan mengalami perkembangan yang pesat. Hasil kebudayaan Mataram menunjukkan adanya perpaduan antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan Hindu dan Budha pada saat itu mempunyai pengaruh yang sangat besar dan kuat terhadap kebudayaan asli Jawa.


Pada tahun 1645 Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma meninggal kemudian beliau digantikan oleh Susuhunan Amangkurat I atau Amangkurat Agung yang memerintahkan mulai tahun 1645. berbeda dengan Ayahnya Susuhunan Amangkurat I bukan sebagai seorang raja yang bijaksana dan berwibawa, tetapi seorang raja yang bertangan besi dan bersahabat dengan VOC/Belanda, sehingga banyak ulama dan para bangsawan yang tidak senang kepada Amangkurat I. Sikap Amangkurat dalam menjalankan pemerintahan dengan tangan besi dan berusaha menggenggam seluruh kekuasaan tersebut terbukti pada masa itu para ulama dan sebagian rakyat dikejar-kejar, bahkan ribuan yang dihukum mati, karena mereka menentang politik Amangkurat I yang menjalin kerjasama dengan VOC. Para ulama yang berpengaruh besar terhadap rakyat, dianggap menyaingi kedudukan dan kekuasaannya.


Cara Kejam Amangkurat I untuk mematahkan kekuasaan para ulama yang selalu menentang Belanda ternyata tidak berhasil. Para ulama terus menyusun kekuasaan, dibawah Sunan Giri, para ulama akhirnya bangkit sentak untuk mematahkan kekuasaan Amangkurat I. Sikap Amangkurat I terhadap raja-raja taklukan sangat kerja. Mereka yang dianggap membahayakan Mataram, selalu dipecat dan digantikan dengan bangsawan Mataram yang telah jelas-jelas taat dan setia kepadaanya. Bahkan raja raklukan tersebut banyak yang dibunuh. Oleh sebab itu lambat laun timbul rasa tidak puas terhadap pemerintahan Amangkurat I. Para bangsawan Mataram yang tidak puas terhadap pemerintahan Amangkurat I tersebut justru dipimpin oleh Adipati Anom (Putra Mahkota) yang bersekutu dengan Trunojoyo. Akhirnya terjadi pemberontakan terhadap Mataram yang dipimpin oleh Trunojoyo yang bersekutu dengan Adipati Anom dan para bangsawan Mataram serta para ulama.


Mataram dapat direbut oleh Trunojoyo, sedang Amangkurat I beserta pengikutnya meninggalkan Mataram hendak minta bantuan kepada VOC di Batavia. Amangkurat I menunjuk Adipati Anom untuk menyerang Trunojoyo, tetapi Adipati Anom tidak bersedia, karena dia bersekutu dengan Trunojoyo. Dengan berbekal tumbal Kyai Pleret milik Amangkurat I. serangan Pangeran Puger terhadap Trunojoyo berhasil melumpuhkan kekuatan pasukan Trunojoyo. Perjalnan Amangkurat I ke Batavia sampai di Tegal Arum. Di tempat tersebut Amangkurat I meninggal. Setelah Amangkurat I meninggal, Adipati Anom menjadi bingung karena tumbak Kyai Pleret yang menjadi simbol kerajaan Mataram berada di tangan Pangeran Puger.


Adipati Anom tidak meneruskan perjalanan ke Batavia, melainkan meminta bantuan kepada VOC di Jepara. Adipati Anom bersedia meluluskan apa saja yang diminta VOC asakan dia dapat menjadi raja Mataram. Berkat Bantuan VOC Trunojoyo dapat dikalahkan dan Adipati Anon menggantikan Amangkurat I menjadi raja Mataram pada tahun 1677 bergelar Amangkurat II. Dengan bertahtanya Amangkurat II berarti kekuasaan Mataram telah mulai dirongrong oleh Belanda.


Pada saat pemerintahan Sunan Amangkurat II, karena keraton Mataram sudah rusak akibat pemberontakan Trunojoyo, maka Sunan Amangkurat II melanjutkan pemerintahan di Kartasura pada tahun 1703. setelah beliau wafat digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat III atau Amangkurat Mas. Sebelum Amangkurat II meninggal beliau berpesan kepada Amangkurat III agar berhati-hati terhadap pamannya yaitu Pangeran Puger. Pangeran Puger merasa jengkel karena dialah sebenarnya yang berhak menjadi raja. Untuk menghilangkan kejengkelan hati Pangeran Puger, maka Amangkurat III dikawinkan dengan anak perempuan Pangeran Puger.


Amangkurat III ternyata bersifat suka main perempuan, sehingga sering terjadu pertengkaran dengan istrinya, yang berakhir dengan perceraian. Anak Pangeran Puger yang menjadi istrinya dikembalikan kepada Pangeran Puger yang sudah barang tentu membuat sakit Pangeran Puger. Sebagai raja, Amangkurat III merasakan betapa berat dan kuatnya pengaruh VOC terhadap negaranya. Oleh sebab itu, Amangkurat III hendak melepaskan Mataram dari belenggu VOC terhadap negaranya. Para bangsawan yang nyata-nyata memihak kepadas VOC segera bertindak. Banyak diantaranya yang dipecat. Sikap Amangkurat III tersebut banyak mendapat tantangan dari segolongan bangsawan di lingkungannya. Situasi politik itu sangat menggembirakan Pangeran Puger (adik Amangkurat II) yang sejak semula ingin menjadi raja.


Dengan segolongan kaum bangsawan yang tidak senang pada Amangkurat III, Pangeran Puger mengadakan perbutan kekuasaan yang akhirnya dapat digagalkan Pangeran Puger lari ke Semarang meminta bantuan kepada VOC. Dengan senang hati VOC menerima Pangeran Puger. VOC bersedia membantu Pangeran Puger untuk merebut tahta Mataram, karena Amangkurat III menentang VOC, setelah Pangeran Puger menandatangani perjanjian untuk memberi hadian kepada VOC, VOC mengangkat Pangeran Puger sebagai Sunan di Kartasura dengan gelar Sunan Paku Buwono I. Pada tahun 1705 pasukan VOC dan pengikut-pengikut Pangeran Puger merebut Kertasura. Dengan demikian Sunan Amangkurat II bertahta hanya 2 tahun dari tahun 1703 sampai dengan tahun 1705, sedangkan Sunan Paku Buwono I, bertahta di Kartasura sejal tahun 1705 sampai dengan 1719. Sebagai balas jasa VOC yang telah menduduki dirinya sebagai raja di Kartasura, Paku Buwono I menyerahkan daerah Priangan, Cirebon dan Madura Timur kepada VOC. Disamping itu setiap tahunnnya Kartasura bersedia mengirimkan sejumlah beras ke Batavia. Sejak saat itu pengaruh kekuasaan VOC di Kartasura semakin besar.


Setelah Paku Buwono meninggal, beliau digantikan oleh Susuhunan Prabu Amangkurat IV atau Sunan Amangkurat Jawi atau Sunan Prabu. Amangkurat IV bertahta di Kartasura dari tahun 1917 sampai dengan tahun 1727. kemudian beliau digantikan oleh Sunan Buwono II, mulai tahun 1927. pada tahun 1742 orang-orang Cina pelarian dari Batavia bekerja sama dengan Mas Garendi. Mas Garendi adalah Cucu Sunan Mas. Mas Garendi bertahta di Katasura dengan gelar Amangkurat V, beliau bersikap melawan Belanda. Sedang Sunan Paku Buwono II meminta bantuan VOC. Setelah beliau menadatangani tentang imbalan yang akan diberikan VOC, kemudian VOC menyerang Mas Garendi untuk merebut Kartasura. Setelah kekuasaannya hancur, Mas Garendi menyerah kepada VOC. Selanjutnya beliau dibuang ke Srilangka. Berkat bantuan VOC, Sunan Paku Buwono II bertahta kembali di Kartasura. Seperti halnya Mataram, Keraton Kartasura rusak karena perbuatan Raden Mas Garendi. Menurut kepercayaan kuno di Jawa, bila keraton sebagai pusat kejayaan dan kebebasan sebuah kerajaan telah diduduki atau dirusak oleh tangan tangan kotor, tiba saat untuk membangun sebuah istana yang baru (Wibisono, 1980 :2).


Di Kartasura Sunan Paku Buwono II mengemukakan keinginannya untuk memindahkan Keraton Kartasura yang sudah rusak. Pada saat itu Baginda Sunan Pakubowono II sedang diliputi kesedihan karena baru saja kedatangan utusan VOC bernama Hogendrop yang membicarakan pelaksanaan beberapa permintaan VOC sangat merugikan Keraton Kartasura, sebagai imbalan kepada VOC yang telah membantu Paku Buwono II merebut tahta kembali Kartasura.


Dalam perjanjian itu antara lain disebutkan bahwa seluruh pantai utara Pulau Jawa dan seluruh pulau Madura diserahkan kepada VOC. Penyerahan wajib yang berupa hasil bumi diperbesar jumlahnya. Patih dan Bupati hanya dapat ditetapkan oleh Sunan bersama-sama dengan VOC. Baginda lalu menyerahkan dan memberikan persetujuan kepada Van Hogendrop untuk menghubungi pepatih Raden Tumenggung Pringgolo dan Sindurejo. Mereka meninjau sendiri daerah sekita Kartasura. Mereka melepaskan lebah di bawah sebuah pohon rindang di desa Sala, Mayor Van Hogendrop mengusulkan Sala sebagai pusat pemerintahan Kartasura. Dengan alasan apabila raja ingin mendatangkan kayu jati dari hutan selatan akan mudah karena tidak kekurangan orang juga tidak kekurangan beras yang dapat didatangkan dari Ponorogo. Tetapi kedua Patih menolak dengan alasan Sala daerahnya rendah, kalau hujan akan terendam air. Tetapi dilihat letaknya Sala berada di tepi sebuah sungai besar, strategis sekali dan mudah didatangi dari pantai bila keadaan memaksa. Akhirnya Keraton Kartasura Hadiningrat dipindahkan ke Surakarta Hadiningrat pada tahun 1748. Pada tahun 1749 Sunan Paku Buwono II sakit dan kemungkinan sehat kembali sangat kecil. Keraton Surakarta merupakan kelanjutan dari Keraton Mataram yang pada tahun 1677 padas hakekatnya telah runtuh akibat pemberontakan Trunojoyo. Berkat bantuan VOC Keraton yang telah runtuh itu dihidupkan kembali dengan aneka ragam perjanjian. Sedangkan raja-raja yang memerintah selanjutnya tidak lebih hanyalah sebuah boneka yang dikendalikan oleh Belanda. Paku Buwono II meninggal pada tanggal 20 Desember 1749 dan digantikan oleh Sunan Paku Buwono III yang memerintah dari tahun 1949 sampai dengan tahun 1788. penyerahan Keraton Surakarta kepadas VOC dan pengangkatan Paku Buwono III sebagai sunan tidak disetujui oleh Pangeran Mangkubumi. Karena bagian tanah bengkok yang milik Pangeran Mangkubumi dikurangi oleh Belanda.


Pada saat yang bersamaan di Yogyakarta Pangeran Mangkubumi dinobatkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai Sultan Yogyakarta dengan gelar Hamengkubuwono. VOC tidak mau mengakuinya. Oleh karena itu berlawanan menentang Belanda diteruskan. Sejak saat itu Keraton Surakarta Hadiningrat merupakan kelanjutan dari Mataram pecah menjadi dua. Yaitu Yogyakarta dengan Hamengku Buwono yang melawan VOC dan di Surakarta dengan Hamengku Buwono III yang menjadi antek VOC. Setelah Paku Buwono III meninggal, beliau digantikan oleh Susuhunan Paku Buwono IV dari tahun 1788 sampai dengan tahun 1820. kemudian Susuhunan Paku Buwono V menggantikannya dari tahun 1820 sampai dengan tahun 1823. selanjutnya Susuhunan Paku Buwono VI berusaha untuk melawan sehingga beliau dibuang oleh Belanda ke Ambon. Sebagai penghargaan dan rasa hormat kepada Sunan Paku Buwono VI maka pemerintah Indonesia memberi penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.


Pengganti Sunan Paku Buwono adalah Susuhunan Paku Buwono VII, salah seorang putra dari Sunan Paku Buwono IV, yang bertahta dari tahun 1830 sampai dengan tahun 1858. sebagai gantinya adalah salah seorang lagi putra dar Sunan Paku Buwono IV yang bergelar paku Buwono VIII, bertahta dari tahun 1858 sampai dengan tahun 1861. Pada tahun 1861 sampai dengan 1893 pemerintah dipegang oleh Susuhunan Paku Buwono IX. Setelah beliau meninggal digantikan oleh Paku Buwono X yang bergelar Sampeyan Dalem Ingkang Minulya Saha Ingkang Wicaksono Kanjeng Susuhunan Paku Buwono Senopati Ing Ngalolo Ngabdulrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Kaping X (Volks Almanah Djawi, 1937 : 25).

Pada saat pemerintahan Sunan Paku Buwono X, beliau menciptakan lambang keraton Kasunanan Surakata. Bentuk lambang yang diciptakan oleh Susuhunan Paku Buwono X tersebut adalah sebagai berikut :

  • Gambar Matahari di sebelah kanan – melambangkan putra dari Paku Buwono I yang bernama R.M. Gusti Suryo
  • Gambar Bulan di sebelah kiri – melambangkan putra dari Paku Buwono I yang bernama R.M. Sasongko
  • Gambar di sebelah atas – melambangkan putra dari Paku Buwono I yang bernama R.M. Gusti Sudomo
  • Gambar Bola dunia sebelah bawah yang terdapat paku pada kutup atas (GPH, Broto, 1980 : 18) – melambangkan raja Kasunanan yang bergelar Paku Buwono.


Dari keempat lambang tersebut tidak keterangan tentang keistimewaan mereka, sehingga mereka dipakai sebagai lambang. Keempat benda tersebut dapat dalam sebuah perisai yang berbentuk bulat telur yang posisinya tegak. Hal tersebut melambangkan terwujudnya kemanunggalan yang kokoh dan kuat yang terlindung dari perisai. Pada bagian atas perisai tersebut terdapat mahkota raja, di bawah pengayoman Sri Susuhunan. Di seputar perisai di lingkari oleh untaian kapas dan sewuli (Sebutir padi) hal tersebut melambangkan agar rakyatnya hidup berkecukupan, adil makmur baik sandang maupun pangan.


Lambang Keraton Kasunanan Surakarta terdapat persamaan dengan lambang-lambang negara kita yaitu Garuda. Sunan Paku Buwono X bertahta dari tahun 1893 sampai dengan 1939. kemudian pada tahun 1939 sampai dengan tahun 1945 beliau meninggal digantikan oleh Susuhunan Paku Buwono XII pada tahun 1945 sampai sekarang. Raja-raja kasunanan Surakarta sangat memperhatikan kebudayaan Jawa hingga saat ini walaupun kedudukan raja tidak seperti dulu, tetapi adat kebudayaan Jawa tetap dijaga dan dilestarikan. Hal tersebut dapat kita lihat pada setiap kirap pusaka I sura. Grebeg Mauludan dan upacar perkawinan di Keraton Kasunanan Surakarta.



Fungsi Keraton Kasunanan Surakarta
Pada waktu lampau ketika negara Sri Wijaya di Sumatra dan Majapahit di Jawa berjaya, seolah-olah merupakan mercusuar yang menjadi pandu seluruh negara-negara Asia Tenggara. Keraton merupakan pusat masyarakat dalam arti yang seluas-luasnya. Keraton merupakan pusat kegiatan politik, pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan (Santoso, 1990:3).

Bukti keraton sebagai kegiatan politik, telah tampak dengan jelas bahwa raja yang berkuasa dan pemerintah merupakan tokoh sentral dari segala kegiatan politik. Sehingga timbul kepercayaan bahwa raja adalah dewa yang menjelma di dunia. Sedangkan Keraton sebagai pusat kegiatan keagamaan, hal ini jelas terlihat pada segala kegiatan upacara keagamaan yang selalu dipusatkan di Keraton, seperti upacara Grebeg Mauludan dan Upacara sesaji menurut agama Hindu pada waktu itu. Keraton berfungsi sebagai pusat kebudayaan. Sebagian besar sumber dan pendorong timbulnya kebudayaan berasal dari Kerton, bahkan pada masa itu raja menjadi pelindung dari para hali-ahli kebudayaan yang hidup pada zamannya (Santoso 1990 :4)


Dari berbagai fungsi dan kedudukan Keraton pada masa lampau sebenarnya tidak lepas dari fungsi dan kebudayaan raja yang berhak menentukan segala sesuatu hal yang dikehendakinya. Fungsi keraton dalam masa kemerdekaan sekarang ini dalam buku DR. Soewito Santosa 1990 :5 yang berjudul Sultan Abdul Kamit Hurucakra Kalifah rasullah di Jawa berpendapat bahwa :”Kebijaksanaan Sri Susuhan PB XII dalam memberi ijin kepada kami tersebut diatas memungkinkan kembalinya Keraton kepada fungsinya yang lama, kami maksudkan fungsinya sebagai konservator adat istiadat dan penyimpanan benda-benda kebudayaan, termasuk khasanah kasustraan. Yang dimaksud dengan memberi ijin kepada kami tersebut diatas adalah memberi ijin dari Sultan PB XII kepada DR. Soewito Santoso dalam mempergunakan buku-buku yang terdapat di Sonopustoko, sebagai sumber penulisan bukunya yang berjudul Sultan Abdul Kamit Herucakra Kalifah Rasulullah di Jawa. Fungsi Keraton pada masa sekarang adalah sebagai tempat penyimpanan benda-benda kebudayaan, yang dapat mendatangkan para wisatawan melihat secara langsung tentang peninggalan benda-benda kebudayaan pada waktu itu.


Pada masa sekarang ini raja yang berkuasa di Keraton Kasunanan Surakarta mempunyai peranan dan kedudukan dalam lingkup keraton sebagai pengageng Keraton. Juga sebagai warga negara Indonesia dan tidak berhak untuk menentukan sesuatunya. Karena memegang kekuasaan pemerintahan Indonesia sekarang ini ada pada Presiden bukan pada raja. Juga fungsi Keraton sebagai pusat keagamaan. Pada masa sekarang ini tidak seperti masa lampau. Pusat kegiatan-kegiatan pada masa sekarang bernaung di bawah Departeman Agama, yang dikepalai oleh Menteri Agama.


Silsilah Raja Kasunanan Surakarta

Keraton Kasunanan Surakarta berdiri pada tahun 1745 hingga sekarang. Sejak tahun 1745 sampai sekarang Keraton Kasunanan Surakarta secara berturut-turut diperintah oleh sebelas raja Kasunanan antara lain :


  • Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhan PB II ( 1745 – 1749)
  • Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhan PB III ( 1749 – 1788)
  • Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhan PB IV ( 1788 – 1820)
  • Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhan PB V ( 1820 – 1823)
  • Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhan PB VI ( 1823 – 1830)
  • Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhan PB VII ( 1830 – 1858)
  • Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhan PB VIII ( 1858 – 1861)
  • Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhan PB IX ( 1861 – 1893)
  • Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhan PB X ( 1893 – 1939)
  • Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhan PB XI ( 1939 – 1945)
  • Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhan PB X II ( 1945 – Sekarang)

Kesimpulan
Dalam menyelesaikan karya penelitian ini penulis dapat menarik beberapa kesimpulan, diantaranya :

  • Keraton Surakarta berdiri pada tanggal 27 Februari 1945 atas prakarsa Ingkang Sinuhun Paku Buwono II, Keraton Surakarta merupakan perpindahan Keraton Kartasura yang namanya diganti menjadi Wanamarta
  • Keraton Kasunanan Surakarta telah diperintah oleh Raja Ingkang Sinuhun Paku Buwono II sampai Paku Buwono XII
  • Keraton Kasunanan Surakarta mengalami kejayaan masa perintah Ingkang Sinahun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono X
  • Museum Keraton Surakarta terdiri dari 9 ruangan yang masing-masing ruangan rerdapat benda-benda purba kala yang bersejarah
  • Keraton Surakarta dapat dikatakan sebagai sumber devisa negara dan budaya bangsa dari Jawa Tengah
Sumber Referensi Daftar Pustaka :

  1. Martana, H.S, Dkk, 1987, Ilmu Pengetahuan Sosial Bidang Sejarah, Surakarta : Tiga Serangkai.
  2. Poerwadarminta, W.J.S, 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka.
  3. Santoso, Soewito, 1990, Sultan Abdul Kamid Herucakra Kalifah Rasulullah di Jawa 1778 – 1855, Surakarta Radya Pustoko.
  4. Chusaini, Sigit, 1996, Pendidikan Agama Islam, Tarjin jakarta : PDM Majelis Dikdasmen Kotamadia Surakarta
  5. Suryatna, Tri Sunar, 1984, Sejarah berdirinya Kerajaan Surakarta Hadiningrat. Surakarta : Tiga Serangkai
  6. Soeharto, S, 1968, Diorama, Surakarta : Tiga Serangkai
  7. Wibisono, Singgih, 1980, Perpindahan Keraton Kartasura ke Surakarta, Surakarta : Radya Pustoko..

15 June 2015

Pengalaman Blogger di Keraton Kasunanan Hadiningrat Solo


Keraton Kasunanan merupakan salah satu identitas kota Solo. Dari keraton ini lah berbagai macam kegiatan budaya di Solo berasal.
Keraton Solo selain digunakan sebagai tempat tinggal Sunan alias raja juga dibuka untuk umum sebagai tempat pelancongan dengan waktu kunjungan yang agak terhad yakni mulai pukul 10 pagi hingga pukul 2 siang. Bangunan kompleks yang lazim dikunjungi di keraton ini adalah pelataran keraton yang berpasir serta museum. Keraton Solo juga punya museum yang menyimpan berbagai macam benda sejarah yang berhubungan dengan keraton Solo.


Kota Solo merupakan salah satu destinasi pelancongan di Jawa Tengah yang paling banyak dikunjungi pelancong tempatan mahupun luar negara. Salah satu yang istimewa dari Kota Solo adalah budaya jawa yang masih sangat kental di kalangan masyarakat solo. Sebagai kota yang berada dalam lingkup adat Jawa, Solo dikenal dengan masyarakatnya yang ramah dan sederhana. Hal ini membuat banyak orang luar Solo yang ingin berkunjung ke Solo dan merasakan merasakan keramah Kota Bengawan.

Sebagaimana kota-kota lain, Solo juga terus berkembang mengikuti arus kemodenan dengan pembangunan disana sini. Banyak bangunan-bangunan baru yang membuat kota Solo terlihat lebih moden.

Walau terus diserbu oleh arus kemodenan, Solo tetap punya identitas sebagai kota budaya. Pemerintah kota Solo cukup sering mengadakan event budaya untuk menunjukkan identitas asli kita Solo

Luas geografis kota Solo sendiri sebenarnya tidak terlalu luas. Kota ini hanya punya 5 kecamatan. Objek wisata yang ada di Solo pun tak terlalu banyak. Kebanyakan adalah tempat pelancongan yang bertemakan sejarah Keraton Kasunanan Hadiningrat Solo adalah salah satu bukti bahawa kebudayaan jawa masih sangat erat. Jika kalian singgah di Kota Solo, rugi bila tak berkunjung ke tempat satu ini. Kalian boleh belajar sejarah dulu di Keraton Kasunanan Hadiningrat Solo.

Keraton Solo didirikan oleh Sunan Paku Buwono II pada tahun 1744. Di dalam kawasan keraton ini banyak terdapat beberapa bahagian kompleks seperti Kompleks Alun-alun Lor/Utara, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Sitihinggil Lor/Utara, Kompleks Kamandungan Lor/Utara, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedhaton, Kompleks Kamagangan, Kompleks Srimanganti Kidul/Selatan dan Kemandungan Kidul/Selatan, serta Kompleks Sitihinggil Kidul dan Alun-alun Kidul. Kompleks Keraton Kasunanan Hadiningrat Solo ini dikelilingi sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar 3 sampai 5 meter dan tebal sekitar 1 meter tanpa anjungan.

Adalah perlu kita ketahui bila saja berkunjung ke Keraton Kasunanan Hadiningrat Solo, kita wajib mematuhi peraturan disana, misalnya tidak boleh memakai kacamata hitam dan topi, serta tidak boleh memakai celana pendek, sandal, dan jaket. Untuk harga tiket masuk ke dalam keraton sangatlah berpatutan, tiket masuknya sebesar Rp 4 ribu per orang. Dan apabila anda membawa kamera akan dikenakan bayaran tambahan sebesar Rp 2 ribu. Waktu di buka jam 08.30am – 14.00pm setiap hari isnin hingga khamis, pada hari jumaat ditutup. Sedangkan pada hari minggu(Ahad), Keraton Kasunanan Hadiningrat Solo akan buka mulai jam 08.30am – 13.00pm.

Apabila anda ingin belajar mengenai sejarah, terutama sejarah kerajaan Mataram pada zaman dulu, Keraton Kasunanan Hadiningrat Solo adalah tempat yang sangat sesuai untuk dikunjungi. Jika kita berkunjung bertepatan dengan bulan maulud atau hari kelahiran Nabi Muhammad, kalian juga dapat menikmati sebuah upacara kerajaan yang dikenal dengan nama Sekaten. Setelah berkunjung ke Keraton Kasunanan Hadiningrat Solo, semoga kalian dapat mengenal lebih dalam tentang kebudayaan jawa.
Saat menyebut kota Surakarta bagi sebagian orang yang tentunya tinggal jauh dari kota ini, terasa asing. Lain halnya saat menyebut kata Solo, orang lebih mengenal nama itu. Sebuah kota di Jawa Tengah yang kehidupan masyarakatnya yang aman damai lagi tenteram tak ada gejolak yang berarti. Kota seluas 44 km2 ini dibatasi dengan Kabupaten Karanganyar dan kabupaten Boyolali disebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan kabupaten Sukoharjo disebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo disebelah selatan. Dilewati sungai Bengawan Solo di sisi timur.

Surakarta

Surakarta adalah nama resmi pemerintah kota. Nama yang tersemat dalam pemerintahan, sekolah, dan semua pelayanan publik pemerintah. Kata Surakarta sendiri berawal dari kehendak Pakubuwono II saat mendirikan karaton yang terletak di desa Sala dengan nama resmi Negeri atau Karaton Surakarta Hadiningrat.

Solo

Solo lebih terdengar akrab, apalagi setelah nama Jokowi, walikota Solo, Gubernur DKI Jaya, yang sekarang Presiden RI sekarang ini, naik daun membuat Solo semakin di kenal. Berbagai even di kota Solo pun lebih memilih menggunakan nama Solo seperti SIPA (Solo International Performing Art), SIEM (Solo International Ethnic Music), dan masih banyak even yang menggunakan nama Solo daripada Surakarta.

Solo dikisahkan adalah sebuah desa. Desa itu bernama desa Sala yang kemudian mengalami perubahan teknik sebutan menjadilah perkataan Solo seperti bila kita menyebut kata soto. Nama Sala berasal dari nama sesepuh desa ini bernama Kyai Gede Sala yang karena jasa-jasanya diabadikan sebagai nama desa yang menjadi cikal bakal berdirinya Karaton Surakarta Hadiningrat.

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat terletak di Jl. Mangkubumen Sasono Mulyo, Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta/Solo, sebagai pertanda di depan dan belakang Keraton ada Lapangan atau Alun-alun, hingga sekarang dipakai pertanda pada umumnya pada Kantor Bupati di depannya terdapat juga Alun-alun. 

Inilah simbol dan cikal bakal kota Surakarta. Didirikan pertama kalinya padatahun 1744 oleh Sunan Paku Buwono II, Keraton Surakarta menjadi sebuah tempat yang menyimpan banyak nilai sejarah. Tahukah Anda, di keraton ini terdapat menara yang disebut Panggung Sanggabuwana. Konon, di sinilah Susuhunan bersemedi dan bertemu Nyai Rara Kidul, penguasa Pantai Selatan.


Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (https://www.flickr.com)


Tatkala mengunjungi tempat pelancongan Solo yang satu ini, Anda wajib mematuhi berbagai peraturan, seperti tidak memakai topi dan kacamata hitam, tidak bercelana pendek, tidak menggunakan sandal dan jaket.

Kita dapat meminjam kain bawahan untuk digunakan selama mengelilingi kawasan keraton jika ternyata kita sedang mengenakan celana pendek saat sampai di sana. Harga tiket masuk keraton adalah sebesar Rp 4 ribu per orang. Jika kita membawa kamera, akan dikenakan tiket tambahan Rp 2 ribu.

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Jl. Mangkubumen Sasono Mulyo, Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta
Informasi: (62) 271 641 243, 656 432
Hari/Jam Buka: Senin hingga Kamis,
Jam 09.00 – 14.00 WIB,
Jum’at tutup, Sabtu dan Minggu,
Jam 09.00 – 15.00 WIB


Kota Vastenburg

Benteng Vastenburg (http://wisata.kompasiana.com)

Kota (Benteng) Vastenburg terletak di Jl. Mayor Sumarno, Gladak, Surakarta dan dikelilingi oleh pusat kulakan kain batik khas Solo. Benteng Vastenburg yang dulu digunakan sebagai pusat pengawasan kolonial Belanda untuk mengawasi gerak-gerik Keraton Kasunanan,

Dulu bangunan ini bernama "Grootmoedigheid" dan didirikan oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pada tahun 1745. Benteng ini dahulu merupakan benteng pertahanan yang berkaitan dengan rumah Gubernur Belanda.

Benteng Vastenburg (http://www.skyscrapercity.com)

Benteng dikelilingi oleh kompleks bangunan lain yang berfungsi sebagai bangunan rumah tinggal perwira dan asrama perwira. Bentuk tembok benteng berupa bujur sangkar yang ujung-ujungnya terdapat penonjolan ruang yang disebut seleka (bastion). Di sekeliling tembok batu bata setinggi enam meter dengan konstruksi bearing wall, terdapat parit yang berfungsi sebagai perlindungan dengan jembatan di pintu depan dan belakang. Bangunan terdiri dari beberapa barak yang terpisah dengan fungsi masing-masing dalam militer. Di tengahnya terdapat lahan terbuka untuk persiapan pasukan atau apel bendera. Setelah kemerdekaan pernah berfungsi sebagai kawasan militer dan asrama bagi Brigade Infanteri 6/Trisakti Baladaya / Kostrad.

Pura (Keraton) Mangkunegaran

Pura Mangkunegaran (http://www.skyscrapercity.com)

Pura Mangkunegaran terletak di Jl. Ronggowarsito, Banjarsari, Surakarta. Bentuk pura Mangkunegaran ini layaknya keraton, namun dengan ukuran yang lebih kecil. Bangunan ini terbuat dari kayu jati utuh. Di tempat ini kita bisa melihat berbagai koleksi sejarah seperi peralatan tari, wayang, gamelan dan barang barang bersejarah lainnya.


Beranda Dalem, ruang keluarga Mangkunegaran (http://id.wikipedia.org)

Didirikan oleh Raden Mas Said yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyowo pada tahun 1757 setelah penandatanganan perundingan Salatiga pada tanggal 13 maret 1757. Selain sebagai simbol pusat budaya Jawa, didalam puro Mangkunegaran juga terdapat Museum penyimpanan benda-benda bersejarah dengan nilai seni tinggi seperti perhiasan untuk menari dari emas murni, topeng dari berbagai daerah dan gamelan. Sejak tahun 1968, Istana atau Puro Mangkunegaran dapat dikunjungi oleh umum baik untuk wisatawan Nusantara maupun wisatawan Mancanegara. Dengan ciri arsitektur yang sama dengan keraton,di dalam Istana Mangkunegaran terdapat pamedan, pendopo, pringgitan, dalem dan kaputran yang seluruhnya dikelilingi tembok-tembok kokoh. Seluruh bangunan dibangun tanpa menggunakan paku. Bangunan ini dibangun dengan tiga bagian utama yang tiap bangiannya merupakan simbol dari tiga tahap utama kehidupan : Kelahiran, Kehidupan dan Kematian.

Pura Mangkugeran
Jl. Ronggowarsito, Banjarsari, Surakarta
Informasi : (62) 271 634 467
Hari/jam buka : tiap hari pukul 09.00 – 14.00 WIB | 
Minggu / Libur 09.00 – 13.00 | 
Jumat tutup

Loji Gandrung

Loji Gandrung atau Rumah Dinas Walikota Solo (http://xrose.wordpress.com)


Loji Gandrung atau Rumah Dinas Walikota Solo terletak di Jl. Slamet Riyadi No. 261, Surakarta. Awalnya, Rumah Dinas Walikota Solo ini adalah rumah pribadi seorang pengusaha perkebunan asal Belanda, Johanes Agustinus Dezentje (1797-1839). Ia menikahi seorang wanita pribumi Raden Ayu Cokrokusumo, salah seorang kerabat Raja Susuhunan Paku Buwono IV (Sumber : Rumah Solo – Nina Tanjung).

Nama Lodji Gandrung yang disematkan pada bangunan ini karena awalnya sering digunakan untuk pesta dansa berpasangan diiringi musik layaknya pasangan yang sedang gandrung-gegandrungan (baca : jatuh cinta).


Teras Loji Gandrung dengan Kursi Antik (http://plezierku.wordpress.com)

Pada masa-masa setelah kemerdekaan, bagunan ini digunakan sebagai Markas Militer Brigade V Slamet Riyadi. Tak hanya itu, Lodji yang terletak di jantung Kota Solo ini juga menjadi saksi saat Jendral Gatot Soebroto melakukan perundingan guna menyusun taktik untuk menyerang Belanda yang membonceng NICA pada 1948-1949 untuk merebut kembali daerah kekuasaannya. Untuk mengenang jasa Jenderal Gatot Subroto, tepat di halaman depan Lodjie Gandrung masih terpasang patung Jenderal Gatot Subroto. Satu kamar khusus Lodjie Gandrung diberi nama Kamar Sukarno, untuk mengenang Presiden Sukarno saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Solo pada tahun 1961. Tapi sayang, ruangan ini tak diperbolehkan untuk mengambil gambar.

Sampai saat ini bentuk bangunan utama Loji Gandrung tidak berubah sama sekali, hanya bagian belakangnya saja yang ditambahi joglo. Loji Gandrung juga termasuk dalam bangunan cagar budaya yang dilindungi.

Loji Gandrung atau Rumah Dinas Walikota Solo
Jl. Slamet Riyadi No. 261, Surakarta

Museum Radyapustaka


Museum Radyapustaka (http://surakarta.go.id)


Museum Radyapustaka terletak di Komplek Taman Sriwedari, Jl. Slamet Riyadi, Surakarta, merupakan museum tertua ini didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IX oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV di dalem Kepatihan pada tanggal 28 Oktober 1890. Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pernah menjabat sebagai Patih Pakubuwono IX dan Pakubuwono X. Museum ini lalu dipindahkan ke lokasinya sekarang ini, Gedung Museum Radyapustaka di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, pada 1 Januari 1913.


Museum Radyapustaka (http://bisniswisata.co)


Kala itu gedung muzium merupakan rumah kediaman seorang warga Belanda bernama Johannes Busselaar. Muzium ini terkenal dengan beragam koleksi peninggalan budaya Jawa seperti wayang kulit, wayang golek, keris, arca Hindu dan Budha, buku Jawa kuno sebanyak 2500 yang ditulis oleh Ronggowarsito dan Yosodipuro (seorang pengarang besar dari Jawa). Muzium yang sebelumnya digunakan sebagai pusat studi Jawa ini terletak di taman Sriwedari.

radya pustaka

Mungkin tidak banyak tahu kalau museum Radya Pustaka adalah museum paling tua yang ada di Indonesia. Dengan status itu maka berkunjung ke Radya Pustaka akan menjadi pengalaman yang sangat asik
Museum Radya Pustaka sendiri berada di jalan utama kota Solo, jl. Slamet Riyadi. Museum ini menyimpan berbagai benda-benda sejarah dan juga benda-benda budaya. Selain koleksi arca yang juga sempat heboh beberapa waktu silam, museum Radya Pustaka juga memiliki koleksi lain seperti wayang, gamelan jawa serta ukiran-ukiran khas Jawa.
patung Ronggowarsito di halaman depan Museum Radya Pustaka
patung Ronggowarsito di halaman depan Museum Radya Pustaka

Museum Radya Pustaka awal mulanya didirikan pada tahun 1890 di nDalem Kepatihan oleh Kanjeng Adipati Sosroningrat IV, namun pada tahun 1913 lokasinya dipindah ke Loji Kadipolo. Bekas kediaman Johannes Busselaar yang terletak di Jalan Slamet Riyadi ini memiliki koleksi bersejarah yang tak terhitung nilai historisnya. Batu bertulis, lingga dan yoni, serta arca dewa-dewi agama Hindu yang berumur ratusan tahun diletakkan di beranda museum. Perabot antik dan puluhan wayang kulit kuno yang tersusun rapi di etalase kaca ikut menghiasi bagian depan museum.

Di tengah bangunan terdapat beberapa kamar berukuran cukup besar yang setiap ruang diisi oleh koleksi keris, porselen, guci dan kristal antik sampai manuscript dari abad 17 hingga 19. Koleksi perpustakaan Radya Pustaka terdiri dari Jawa Carik ( tulis tangan ), Babad Mataram, Kawruh Empu ( buku tentang keris ), hingga buku-buku Belanda seperti De Java – Oorlog Van 1825 – 1830, Pararaton ( Ken Arok ) dan naskah kuno lain yang masih terawat dengan baik.


Di bagian tengah bangunan pengunjung disambut oleh seperangkat gamelan kuno yang jangan ditanya lagi nilainya. Gamelan kuno ini sering diincar oleh banyak kolektor tidak bertanggung jawab. Satu set gamelan lengkap tersebut diletakkan di atas panggung setinggi setengah meter. Jangan lupa juga untuk melihat lebih dekat sosok kepala Kiai Rajamala berukuran besar di sebelah barat. Hiasan ( canthik ) kapal yang terbuat dari pohon jati hutan Donoloyo tersebut sudah ada sejak tahun 1811 zaman pemerintahan Paku Buwono IV. Kiai Rajamala yang berwajah garang warna merah ini masih rutin diberi sesajen, jadi bagi yang memiliki indera khusus diharapkan menutup mata batinnya terlebih dahulu.

Muzium Radyapustaka
Komplek Taman Sriwedari, Jl. Slamet Riyadi, Surakarta
Informasi : (62) 271 712 306
Hari/jam buka : Setiap hari pukul 08.00 – 13.00 WIB | 

Jumaat 08.00 – 11.00 | 
Isnin tutup 

Mudah-mudahan jadi panduan bagi kalian untuk kunjungi kota solo yang penuh bersejarah ini.

# credit kepada bloger-bloger lain yg pernah berkunjung moga Allah balas kebaikan kalian

11 June 2015

Gelar Kebangsawanan Dalam Tradisi Istana-Istana Di Jawa


Pura Pakualaman Palace

Gelar Kebangsawanan : Part 1


Saya merasa perlu untuk membincangkan, mengapa gelar kebangsawanan dalam tradisi istana-istana di Jawa demikian kompleks, dan seringkali "bias"? Inggris saja yang tradisi kebangsawanannya sudah berjalan sekian ratus tahun tidak kenal dengan sistem gelar yang demikian njelimet dan "gak hemat" seperti yang berlaku di Jawa. Oke. Saya harap, Anda semua sepakat bahwa kebudayaan bukan barang mati. Dia tidak statis. Dia selalu punya ruang untuk dimodifikasi, disesuai-ubahkan, dibongkar pasang, dan sebagainya. Terkait dengan konteks tersebut, kebudayaan Jawa yang kita lihat dan kenali di masa ini, merupakan bagian yang tidak mungkin bisa dipisahkan dari rentang waktu yang sangat panjang sejak era, sebut saja, Jawa Kuna. Sebagai sampel dari masa itu, saya akan gunakan Majapahit.

Kalau Anda pernah membaca buku-buku tentang sejarah terkait Majapahit, tentunya Anda bisa menangkap sebuah kesan bahwa di masa itu, gelar-gelar kebangsawanan masih sangat sederhana dan tidak serumit saat ini di Jawa. Di zaman Majapahit, bagi raja, permaisuri, dan mungkin beberapa keluarga terdekatnya, lumrahnya punya nama yang cukup panjang. Sekali lagi, punya NAMA yang cukup panjang. Akan tetapi, GELAR mereka sangatlah singkat. Untuk raja, misalnya, cukup dengan "Sri" saja, lalu dilanjutkan dengan nama resmi atau kenegaraannya yang biasanya memang cukup panjang. Wijaya, yang dipercaya sebagai founding father Majapahit, sebelum menjadi raja, cukup disebut dengan "Raden" Wijaya. Singkat dan padat bukan?? Coba bandingkan dengan aturan gelar di kalangan keluarga kerajaan Jawa saat ini, wih... Pusing lah Anda kalau sebelumnya Anda gak pernah baca atau bersentuhan dengan ini. Sudah banyak sekali macam gelarnya, rumit dan berlapis kategorisasinya, panjang, dan terkadang kurang jelas juga peruntukannya. Wajar kalau kemudian yang jelas-jelas punya darah bangsawan dan punya gelar di belakang namanya pun suka gak ngerti, dan kadang-kadang gak mau ngerti, dengan aturan gelar ini. Karena ya itu, RIBET, hehehehe...

Dari sekian banyak macam gelar yang "terbawa" hingga di zaman sekarang, yang masih bertahan adalah "Raden". Ya. Gelar ini menurut beberapa sumber tentang era Jawa Kuna yang pernah saya baca memang termasuk gelar lama. Berdasarkan etimologinya, "Raden" terjadi dari gabungan kata-kata "Ra" (berarti raja), dan "(H)adi" (yang berarti adik), ditambah akhiran "-an". Dari gabungan kata-kata tersebut lalu dirunutlah bentukan-bentukannya sebagai berikut; "Rahadian", "Rahadyan", "Rahaden", "Raden", yang bermakna literal adik raja, atau maksudnya secara bebas kira-kira adalah individu yang memiliki pertalian darah dengan raja.

Seiring berjalannya waktu, Jawa secara silih berganti dikuasai oleh dinasti-dinasti yang beberapa diantaranya tidak memiliki keterkaitan genealogis satu sama lain. Mataram Islam, misalnya. Dinasti yang pertama kali dicanangkan oleh Panembahan Senapati di antara abad XV-XVI ini sebenarnya tidak memiliki keterkaitan genealogis dengan dinasti-dinasti pendahulunya. Namun, masyarakat Jawa tradisional, terutama golongan tuanya hingga masa sekarang, sangat percaya bahwa Mataram Islam merupakan kelanjutan tak berputus dari Majapahit. Informasi tertulis mengenai ini dapat dibaca pada Babad Tanah Jawi. Sedikit yang paham dan lalu "curiga" bahwa asal-usul historis dan genealogis yang demikian spektakuler dari raja-raja Mataram Islam seperti yang dituturkan dalam Babad Tanah Jawi, yang tak jarang juga melibatkan tokoh-tokoh mitos masyarakat lokal, merupakan sarana legitimasi dari para raja Mataram Islam untuk mendapatkan kepercayaan dan simpati masyarakat. Babad Tanah Jawi adalah karya sastra sejarah. Teks tersebut tidaklah ditulis untuk mendokumentasikan peristiwa-peristiwa sejarah an sich. Ia adalah alat politis. Dibuat untuk kepentingan melanggengkan kuasa raja-raja dinasti Mataram Islam.

Kembali pada permasalahan, setidaknya, awal dari fenomena pemakaian gelar rangkap terjadi, atau mulai ada di zaman menjelang bertahtanya Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di era ini, gelar putra-putra raja mulai mengalami perangkapan dengan penggabungan dua gelar sekaligus yaitu "Raden" dan "Mas", menjadi "Raden Mas". Sementara, gelar putri-putri raja mengalami pembedaan untuk menunjukkan status pernikahannya, yaitu "Raden Ajeng" bagi putri-putri yang belum menikah, dan "Raden Ayu" bagi putri-putri yang sudah menikah. Dalam perjalanan selanjutnya, terjadinya kontak dengan bangsa asing, terutama Eropa (Belanda, Inggris, Perancis), memberi pengaruh pula pada perkembangan sistem gelar dalam tradisi istana-istana di Jawa. Saat itu, mulai ada semacam, katakanlah, "ketidakpuasan" di kalangan istana tentang betapa "sederhananya" sistem gelar mereka. Oleh karena itu, mulailah digunakan gelar-gelar seperti "Gusti", "Kan(g)jeng", "Bendara", dan sebagainya.

Kini, di era yang super-merdeka ini, ternyata gelar kebangsawanan di kalangan istana-istana di Jawa ternyata masih mengalami perkembangan. Perkembangan sistem gelar di kalangan istana-istana di Jawa yang paling "dahsyat" adalah yang terjadi di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo. Kenyataan tersebut dapat difahami bahawa sudah menjadi pengetahuan umum bahwa keraton ini-lah yang paling "rajin" memberikan anugerah berupa gelar kebangsawanan, tidak hanya kepada para kerabatnya, melainkan sampai kepada tokoh elit politik, pengacara, pejabat pemerintahan daerah dan pusat, para pengusaha, tokoh-tokoh masyarakat daerah dan pusat, sampai kepada bangsa Tionghoa dan artis. Dengan kian banyaknya pihak yang diberi anugerah berupa gelar kebangsawanan, tentunya Keraton Solo kemudian "dituntut" untuk "kreatif" dalam mengembangkan sistem dan aturan gelar yang ada agar dapat "sesuai" dengan individu penerima gelar tersebut.

CATURSAGOTRA

Di atas saya sudah memberi contoh tentang "hiruk-pikuk" urusan gelar kebangsawanan di Keraton Kasunanan, Solo. Lalu bagaimana dengan istana lainnya?? Oke, sabar dulu... Ini akan jadi penjelasan yang cukup panjang dan rumit. Saya akan coba meringkas dan menyederhanakannya semampu saya, deh...


Pura Mangkunagaran Palace

Sampai hari ini, di Jawa Tengah, yaitu Solo dan Jogja, terdapat empat bekas pusat pemerintahan. Terdiri atas dua kerajaan, dan dua kadipaten. Solo, punya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pimpinan tertingginya adalah raja dengan gelar "Susuhunan" atau "Sunan" dan nama "Pakoe Boewono". Selain itu, di kota yang sama, berdiri pula Pura Mangkunagaran. Mangkunagaran bukan keraton yang bermakna "kerajaan" (ka-/ke- + ratu + -an = karaton/keraton; "ratu" = raja) dengan pimpinan tertinggi seorang raja. Mangkunagaran adalah sebuah kadipaten (ka- + adipati + -an; "adipati" = adik raja atau penguasa tertinggi) yang dipimpin oleh seorang Pangeran Adipati bergelar "Kan(g)jeng Gusti Pangeran Adipati Arya" dan nama "Mangkoenagoro". Meski sama-sama punya daerah kekuasaan dan kewenangan mengatur daerah kekuasaannya, dalam beberapa segi, Mangkunagaran sebagai sebuah kadipaten, memiliki keterbatasanprivilege jika dibandingkan dengan keraton.

Di Jogja, situasinya pun sama. Jogja punya Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pimpinan tertingginya adalah raja dengan gelar "Sultan" dan nama "Hamengku Buwono". Di kota ini pula berdiri sebuah kadipaten yang kegiatan tata pemerintahannya dipusatkan di Pura Pakualaman. Pakualaman juga sama dengan Mangkunagaran, dipimpin oleh seorang Pangeran Adipati bergelar "Kan(g)jeng Gusti Pangeran Adipati Arya" dan nama "Paku Alam".



Pura Pakualaman Palace

Keempat pusat pemerintahan tradisional Jawa ini sering disebut Catursagotra yang berarti "empat yang menjadi satu", atau "empat yang berasal dari satu". Istilah tersebut tepat kiranya jika kita kaitkan dengan kenyataan bahwa keempatnya berasal dari induk dinasti yang sama, yaitu Mataram Islam, sebelum akhirnya terpecahbelah. Bagaimana? Bingung? 

Oke, saya jelaskan. 

Pakoe Boewono II dan Hamengku Buwono I adalah adik beradik satu ayah, berlainan ibu. Ayah mereka adalah Susuhunan Mangku Rat IV, yang merupakan raja ke-8 dalam dinasti Mataram Islam, dan bertahta di Keraton Kartasura. Mangkoenagoro I adalah cucu Sunan Mangku Rat IV. Ayahnya adalah Pangeran Mangkoenagoro, yang merupakan putra sulung Sunan Mangku Rat IV, kakak tertua dari Pakoe Boewono II dan Hamengku Buwono I. Paku Alam I adalah putra Hamengku Buwono I. Dengan demikian, Pangeran Mangkoenagoro, Pakoe Boewono II, dan Hamengku Buwono I adalah kakak-adik, putra-putraSunan Mangku Rat IV. Sedangkan, Mangkoenagoro I dan Paku Alam I adalah cucu-cucu Sunan Mangku Rat IV. Keduanya, bersepupu.


Fiuuuhh...!! Bagaimana?? Pusing? Mual? Hahahaha... Jangan dulu ah, perjalanan masih jauh.

Tahun 1755, terjadi Perjanjian Giyanti, yang melibatkan Sunan Pakoe Boewono III dan Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I sebelum menjadi raja), yang akhirnya membagi Mataram dalam dua bagian besar, yaitu Surakarta di bawah Sunan Pakoe Boewono, dan Jogjakarta di bawah Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Dua tahun sesudahnya, yaitu pada tahun 1757, Mataram yang sudah terbagi dua, dibagi lagi menjadi tiga dalam Perjanjian Salatiga. Perjanjian tersebut menyepakati bahwa Sunan Pakoe Boewono III merelakan sebagian wilayahnya untuk masuk ke dalam otorita Kadipaten Mangkunagaran yang dipimpin oleh Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa yang kemudian bergelar Kan(g)jeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro I. Di sekitar tahun 1811-1812-an, saat Inggris berkuasa di tanah air, Jogja mengalami pergolakan politik. Pergolakan tersebut kemudian memegang andil besar dalam lahirnya Kadipaten Pakualaman di bawah kepemimpinan Pangeran Natakusuma yang kemudian bergelar Kan(g)jeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I. Setelah tahun 1878, barulah gelar Paku Alam I ditambah dengan "Arya" sehingga lengkapnya menjadi Kan(g)jeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I.

Nah, sampai di sini, saya beri kesempatan buat Anda yang membaca unggahan saya ini untuk memahami, meresapi, dan melakukan penghayatan penuh, hehehehe... Saya akan sambung kembali nanti dengan gelar-gelar kebangsawanan yang berlaku di keraton-keraton dan kadipaten-kadipaten tersebut. So, take your time, dan kita ketemu lagi, SEGERA!



Gelar Kebangsawanan Dalam Tradisi Istana-Istana Di Jawa: Part 2



SURAKARTA HADININGRAT



Kalau mungkin Anda membaca dan ingat dengan bagian pertama dari tulisan ini, tentunya anda sudah bisa menyimpulkan sendiri bahwa Dinasti Pakoe Boewono merupakan dinasti tertua di antara keempat dinasti yang ada di Solo dan Jogja sebagai kelanjutan tak berputus dari Mataram Islam. Meski Mataram sendiri, ketika masih menjadi satu, beberapa kali mengalami perpindahan lokasi pusat pemerintahan termasuk istananya, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang hingga kini fisiknya masih bisa Anda saksikan di pusat kota Solo, adalah saksi bisu yang sempat mengalami Mataram Islam yang satu di bawah Susuhunan Pakoe Boewono II, dan kemudian, beberapa saat menjelang Perjanjian Giyanti, Susuhunan Pakoe Boewono III. Oleh karena itu, raja-raja beserta keturunan dan kerabatnya kerap menyebut Susuhunan Pakoe Boewono sebagai "Raja Diraja", yang mengandung makna "raja besar/agung", atau "raja di atas segala raja". Secara tidak langsung, istilah tersebut merupakan bentuk pengakuan ketiga dinasti lain yang ada di Solo dan Jogja pada senioritas Dinasti Pakoe Boewono.

Berbicara sistem gelar yang berlaku di Keraton Kasunanan, bagi saya, agak rumit. Sekian banyak sumber, baik lisan maupun tertulis yang saya temui dan baca, memberi keterangan yang agak berbeda-beda. Ditambah "kebiasaan" Keraton Kasunanan dalam memberikan anugerah gelar yang relatif konsisten, membuat bermunculannya gelar-gelar baru yang dahulu tidak dikenal. Tetapi, saya cuba menyajikan apa yang saya ketahui.

Gelar Bagi Laki-laki


Pingat gelar bagi laki Raden Tumenggung(RT)

Gelar Resmi Susuhunan :

Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (S.I.S.K.S) Pakoe Boewono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang Jumeneng Kaping ... (lalu angka urutan bertahta)


Namun, ada pula variasi lain dari gelar resmi Susuhunan yaitu:
Sahandhap Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakoe Boewono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang Jumeneng Kaping ... (lalu angka urutan bertahta)


Pada zaman Susuhunan Pakoe Boewono X, gelar resmi Susuhunan ditambah atas prakarsa beliau sendiri dan digunakan hanya untuk beliau yaitu:


Susuhunan Pakoe Boewono X

Susuhunan Pakoe Boewono X (dok.pribadi)
Sampeyan Dalem Ingkang Minulya Saha Wicaksana Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakoe Boewono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang 


Jumeneng Kaping X (sedasa, Jw. = sepuluh).
Dalam penyebutan, Susuhunan disebut Ingkang Sinuwunatau Sinuwun. Dengan penyebutan itu, bagi mereka yang paham konteksnya, pastilah secara langsung merujuk pada Susuhunan.

Gelar Resmi Bagi Putra Susuhunan:
G.R.M. = Gusti Raden Mas, diberikan langsung kepada putra-putra Susuhunan saat lahir, diikuti dengan nama kecil atau asma timur-nya. Dahulu, gelar ini hanya diberikan untuk putra-putra Susuhunan yang lahir dari Permaisuri. Akan tetapi, sejak masa pemerintahan Susuhunan Pakoe Boewono X, pembedaan gelar antara putra-putra Susuhunan yang lahir dari Permaisuri dan Selir, dihapuskan. Dahulu dikenal pula gelar R.M.G. = Raden Mas Gusti, yang diberikan kepada putra Susuhunan yang tertua dari Permaisuri.

G.P.H. = Gusti Pangeran Harya, diberikan kepada putra-putra Susuhunan yang telah beranjak remaja/dewasa. Dengan gelar ini, seorang putra Susuhunan sudah menjadi "Pangeran Junior" dan biasanya sudah dilibatkan dalam urusan istana dengan tanggungjawab tertentu.



 Kangjeng Gusti Pangeran Harya Puger (KGPH)

K.G.P.H. = Kangjeng Gusti Pangeran Harya, gelar kehormatan yang diberikan kepada putra-putra Susuhunan yang tidak saja dianggap senior secara usia, namun juga kemampuan, dan kinerjanya. Gelar ini merupakan gelar "Pangeran Senior" yang umumnya menempatkan putra Susuhunan yang menyandangnya pada posisi yang cukup tinggi dalam protokoler keraton, kekerabatan secara umum, maupun hal-hal lain yang ada kaitannya dengan keraton.

K.G.P.Ad.Anom = Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom, gelar yang diberikan kepada putra Susuhunan yang merupakan putra mahkota atau Pangeran Pati. Gelar ini biasanya diikuti dengan nama Hamangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra Ing Mataram.

K.G.Pnb. = Kangjeng Gusti Panembahan, gelar kehormatan tertinggi yang diberikan kepada putra-putra Susuhunan yang dianggap layak menyandangnya karena pertimbangan-pertimbangan pribadi Susuhunan. Dalam posisi sebagai "Panembahan", seorang putra Susuhunan yang menyandangnya, berada di posisi yang sangat dekat dengan Susuhunan secara hirarkis.

Gelar Resmi Bagi Cucu Laki-laki Susuhunan


B.R.M. = Bandara Raden Mas
, gelar bagi cucu Susuhunan yang secara otomatis diberikan ketika lahir.
Catatan: Sebelum masa pemerintahan Susuhunan Pakoe Boewono X, gelar B.R.M. diberikan kepada putra-putra Susuhunan yang lahir dari selir. Putra tertua dari selir diberi gelar B.R.M.G. = Bandara Raden Mas Gusti. Untuk para cucu laki-laki Susuhunan, gelar B.R.M. hanya diberikan kepada mereka yang orangtuanya adalah seorang Gusti, atau merupakan putra Susuhunan dari Permaisuri. Namun, Susuhunan Pakoe Boewono X menghapus peraturan tersebut dan memperkenankan keturunan generasi kedua (cucu) untuk menggunakan gelar B.R.M. tanpa terkecuali.

B.K.P.H. = Bandara Kangjeng Pangeran Harya, gelar ini dahulu diberikan kepada putra Susuhunan dari Selir yang telah diwisuda menjadi Pangeran. Namun, kini gelar tersebut sudah tidak lagi dikenal.

K.R.M.H. = Kangjeng Raden Mas Harya, gelar kehormatan bagi cucu Susuhunan atau generasi-generasi dibawahnya yang dianggap telah dewasa dan mampu turut bekerja/berkontribusi untuk Keraton, atau dianggap berjasa bagi Keraton.

K.P.H. = Kangjeng Pangeran Harya, gelar kehormatan bagi cucu Susuhunan yang lahir dari seorang Pangeran senior. Akan tetapi, dalam banyak kasus tertentu, gelar ini juga diberikan kepada putra-putra Pangeran lainnya, atau kepada putra tertua dari putra atau putri Susuhunan sesuai kehendak dan pertimbangan pribadi Susuhunan.

Gelar Resmi Bagi Cicit Laki-laki Susuhunan dan Generasi Dibawahnya


R.M. = Raden Mas
, gelar bagi cicit laki-laki Susuhunan hingga satu generasi dibawahnya.

R.B. = Raden Bagus, gelar bagi keturunan keenam dari Susuhunan (cucu dari cicit Susuhunan) hingga berusia kira-kira 15 tahun. Sesudah itu, atau jika sebelum usia 15 tahun sudah menikah, maka gelarnya menjadi R. = Raden.

Gelar-Gelar Khusus Bersifat Kepangkatan Bagi Laki-laki:


K. Pnb. = Kangjeng Panembahan
, diberikan kepada kerabat/non-kerabat Susuhunan yang dianggap berjasa besar, baik kepada Susuhunan maupun Keraton. Sampai dengan hari ini, golongan non-kerabat yang menerima gelar kehormatan tertinggi ini adalah Almarhum Go Tik Swan (etnis Tionghoa, tokoh maestro batik, spiritualis, berdiam di Solo), yang setelah dianugerahi gelar tersebut oleh Susuhunan Pakoe Boewono XII namanya diubah menjadi Kangjeng Panembahan Hardjonagoro.

K.P. = Kangjeng Pangeran, gelar kehormatan yang diberikan kepada kerabat/non-kerabat yang dianggap berjasa besar kepada Keraton. Gelar ini juga diberikan kepada menantu laki-laki Susuhunan.

K.P.H. = Kangjeng Pangeran Harya, gelar kehormatan bagi kerabat/non-kerabat yang dianggap berjasa besar kepada Keraton.

K.R.Ad. = Kangjeng Raden Adipati, gelar bagi Pepatih Dalem atau semacam Perdana Menteri, pelaksana pemerintahan negara. Seorang pensiunan Patih, dapat saja menerima gelar kehormatan seperti K.P.H. atau K.P., tergantung pada perkenan Susuhunan.

K.R.M.T.H. = Kangjeng Raden Mas Tumenggung Harya, gelar kepangkatan tingkat menengah atas bagi kerabat/non-kerabat yang masih memiliki darah bangsawan dan bergelar lahir R.M.

K.R.M.T. = Kangjeng Raden Mas Tumenggung, gelar kepangkatan tingkat menengah atas bagi kerabat/non-kerabat yang masih memiliki darah bangsawan dan bergelar lahir R.M.

K.R.T.H. = Kangjeng Raden Tumenggung Harya, gelar kepangkatan tingkat menengah atas bagi kerabat/non-kerabat yang masih memiliki darah bangsawan dan bergelar lahir R.

K.R.T. = Kangjeng Raden Tumenggung, gelar kepangkatan tingkat menengah atas bagi kerabat/non-kerabat yang masih memiliki darah bangsawan dan bergelar lahir R.

K.R.H.T. = Kangjeng Raden Harya Tumenggung, hingga saat ini saya masih belum paham dengan posisi kepangkatan dari gelar ini. Apakah sama dengan gelar-gelar semacamnya yang telah disebutkan di atas, atau ada perbedaan? Yang jelas, gelar ini dikenal di kalangan Keraton Kasunanan Surakarta.

K.R.H. = Kangjeng Raden Harya, gelar kepangkatan menengah bagi kerabat/non-kerabat yang telah bergelar R. Jika yang bersangkutan tidak memiliki garis keturunan bangsawan, maka menjadi K.R.A. = Kangjeng Raden Arya. Baru-baru ini juga saya lihat ada seseorang bergelar K.R.M.A. = Kangjeng Raden Mas Arya. Apakah ini sama dengan K.R.M.H. di atas, namun kasusnya beliau tidak bergaris keturunan bangsawan, saya kurang paham.


R.T. = Raden Tumenggung, semacam gelar kepangkatan menengah yang berada setingkat di bawah K.R.T. (Pangkat yang diterima oleh penulis blogger)



Raden Tumenggung(RT) Dato Rosli Zakaria bersama KGPH Puger,BA.

K.R.M.P. = Kangjeng Raden Mas Panji, gelar kepangkatan bagi kerabat Susuhunan. Saya agak kurang paham hirarki kepangkatannya, tetapi biasanya istilah "Panji" terkait dengan pekerjaan di bidang keprajuritan.

R.M.P. = Raden Mas Panji, sama dengan K.R.M.P.

R.M.Ng. = Raden Mas Ngabehi, gelar kepangkatan tingkat menengah bagi kerabat/non-kerabat yang masih berdarah bangsawan dan bergelar lahir R.M.

R.Ng. = Raden Ngabehi, gelar kepangkatan tingkat menengah bagi kerabat/non-kerabat yang masih berdarah bangsawan dan bergelar lahir R.

Gelar kepangkatan seperti tersebut di atas, juga berlaku bagi penerima gelar yang sama sekali tidak memiliki darah bangsawan. Bagi kasus semacam ini, maka R yang merupakan singkatan dari Raden, diganti menjadi M yang merupakan singkatan dari Mas. Contoh: M.Ng. = Mas Ngabehi; K.M.T. = Kangjeng Mas Tumenggung. Akan tetapi, umumnya, mereka yang bergelar Mas, tidak dapat naik hingga menjadi Pangeran. 

Gelar Bagi Perempuan 


Gelar Resmi Permaisuri Susuhunan


G.K.R. = Gusti Kangjeng Ratu
, gelar ini biasanya diikuti dengan nama-nama seperti Kencana, Hemas, atau Pakoe Boewono. Gelar G.K.R. juga diberikan kepada putri Susuhunan yang sudah menikah dan terlahir dari Permaisuri. Sebagian ada yang berpendapat bahwa gelar ini hanya diberikan kepada putri sulung Susuhunan dari Permaisuri. Akan tetapi, pada masa sekarang, hampir seluruh putri-putri Susuhunan Pakoe Boewono XII dianugerahi gelar ini.
Catatan: Dahulu dikenal pula gelar K.R. = Kangjeng Ratu yang juga diberikan pada Permaisuri Susuhunan dan putri tertua Susuhunan dari Selir. Namun, kini gelar tersebut sudah tidak lagi digunakan.

Gelar Resmi Bagi Putri Susuhunan 


G.R.Aj. = Gusti Raden Ajeng
, gelar ini diberikan kepada para putri Susuhunan yang lahir dari Permaisuri. Namun, sejak bertahtanya Susuhunan Pakoe Boewono X, pembedaan gelar bagi putri-putri yang lahir dari Permaisuri dan Selir Susuhunan, dihapuskan.

G.R.Ay. = Gusti Raden Ayu, gelar ini diberikan kepada para putri Susuhunan yang telah menikah dan lahir dari Permaisuri. Ketika seorang putri Susuhunan menikah dan menyandang gelar G.R.Ay., biasanya nama lahirnya hilang dan mengikuti nama suaminya. Atau, nama lahirnya tetap dipertahankan, namun di belakang disertai dengan nama suami.

Gelar Resmi Bagi Cucu Perempuan Susuhunan


B.R.Aj. = Bandara Raden Ajeng
, gelar ini diberikan kepada para cucu perempuan Susuhunan.
Catatan: Sebelum masa Susuhunan Pakoe Boewono X, gelar ini juga diberikan kepada putri-putri Susuhunan yang lahir dari Selir. Bagi putri tertua Susuhunan dari Selir diberi gelar B.R.Aj.G. = Bandara Raden Ajeng Gusti. Sesudah Susuhunan Pakoe Boewono X bertahta, gelar bagi para putri dan putra diberlakukan sama baik bagi putra-putri Susuhunan dari Permaisuri maupun Selir.

B.R.Ay. = Bandara Raden Ayu, gelar ini diberikan kepada para cucu perempuan Susuhunan yang telah menikah. Selain itu, gelar ini juga diperuntukkan bagi Selir Susuhunan yang masih berdarah bangsawan.

Gelar Resmi Cicit Perempuan Susuhunan dan Generasi Dibawahnya


R.Aj. = Raden Ajeng, atau juga sering disingkat R.A., diberikan kepada cicit perempuan Susuhunan hingga satu generasi dibawahnya.

R.Ay. = Raden Ayu, diberikan kepada cicit perempuan Susuhunan dan satu generasi dibawahnya yang telah menikah. Gelar Raden Ayujuga diberikan kepada Selir Susuhunan, dan istri para Pangeran putra Susuhunan.

R.Rr. = Raden Rara, diberikan kepada keturunan keenam Susuhunan (cucu dari cicit Susuhunan), dan generasi-generasi dibawahnya tanpa putus. Apabila telah menikah maka gelarnya menjadi R.Ngt. = Raden Nganten.

Gelar-Gelar Khusus Bersifat Kepangkatan Bagi Perempuan:


K.R.Ay.Ad. = Kangjeng Raden Ayu Adipati
, merupakan gelar tertinggi bagi kerabat/non-kerabat perempuan. Dahulu, gelar ini diberikan kepada Patih Putri di Keraton Kasunanan Surakarta yang bertugas membawahi urusan internal dan rumahtangga pribadi Susuhunan. Saat ini, tokoh yang mendapat kehormatan gelar ini adalah Mantan Menteri Sosial Ibu Nani Soedarsono (K.R.Ay.Ad. Sedhahmirah), dan perancang busana Poppy Darsono (K.R.Ay.Ad. Kusumaningrum).

K.R.Ay. = Kangjeng Raden Ayu, gelar kehormatan bagi cucu perempuan Susuhunan dan generasi-generasi dibawahnya yang dianggap berjasa bagi Keraton. Gelar ini juga diberikan kepada Permaisuri putra mahkota, dan kerabat Keraton (perempuan) lainnya yang dianggap berjasa.

Bagi para perempuan yang tidak memiliki garis keturunan bangsawan, saat ini dikenal gelar-gelar seperti:


K.M.Ay. = Kangjeng Mas Ayu; 

K.M.Ay.T. = Kangjeng Mas Ayu Tumenggung (setingkat bupati sepuh atau golongan kepangkatan menengah atas); 
Nimas Ayu Tumenggung.

Dahulu, para Selir Susuhunan juga memiliki gelar-gelar seperti:


K.B.R.Ay = Kangjeng Bandara Raden Ayu (menurut sumber yang pernah saya baca, gelar ini adalah untuk Selir Susuhunan yang menjadi lurah Ampeyan Dalem atau semacam "koordinator" bagi para Selir Susuhunan di masa lampau); 

M.Aj. = Mas Ajeng; 
M.Ay. = Mas Ayu.
Pingat gelar bagi laki K.R.T.H. = Kangjeng Raden Tumenggung Harya

Gelar Kebangsawanan Dalam Tradisi Istana-Istana Di Jawa: Part 3


KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT

Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri sebagai hasil dari Perjanjian Giyanti (1755) yang telah saya uraikan dalam bagian terdahulu dari unggahan saya. Raja pertamanya adalah yang semula bergelar Pangeran Mangkubumi, putra Susuhunan Mangku Rat IV dari Selir beliau, B.M.Ay. Tejawati. Sekadar agar Anda tahu saja, terjadinya Perjanjian Giyanti yang juga sering diistilahkan sebagai peristiwa palihan nagari atau pembagian negara itu, bukan tanpa latar belakang.

Dalam beberapa sumber sejarah yang pernah saya baca, Pangeran Mangkubumi semula adalah pendukung setia Susuhunan Pakoe Boewono II yang tak lain adalah kakak beliau dari ibu yang berbeda (ibu Susuhunan Pakoe Boewono II adalah Permaisuri Susuhunan Mangku Rat IV yang bernama G.K.R. Ageng). Beliau senantiasa membela kepentingan negara dan menjaga kewibawaan sang kakak. Ketika itu, Mataram dilanda berbagai pertikaian yang bersumber pada kekurangtegasan sikap Susuhunan Pakoe Boewono II. Dalam diri beliau ada semacam dualitas kesetiaan, antara kepada Belanda yang pada masa itu telah sangat jauh campur tangannya dalam urusan internal istana, dan kesadaran beliau sendiri bahwa kedaulatannya sebagai penguasa besar telah terdegradasi oleh masuknya Belanda sampai ke dalam urusan-urusan yang, sebenarnya, bukan menjadi kewenangannya. Sikap tidak tegas Susuhunan ini kian parah karena intrik yang dimainkan oleh Perdana Menteri alias Patih Dalem (saya agak lupa namanya. Kalau tidak salah, Pringgalaya), yang juga "punya kepentingan" sendiri, antara lain adalah menyelamatkan karir dan reputasinya di mata Belanda. Patih, kala itu, sering sekali memberikan saran-saran dan nasehat yang sebenarnya menjerumuskan Susuhunan, dan mengakibatkan perlawanan dari para Pangeran, saudara-saudara kandung, dan paman-paman Susuhunan, kian merajalela.

Ketika itu, Sukawati yang kini dikenal dengan nama Sragen, tengah diduduki pasukan pemberontak yang sebenarnya adalah saudara-saudara Susuhunan sendiri. Dalam kepanikannya mengatasi pemberontak tersebut, Susuhunan mengutus Pangeran Mangkubumi untuk memimpin pasukan istana dalam rangka memadamkan pemberontakan di Sukawati. Susuhunan menjanjikan bahwa ketika pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan, Tanah Sukawati akan dihadiahkan kepada Pangeran Mangkubumi. Cerita selanjutnya adalah, Pangeran Mangkubumi indeed berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Akan tetapi, Susuhunan mencabut hadiah yang semula telah dijanjikannya. Pencabutan ini, menurut sebagian sumber, adalah akibat bujukan (mungkin harusnya hasutan) dari Patih, dan ada pula yang menyebutkan adalah atas desakan Belanda, dan ada pula sumber yang mengatakan bahwa kedua pihak tersebut keberatan jika Pangeran Mangkubumi dihadiahi Tanah Sukawati, karena hal tersebut akan membahayakan posisi Susuhunan mengingat luasnya Tanah Sukawati. Pencabutan hadiah tersebut terjadi dalam forum publik istana. Jelas saja Pangeran Mangkubumi yang konon dikenal berwatak keras itu merasa sakit hati, malu, dan terkhianati dengan peristiwa tersebut. Setelah itu, beliau pun keluar dari istana dan memulai pemberontakannya terhadap Belanda yang beliau anggap sebagai biang keladi dari segala kekisruhan yang terjadi di istana. Konon, Pangeran Mangkubumi memulai pemberontakannya atas restu Susuhunan, yang dilegitimasi dengan pemberian pusaka keraton. Susuhunan berharap, Pangeran Mangkubumi berhasil dalam perjuangannya sehingga mampu mengembalikan kedaulatan Mataram atas wilayah kekuasaannya yang telah dirampas oleh Belanda.

Nah, demikian itu, sekelumit sejarah yang melatarbelakangi terjadinya Perjanjian Giyanti yang untuk pertama kalinya membagi dua kekuasaan Mataram Islam yang semula berada di bawah Susuhunan Pakoe Boewono. Bagaimana dengan aturan gelar yang berlaku di Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat? Silakan simak berikut ini.

Gelar Bagi Laki-laki


Gelar Resmi Sultan

Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping ..... (lalu angka urutan bertahta)
Dalam penyebutan, Sultan tidak dikatakan Sultan, melainkan Ngarsa Dalem. Ini yang membedakan dengan penyebutan Susuhunan dalam unggahan sebelumnya.

Gelar Resmi Bagi Putra Sultan


G.R.M. = Gusti Raden Mas
, gelar bagi putra Sultan yang dilahirkan dari Permaisuri. Sebelum masa Sultan Hamengku Buwono IX, putra Sultan yang lahir dari Selir diberi gelar B.R.M. = Bandara Raden Mas, dan bagi putra tertua Sultan dari Selir diberi gelar B.R.M.G. = Bandara Raden Mas Gusti.




Sultan Hamengku Buwono IX (dok.pribadi)


G.P.H. = Gusti Pangeran Harya, gelar bagi putra Sultan yang telah diwisuda menjadi Pangeran. Untuk putra Sultan dari Selir diberi gelar B.P.H. = Bandara Pangeran Harya. Sejak bertahtanya Sultan Hamengku Buwono IX, beliau menghapuskan gelar B.P.H., dan mengangkat putra-putranya dari keempat Garwa Dalem (bukan Permaisuri) dengan gelar G.B.P.H. = Gusti Bandara Pangeran Harya.

G.P. = Gusti Pangeran, gelar bagi Pangeran tertua di antara putra-putra Sultan dari Selir.

K.G.P.Ad. Anom = Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom, seperti yang berlaku di Keraton Kasunanan, gelar ini juga diperuntukkan bagi putra mahkota Sultan, dengan diikuti namaHamengkunagara Sudibya Rajaputra Narenda Ing Mataram.

K.G.P.Ad. = Kangjeng Gusti Pangeran Adipati, gelar bagi putra Sultan yang dikuasakan untuk memegang kepercayaan dalam kualitas yang besar, sekaligus gelar kehormatan yang cukup tinggi. Ini merupakan kasus khusus yang amat jarang terjadi. Salah satu penyandang gelar K.G.P.Ad. yang cukup terkenal di kalangan Keraton Kasultanan adalah K.G.P.Ad. Mangkubumi, putra Sultan Hamengku Buwono VI, yang dahulu menjadi tangan kanan Sultan Hamengku Buwono VII, hingga sering disebut raja njaba atau "raja di luar (istana)" karena besarnya kewenangan beliau yang dipercayakan oleh Sultan. Ada pula K.G.P.Ad. Hangabehi dan K.G.P.Ad. Juminah yang merupakan putra-putra Sultan Hamengku Buwono VII.

K.G.P.H. = Kangjeng Gusti Pangeran Harya, gelar bagi putra Sultan yang menjadi lurah Pangeran atau semacam koordinator bagi para Pangeran. Selain itu, gelar ini juga merupakan gelar kehormatan yang diberikan Sultan kepada putra-putranya berdasarkan pertimbangan pribadi beliau.

K.G.Pnb. = Kangjeng Gusti Panembahan, gelar kehormatan tertinggi bagi putra Sultan.

K.R.Ad. = Kangjeng Raden Adipati, gelar bagi pepatih Dalem. Di Jogja, umumnya diikuti dengan nama Danureja. Namun sejak Sultan Hamengku Buwono IX jabatan Patih ditiadakan.

Gelar Bagi Cucu Laki-laki Sultan


B.R.M. = Bandara Raden Mas
, sejak masa Sultan Hamengku Buwono IX, gelar ini diberikan kepada cucu Sultan dari putra mahkota.

R.M. = Raden Mas, gelar bagi semua cucu dan cicit laki-laki Sultan.

Gelar Bagi Generasi-Generasi Dibawah Cicit Sultan


R.B. atau R.Bg. = Raden Bagus
, gelar bagi keturunan ke-5 dari Sultan sejak lahir hingga berusia 15 tahun. Sesudah itu, atau jika yang bersangkutan telah menikah, gelarnya berubah menjadi R. = Raden.


Gelar Kepangkatan Bagi Laki-laki


Tingkat pemula 1 Jajar, belum diberi gelar.
Tingkat pemula 2 Magang, belum diberi gelar.
Tingkat 3 Bekel Enem diberi gelar R.B. = Raden Bekel.
Tingkat 4 Bekel Sepuh diberi gelar R.B. = Raden Bekel.
Tingkat 5 Lurah diberi gelar R.L. = Raden Lurah
Tingkat 6 Kliwon diberi gelar R.K. = Raden Kliwon
Tingkat 7 Wedana diberi gelar R.W. = Raden Wedana
Tingkat 8 Riya Bupati Anom diberi gelar R.Ry.= Raden Riya
Tingkat 9 Bupati Anom diberi gelar K.R.T. = Kangjeng Raden Tumenggung
Tingkat 10 Bupati Sepuh diberi gelar K.R.T. = Kangjeng Raden Tumenggung
Tingkat 11 Bupati Nayaka diberi gelar K.R.T. = Kangjeng Raden Tumenggung
Tingkat 12 Pangeran Sentana diberi gelar K.P.H. = Kangjeng Pangeran Harya


Catatan: 


Kerabat Sultan yang memeroleh salah satu dari keduabelas pangkat di atas, baik laki-laki maupun perempuan, dicabut gelar dan nama lahirnya, dan sejak saat pemberian anugerah gelar pangkat hanya dikenal dengan gelar pangkat dan nama barunya;


Jenjang kepangkatan dari nomor 1 hingga 11 bersifat terbuka bagi kerabat Sultan dari generasi keberapa pun. Hanya saja, khusus nomor 12, kesempatannya lebih "sempit" dan harus diputuskan oleh Sultan sendiri dengan rekomendasi dari para putra-putri Sultan;
Jenjang di atas diperoleh tidak harus dari tingkat 1. 

Bisa saja seseorang langsung "meloncat" ke tingkat 8 atau 9 saat pertama kali memerolehnya, tentu saja tergantung kepada pertimbangan dari Tepas Dwara Pura atau semacam kantor urusan kepegawaian keraton;

Seluruh penerima gelar pangkat tersebut, disebut abdi Dalem dalam perspektif yang luas dan kekinian, yaitu bahwa mereka tidak literally dan directly melayani Sultan, bekerja untuk dan di dalam Keraton, serta mendapat gaji dari Keraton, melainkan bertindak sebagai agen-agen budaya Keraton yang memiliki tanggungjawab moral untuk senantiasa menjaga nama baik Keraton yang terkait dengan pangkat yang disandangnya;
Terkait dengan butir 4 di atas, abdi Dalem dalam aturan Keraton Kasultanan terbagi dalam dua golongan, yaitu abdi Dalem Reh Punakawan yang biasanya terdiri atas kerabat terdekat Sultan (cucu, cicit, kemenakan), dan mereka yang memang secara langsung bekerja di dalam Keraton. 


Golongan kedua adalah abdi Dalem Reh Kaprajan yang secara umum terdiri atas unsur kerabat/non-kerabat Sultan (non-kerabat, gelar Raden diganti dengan Mas) yang bekerja di instansi-instansi pemerintah;
Gelar-gelar kepangkatan tersebut tidak diberikan oleh Keraton, melainkan harus diminta dengan mekanisme yang hampir sama dengan proses melamar pekerjaan (pengiriman berkas, wawancara, pengisian formulir, penentuan layak/tidaknya seseorang diluluskan permohonan pangkatnya, dan untuk kenaikan jenjang bagi kerabat Sultan lebih dari generasi keempat dan non-kerabat, harus melalui ujian).


Gelar Bagi Perempuan


Gelar Resmi Permaisuri Sultan


G.K.R. = Gusti Kangjeng Ratu
, seperti yang berlaku di Kasunanan, gelar ini biasanya diikuti dengan nama khusus seperti Kencana, Hemas, Kadipaten, dsb. Gelar dan nama G.K.R. Ageng khusus diberikan kepada ibu suri atau ibu dari Sultan yang bertahta.

Gelar Resmi Putri-Putri Sultan


G.R.Aj. = Gusti Raden Ajeng
, gelar bagi putri-putri Sultan dari Permaisuri. Sebelum masa Sultan Hamengku Buwono IX, putri Sultan yang lahir dari Selir diberi gelar B.R.Aj. = Bandara Raden Ajeng, dan bagi putri tertua Sultan dari Selir diberi gelar B.R.Aj.G. = Bandara Raden Ajeng Gusti.

G.R.Ay. = Gusti Raden Ayu, gelar bagi putri-putri Sultan yang dilahirkan dari Permaisuri dan sudah menikah. Untuk putri Sultan dari Selir yang telah menikah diberi gelar B.R.Ay. = Bandara Raden Ayu (atau B.R.Ay.G. = Bandara Raden Ayu Gusti bagi putri sulung dari Selir). Sejak bertahtanya Sultan Hamengku Buwono IX, beliau menghapuskan gelar B.R.Aj. dan B.R.Ay., dan mengangkat putri-putrinya dari keempat Garwa Dalem (bukan Permaisuri) dengan gelarG.B.R.Ay. = Gusti Bandara Raden Ayu.

G.K.R. = Gusti Kangjeng Ratu, selain untuk Permaisuri Sultan, gelar ini juga diberikan kepada putri-putri Sultan dari Permaisuri, biasanya sesudah menikah, atau sebelum menikah namun sudah dewasa.

K.R. = Kangjeng Ratu, dahulu diberikan kepada putri sulung Sultan dari Selir.

Gelar Resmi Bagi Cucu dan Cicit Perempuan Sultan


B.R.Aj. = Bandara Raden Ajeng
, gelar bagi cucu perempuan Sultan yang merupakan putri dari putra mahkota, yang belum menikah.

B.R.Ay. = Bandara Raden Ayu, gelar bagi putri pangeran mahkota yang telah menikah. Saat ini juga diberikan sebagai gelar bagi menantu perempuan Sultan.

R.Aj. = Raden Ajeng, gelar bagi seluruh cucu dan cicit perempuan Sultan yang belum menikah. Jika sudah menikah, gelarnya menjadiR.Ay. = Raden Ayu.


Gelar Resmi Bagi Generasi-Generasi Di Bawah Cicit Sultan
R.Rr. = Raden Rara, untuk generasi keenam (putri dari cicit Sultan) yang belum menikah. Jika sudah menikah, gelarnya menjadi R.Ngt. = Raden Nganten atau R. = Raden.

Gelar Bagi Selir dan Garwa Dalem Sultan


K.B.R.Ay. = Kangjeng Bandara Raden Ayu
, dahulu digunakan untuk lurah Ampeyan Dalem atau pimpinan dari seluruh Selir Sultan;K.R.Ay. = Kangjeng Raden Ayu, di masa Sultan Hamengku Buwono IX diberikan bagi seluruh istrinya. Semula, gelar ini diberikan bagi Permaisuri putra mahkota, atau Permaisuri K.G.P.Ad.; B.R.Ay. = Bandara Raden Ayu; B.M.Ay. = Bandara Mas Ayu; B.M.Aj. = Bandara Mas Ajeng; R.Rr. = Raden Rara; dll.

Untuk gelar kepangkatan bagi perempuan di lingkup Keraton Kesultanan, sama dengan laki-laki, hanya ditambah Nyai didepannya. Misalnya, Nyai K.R.T. Retnohadiningrum (cucu Sultan Hamengku Buwono VIII), Nyai Raden Wedana Puspitaningsih (keturunan keenam Sultan Hamengku Buwono II), dst. Apabila yang bersangkutan bukan berasal dari keturunan bangsawan, gelar Raden diubah menjadi Mas.

Nah, demikian itu aturan gelar yang berlaku di Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. 


Gelar Kebangsawanan Dalam Tradisi Istana-Istana Di Jawa: Part 4

Pura Mangkunagaran dan Pura Pakualaman. Selamat menyimak!


KADIPATEN MANGKUNAGARAN


Orang sering salah menyebutnya sebagai Keraton Mangkunagaran. Padahal, Mangkunagaran adalah pusat pemerintahan swapraja yang berbentuk Kadipaten. Penguasa tertingginya bukanlah raja seperti di Kasunanan dan Kasultanan, melainkan Pangeran Adipati. Mangkunagaran adalah princedom dan bukan kingdom. Wilayah kekuasaannya tak seluas Kasunanan maupun Kasultanan. Meski beristana megah dan mewah serta diperbolehkan untuk menerapkan tata protokol yang nyaris sama dengan Keraton, dalam hal-hal tertentu, Mangkunagaran tetap punya keterbatasan sebagai sebuah Kadipaten. Barangkali pula, orang mengacaukan makna Keraton sebatas pada bangunan fisik istana tradisional Jawa semata, sehingga Kadipaten Mangkunagaran dan Pakualaman pun disebut Keraton. Padahal, untuk menyebut istananya, Mangkunagaran punya istilah sendiri yaitu "Pura".

Mangkunagaran resmi berdiri pada tahun 1757 sebagai hasil Perjanjian Salatiga. Perjanjian ini mengakhiri pertempuran R.M. Said selama 16 tahun. R.M. Said adalah cucu Susuhunan Mangku Rat IV. Ayahnya, K.P.H. Mangkoenagoro (Sepuh), adalah putra sulung Susuhunan Mangku Rat IV dari Selir beliau bernama B.R.Ay. Kusumanarsa/B.R.Ay. Sumanarsa/B.R.Ay. Sepuh. Dalam perlawanannya, R.M. Said menuntut akan haknya dan orangtuanya yang disia-siakan oleh Susuhunan Pakoe Boewono II. Ketakutan akan terjadinya sebuah pergerakan menuntut tahta dari Pangeran Mangkoenagoro, telah membuat Susuhunan, atas hasutan banyak pihak, membuat sebuah skenario untuk menjauhkan Pangeran Mangkoenagoro dari peta perebutan tahta di Kartasura. Dengan sebuah konspirasi yang terencana, Pangeran Mangkoenagoro, "berhasil" dibuang ke Ceylon (Srilanka), dan kemudian ke Kaap de Goede Hoop atau Tanjung Harapan di Afrika Selatan hingga akhirnya jatuh sakit dan wafat di sana.

Ketika itu, nasib R.M. Said dan saudara-saudaranya yang ditinggal di istana tidaklah jauh berbeda. Sebagai putra Pangeran senior, R.M. Said justru seperti tidak dipedulikan nasibnya. Ia hidup dalam segala kekurangan. Dari situ, tumbuhlah kebencian dalam dirinya yang semula dialamatkan pada Belanda, dan lalu kepada Susuhunan yang dianggap tidak mampu bersikap tegas. Untuk itulah, ia lalu keluar dari istana dan mengangkat senjata. Bersama para pengikut setianya, R.M. Said keluar-masuk hutan, bergerilya, bermunajat, demi tercapainya cita-cita. Sempat pula bergabung dengan barisan Pangeran Mangkubumi. Namun, perbedaan visi dan misi di antara keduanya membuat mereka kemudian memilih untuk berpisah. Kelak bahkan R.M. Said juga memerangi Kasultanan.

R.M. Said dijuluki Pangeran Sambernyawa yang artinya "Pangeran Penyambar/Pencabut Nyawa" oleh Belanda karena kelihaiannya dalam berperang dan sikap tak kenal komprominya saat berhadapan dengan lawan. Dalam sebuah peperangan di kawasan hutan Sitakepyak, Rembang, pasukan R.M. Said atau Pangeran Sambernyawa berhasil menewaskan ratusan prajurit Belanda. Sedangkan, di pihaknya hanya ada 15 orang perwira yang gugur. Ini menandakan bahwa Pangeran Sambernyawa dan pasukannya juga ahli dalam siasat perang dan mengenal medan dengan baik. Hal-hal inilah yang kemudian membuat baik Belanda, Kasunanan, maupun Kasultanan menyerah. Perjanjian pun ditawarkan sebagai jalan keluar untuk menghindar dari pengorbanan yang lebih besar lagi jika perang terus dilanjutkan. R.M. Said berhasil. Ia pun ditetapkan sebagai penguasa baru di bumi Mataram. Namun, karena alasan stabilitas politik, ia tidak dapat menjadi raja. Jawa sudah punya dua raja, demikian kata pihak Belanda. Keseimbangan politis akan goncang jika R.M. Said ditahbiskan sebagai raja ketiga. Melalui proses perundingan yang alot, R.M. Said pun akhirnya setuju dengan penawaran yang diajukan padanya. Ia pun diangkat sebagai Pangeran Miji atau "pangeran yang diistimewakan/terpilih". Dalam praktiknya, seorang Pangeran Mijiberhak untuk memiliki daerah kekuasaan dalam jumlah yang hampir sama dengan milik raja, berhak untuk mempunyai istana dengan detil bangunan yang menyerupai keraton, berhak untuk menyelenggarakan tata kelola rumah tangga dan protokoler seperti yang berlaku di keraton, berhak memiliki angkatan perang, dan berhak memberikan anugerah berupa gelar dan pangkat dalam batas-batas tertentu yang lebih sempit cakupannya jika dibandingkan dengan keraton.



Pura Mangkunagaran dari arah depan dengan latar belakang Pendhapa Agung (dok. pribadi)


Mulai saat itu, R.M. Said resmi dinyatakan sebagai dinasti penguasa ketiga di Jawa. Ia menggunakan nama Mangkoenagoro untuk menghormati ayahnya. Istana atau Pura Mangkunagaran yang hingga saat ini dapat kita saksikan di Solo, dahulu adalah kediaman Patih Mangkuyuda yang disebut Ndalem Mangkuyudan. Oleh yang bersangkutan, atas dasar simpati dan bakti, Ndalem Mangkuyudan dihibahkan kepada Pangeran Sambernyawa untuk dapat dijadikan istana sekaligus kediaman baginya. Seiring berjalannya waktu, Pura Mangkunagaran terus mengalami perubahan dan penambahan fisik bangunan, terutama di masa pemerintahan K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IV dan V, ketika perekonomian Mangkunagaran bertumbuh dengan cukup pesat.

Nah, sudah tahu lah ya kita sekarang sejarah berdirinya Mangkunagaran. Lalu, bagaimana aturan gelar di Pura Mangkunagaran?? Apakah sama dengan keraton-keraton yang sudah lebih dahulu dijelaskan? Silakan simak berikut ini.

Gelar Bagi Laki-laki


Gelar Resmi Mangkoenagoro


Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (S.I.J. K.G.P.A.A.) Mangkoenagoro Ingkang Kaping .......... (lalu disebut angka urutan bertahtanya)
Sebutan bagi Mangkoenagoro adalah Sampeyan Dalem atauIngkang Jumeneng, atau cukup Kangjeng Gusti. Beliau adalahPengageng Pura Mangkunagaran.


Gelar Resmi Bagi Putra Mangkoenagoro


B.R.M. = Bandara Raden Mas
, gelar bagi putra-putra Mangkoenagoro baik dari Permaisuri maupun Selir.


B.R.M.H. = Bandara Raden Mas Harya, gelar bagi putra-putra Mangkoenagoro yang telah dewasa, namun tidak diwisuda menjadi Pangeran.


B.R.M.A.A. = Bandara Raden Mas Adipati Arya, gelar bagi putra Mangkoenagoro yang menjabat sebagai bupati.

K.P.H. = Kangjeng Pangeran Harya, gelar bagi putra-putra Mangkoenagoro yang telah dewasa dan diwisuda menjadi Pangeran.

K.G.P.A.A. Prabu Prangwadana = Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya, gelar bagi putra mahkota atau penjabat Mangkoenagoro sebelum berusia 40 tahun

K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IV (dok.pribadi)

Sesudah bertahtanyaK.G.P.A.A. Mangkoenagoro IV, diberlakukan aturan gelar baru bagi putra Mangkoenagoro yaitu:

G.R.M. = Gusti Raden Mas, bagi putra Mangkoenagoro yang lahir dari Permaisuri. Setelah dewasa dan diwisuda menjadi Pangeran, gelarnya tetapK.P.H. = Kangjeng Pangeran Harya.

Di masa pemerintahanK.G.P.A.A. Mangkoenagoro VIII, aturan tersebut disesuaikan lagi sebagai berikut:
G.R.M. = Gusti Raden Mas, bagi putra Mangkoenagoro dari Permaisuri.

G.P.H. = Gusti Pangeran Harya, gelar bagi putra Mangkoenagoro dari Permaisuri yang telah dewasa dan telah diwisuda menjadi Pangeran.

Dengan demikian, gelar K.P.H. diturunkan untuk Pangeran Sentana, yaitu cucu-cucu Mangkoenagoro, dan kerabat dibawahnya yang dianggap berjasa bagi Pura Mangkunagaran.

Gelar Resmi Cucu Laki-laki Mangkoenagoro


K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII (dok.pribadi)


Sebelum masa pemerintahanK.G.P.A.A. Mangkoenagoro VIIdan K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VIII, cucu-cucu laki-laki dari Mangkoenagoro diberi gelar:
R.M. = Raden Mas

Setelah masa pemerintahan K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VIIdan K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VIII, dikenal gelar B.R.M. = Bandara Raden Mas, bagi cucu laki-laki Mangkoenagoro yang lahir dari putra/putri Permaisuri Mangkoenagoro.

Para cucu laki-laki Mangkoenagoro ini secara berjenjang biasanya akan mendapatkan pangkat, atau gelar kehormatan dengan "pola" umum sebagai berikut:
R.M. = Raden Mas; R.M.H. = Raden Mas Harya; K.R.M.H. = Kangjeng Raden Mas Harya; K.P.H. = Kangjeng Pangeran Harya.

Gelar Resmi Bagi Cicit Laki-laki dan Generasi-Generasi Dibawahnya


K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VIII (dok. G.P.H. Paundrakarna) 

Cicit laki-laki Mangkoenagoro hingga satu generasi dibawahnya (keturunan kelima dari Mangkoenagoro) berhak menggunakan gelar R.M. = Raden Mas.

Sedangkan, generasi dibawahnya (keturunan keenam Mangkoenagoro) dan seterusnya, menggunakan gelarR. = Raden.


Gelar Kepangkatan Mangkunagaran:


K.P.H. = Kangjeng Pangeran Harya
, adalah gelar kepangkatan dan kehormatan tertinggi di lingkup Pura Mangkunagaran

K.R.M.T. = Kangjeng Raden Mas Tumenggung, dahulu merupakan gelar bagi Patih Dalem, lalu kini diambil sebagai gelar kehormatan bagi kerabat Mangkoenagoro di bawah cucu.

K.R.M.T.H. = Kangjeng Raden Mas Tumenggung Harya, gelar pangkat bagi kerabat Mangkunagaran yang biasanya mengepalai urusan tertentu di Mangkunagaran.

R.M.P. = Raden Mas Panji, gelar pangkat bagi kerabat Mangkunagaran yang biasanya berurusan dengan masalah keprajuritan.

R.M.Ng. = Raden Mas Ngabehi, gelar pangkat menengah bagi kerabat Mangkunagaran yang biasanya mengepalai sub-urusan tertentu di Mangkunagaran. Bagi yang bergelar lahir R. = Raden, maka gelar ini menjadi R.Ng.

Ada pula gelar-gelar pangkat seperti K.R.T. = Kangjeng Raden Tumenggung; K.R.T.H. = Kangjeng Raden Tumenggung Harya; R.T. = Raden Tumenggung; dll.


Gelar Bagi Perempuan

K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VIII & G.K.P. Mangkoenagoro VIII (dok. Mangkunagaran)

Gelar Resmi Permaisuri Mangkoenagoro
SebelumK.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII dan K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VIII:
K.B.R.Ay.A.A. = Kangjeng Bandara Raden Ayu Adipati Arya, lalu diikuti dengan nama Mangkoenagoro.

Permaisuri K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII bergelar:
G.K.R. = Gusti Kangjeng Ratu Timoer, karena merupakan putri Sultan Hamengku Buwono VII dari Permaisuri;


Permaisuri K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VIII bergelar:


G.K.R. Timoer (dok. Reksapustaka Mangkunagaran)

G.K.P. = Gusti Kangjeng Putri Mangkoenagoro VIII, dengan sebutan Gusti Putri. Beliau adalah putri K.P.H. Soerjokoesoemo, putra sulung K.G.P.A.A. Mangkoenagoro V.
Permaisuri K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IX kembali pada gelar lamaK.B.R.Ay.A.A. Mangkoenagoro IX, dengan sebutan Kangjeng Putri.

Gelar Resmi Putri Mangkoenagoro


B.R.Aj. = Bandara Raden Ajeng,
gelar bagi putri Mangkoenagoro baik dari Permaisuri maupun Selir, yang belum menikah. Jika sudah menikah, gelarnya menjadi B.R.Ay. = Bandara Raden Ayu.

Sesudah K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII, karena beliau mempersunting putri Sultan, diberlakukanlah gelar baru bagi putri Mangkoenagoro yang lahir dari Permaisuri yaitu:


K.B.R.Ay.A.A. Mangkoenagoro IX (dok. pribadi)

G.R.Aj. = Gusti Raden Ajeng, bagi putri Mangkoenagoro yang belum menikah, dan G.R.Ay. = Gusti Raden Ayu, bagi putri yang telah menikah. Sedangkan, putri Mangkoenagoro dari Selir, tetap pada gelar lama yaitu B.R.Aj. atauB.R.Ay.

Sejak masa K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VIII, seluruh putra-putrinya diangkat menjadiGusti sehingga gelar B.R.M. danB.R.Aj. atau B.R.Ay. diturunkan pada generasi dibawahnya.

Gelar Resmi Cucu Perempuan Mangkoenagoro


Cucu-cucu perempuan Mangkoenagoro dari putra/putri Permaisuri, seperti telah disebutkan di atas, menggunakan gelar B.R.Aj. atauB.R.Ay. jika yang bersangkutan telah menikah. Gelar tersebut dapat "gugur" jika karena pertimbangan tertentu, yang bersangkutan diangkat dengan gelar kehormatan:
K.R.Ay. = Kangjeng Raden Ayu.

Gelar Resmi Cicit Perempuan Mangkoenagoro dan Generasi-Generasi Dibawahnya


Cicit perempuan Mangkoenagoro hingga satu generasi dibawahnya (keturunan kelima Mangkoenagoro), berhak menyandang gelar R.Aj. = Raden Ajeng, bagi yang belum menikah, dan R.Ay. = Raden Ayu, bagi yang telah menikah. R.Ay. juga diberikan kepada menantu perempuan Mangkoenagoro.

Keturunan keenam Mangkoenagoro hingga seterusnya, berhak menggunakan gelar R.Rr. = Raden Rara, bagi yang belum menikah, dan R.Ngt. = Raden Nganten, bagi yang sudah menikah.

Gelar Kepangkatan Bagi Perempuan Di Lingkup Pura Mangkunagaran


K.R.Ay. = Kangjeng Raden Ayu
, gelar kepangkatan sekaligus kehormatan tertinggi bagi kerabat perempuan Mangkoenagoro.

K.R.Ay.T. = Kangjeng Raden Ayu Tumenggung, gelar kepangkatan menengah atas bagi kerabat perempuan Mangkunagaran di bawah cucu yang biasanya disertai tanggungjawab untuk mengepalai urusan tertentu di Mangkunagaran.

R.Ay.Ng. = Raden Ayu Ngabehi, gelar kepangkatan menengah bagi kerabat perempuan Mangkunagaran, yang secara umum disertai tanggungjawab untuk mengepalai, dan mengoordinasikan sub-urusan tertentu di Mangkunagaran. Bagi kerabat perempuan yang bergelarR.Ngt. = Raden Nganten, dikenal pula gelar R.Ngt.Ng. = Raden Nganten Ngabehi.

Gelar Bagi Selir Mangkoenagoro


Sebelum masa K.G.P.A.A. Mangkoenagoro V:
Nyai Ajeng; Mbok Ajeng; Mas Ajeng; Raden Rara.

Sesudah masa K.G.P.A.A. Mangkoenagoro V:
B.R. = Bandara Raden; Nyai Ngabehi; Nyai Tumenggung; dll.

Gelar khusus garwa Dalem K.G.P.A.A. Mangkoenagoro I:
R.Ay. Mangkoenagoro, sebelumya M.Aj. (Mas Ajeng) Matah Ati.


Gelar Kebangsawanan Dalam Tradisi Istana-Istana Di Jawa: Part 5

KADIPATEN PAKUALAMAN

Pakualaman adalah dinasti termuda yang ada di Jawa. Istananya yang disebut Pura Pakualaman, terletak di Jogja, tepatnya di Jl. Sultan Agung. Kelahiran Kadipaten Pakualaman sebagaiprincedom baru di wilayah yang semula dikuasai oleh Kasultanan, tidak dapat dilepaskan dari pergolakan politik yang terjadi di Jogja pada sekitar tahun 1811-1812.

Dalam masa tersebut, terjadi pergantian pemerintah koloni, dari Belanda ke Inggris. Kekosongan pemerintahan yang ada sebagai akibat dari pergantian tersebut dibaca sebagai sebuah kesempatan untuk memulihkan kedaulatan secara utuh oleh Sultan Hamengku Buwono II. Beliau pun mencoba berkoordinasi dengan Susuhunan Pakoe Boewono IV di Surakarta untuk membahas strategi yang harus dilakukan. Namun, ketakutan Susuhunan mengakibatkan konspirasi itu terbongkar bahkan sebelum sempat dilaksanakan. Jogja pun diserbu oleh Inggris dengan menggunakan kekuatan yang terdiri atas gabungan pasukan Inggris, Kasunanan, dan Mangkunagaran. Dalam penyerbuan yang berakhir dengan kekalahan Kasultanan itu, banyak benda-benda pusaka dirampas dan dijarah oleh Inggris. Banyak diantaranya berbentuk naskah-naskah kuno. Sultan Hamengku Buwono II sendiri dimakzulkan. Pangeran Adipati Anom (putra mahkota) ditahbiskan sebagai pengganti ayahnya dengan gelar Sultan Hamengku Buwono III.

Konflik politik yang terjadi di masa itu ternyata tidak surut dengan pemakzulan Sultan Hamengku Buwono II. Faksi-faksi yang terdiri atas kerabat Sultan dan para pembesar istana telah telanjur terbentuk dengan kepentingannya masing-masing. Sultan Hamengku Buwono III yang berpribadi lemah, tak cukup punya wibawa untuk meredakan situasi dan mengontrol campur tangan dari pihak Inggris terhadap urusan internal Keraton. Inggris pun mulai "bermanuver" dengan memfasilitasi terbentuknya pusat pemerintahan swapraja baru yang dipimpin oleh Pangeran Natakusuma. Pangeran Natakusuma sendiri adalah putra Sultan Hamengku Buwono I dari Selir Sultan yang bernama B.R.Ay. Srenggara. Jadi, beliau adalah adik satu ayah beda ibu dengan Sultan Hamengku Buwono II.

Dalam beberapa hal, terutama visi yang jauh ke depan, nasionalisme, dan patriotisme, Pangeran Natakusuma dapat disejajarkan dengan sang kakak, Sultan Hamengku Buwono II. Mereka berdua anti-penjajah. Hanya saja, penyikapan mereka yang berbeda. Sultan Hamengku Buwono II bersikap reaktif dan demonstratif, sedangkan Pangeran Natakusuma, seperti almarhum ayahnya, Sultan Hamengku Buwono I, lebih memilih taktis dan menanti saat yang tepat untuk bertindak. Di era Belanda pun, sudah banyak manuver dilakukan oleh pihak VOC untuk memisahkan kedua saudara ini, termasuk menggagalkan rencana Sultan Hamengku Buwono II untuk menjadikan adiknya ini sebagai Patih. Ketika situasi di dalam Keraton masuk dalam babak baru dengan rencana Inggris untuk membubarkan Keraton Kesultanan akibat rencana pemberontakan Sultan Hamengku Buwono II, Pangeran Natakusuma tampil sebagai juru negosiasi untuk membatalkan rencana pembubaran Kasultanan.



Gerbang utama Pura Pakualaman dengan latar belakang Bangsal Sewatama (dok. pribadi)
Atas jasa-jasanya menyelamatkan eksistensi Keraton dan bersikap kooperatif pada Inggris, Pangeran Natakusuma pun mengantongi izin dan restu dari kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono III untuk akhirnya keluar dari istana dan memasuki istana barunya di Pura Pakualaman dengan status baru sebagai Pangeran Mardika atau "pangeran yang dimerdekakan". Perbedaan status keistimewaan yang diterima oleh Pangeran Natakusuma dengan Pangeran Sambernyawa yang diberi status Pangeran Miji adalah bahwa Pangeran Natakusuma berhak atas otonomi penuh untuk mengatur wilayah kekuasaannya tanpa ada campur tangan dari pihak Kasultanan. Berikutnya, Pakualaman berhak untuk menjatuhkan pidana mati kepada pelaku kejahatan di lingkup Pakualaman. Hak istimewa dalam bidang peradilan ini tidak dipunyai oleh Mangkunagaran.

Nah, cukup dengan sejarah Pakualaman. Sekarang mari kita masuk ke pokok persoalan tentang gelar kebangsawanan yang berlaku di Pura Pakualaman.

Gelar Bagi Laki-Laki


Gelar Resmi Pakualam

Sampeyan Dalem Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (S.D.K.G.P.A.A.) Pakualam Ingkang Jumeneng Kaping .....(lalu angka urutan bertahta)
Sebelum tahun 1878, gelar bagi Pakualam I hanya Kangjeng Gusti Pangeran Arya.
Sebutan bagi Pakualam sama dengan sebutan bagi Mangkoenagoro.

Gelar Resmi Bagi Putra Pakualam


K.G.P.A.A. Paku Alam II (dok. pribadi)

G.R.M. = Gusti Raden Mas, gelar bagi putra Pakualam dari Permaisuri. Selain itu, dikenal pula gelarG.R.M.H. = Gusti Raden Mas Harya bagi putra Pakualam dari Permaisuri yang telah dewasa. Dua gelar ini dikenal di era K.G.P.A.A. Paku Alam II bagi putra yang dilahirkan dari G.K.R.(Gusti Kangjeng Ratu) Ayu; dan era K.G.P.A.A. Paku Alam VII bagi putra dariG.K.B.R.Ay.Ad. (Gusti Kangjeng Bandara Raden Ayu Adipati) Pakualam. Setelah dewasa dan menjadi Pangeran, gelar mereka menjadi G.P.H. = Gusti Pangeran Harya.

B.R.M. = Bandara Raden Mas, gelar bagi putra Pakualam berstatusgarwa Dalem. Selain itu, dikenal pula gelar B.R.M.H. = Bandara Raden Mas Harya. Jika telah dewasa dan diwisuda menjadi Pangeran, maka gelarnya menjadi B.P.H. = Bandara Pangeran Harya.


K.G.P.A.A. Paku Alam VII (dok. pribadi)

Untuk putra Paku Alam dari Selir, mendapat gelarB.R.M. laluB.R.M.H. dan ketika diwisuda menjadi Pangeran diberi gelar K.P.H. = Kangjeng Pangeran Harya.

K.G.P.H. Prabu Suryadilaga = Kangjeng Gusti Pangeran Harya
, gelar bagi putra mahkota Paku Alam, atau gelar bagi penguasa Pakualaman yang naik tahta sebelum usia 40 tahun (berlaku sejak K.G.P.A.A. Paku Alam V-K.G.P.A.A. Paku Alam VIII).


K.G.P.A.A. Paku Alam III (dok. pribadi)


Catatan: K.G.P.A.A. Paku Alam III naik tahta dengan gelar K.G.P.H. (Kangjeng Gusti Pangeran Harya)Suryaningrat. Gelar ini diteruskan oleh K.G.P.A.A. Paku Alam IV yang naik tahta dengan gelar K.G.P.H. Suryaningrat II. Sementara sumber menyebutkanK.G.P.Ad. (Kangjeng Gusti Pangeran Adipati)Suryasasraningrat.

K.G.P.A.A. Paku Alam IXmengangkat putra sulungnya sebagai putra mahkota di tahun 2012 dengan gelarK.B.P.H. (Kangjeng Bandara Pangeran Harya) Suryadilaga.

Gelar Resmi Bagi Cucu Laki-Laki Paku Alam

K.G.P.A.A. Paku Alam IV (dok. pribadi)

R.M. = Raden Mas, gelar ini berlaku umum bagi seluruh cucu laki-laki Paku Alam. Dalam perjalanannya, cucu laki-laki Paku Alam dapat diberi pangkat/gelar kehormatan seperti R.M.T. = Raden Mas Tumenggung; 
K.R.M.T. = Kangjeng Raden Mas Tumenggung; 
R.M. Riya = Raden Mas Riya; 
R.M.Ng. = Raden Mas Ngabehi; 
R.M.L. = Raden Mas Lurah; 
K.P.H. = Kangjeng Pangeran Harya.

Gelar Resmi Bagi Cicit Laki-Laki dan Generasi Dibawahnya


K.B.P.H. Suryadilaga, putra mahkota Paku Alam IX bersama istri G.B.R.Ay. Suryadilaga (dok. pribadi)

R.M. = Raden Mas, gelar ini berlaku bagi seluruh cicit laki-laki Paku Alam dan generasi dibawahnya. Dalam perjalanan selanjutnya, para cicit dan generasi-generasi dibawahnya dapat pula mendapat pangkat dan gelar kehormatan seperti yang disebutkan di atas.

Bagi generasi kelima laki-laki dari Paku Alam berhak menyandang gelar:


R. = Raden, yang juga punya kesempatan untuk mendapat pangkat/gelar kehormatan dengan menghilangkan Mas dan menambahkan pangkat seperti tersebut di atas. Hanya saja, bagidharah Dalem (keturunan) Paku Alam yang bergelar Raden, masih dalam pertimbangan untuk juga dapat sampai ke jenjang Pangeran Sentana dengan gelar K.P.H.

Gelar Bagi Perempuan


Gelar Resmi Permaisuri Paku Alam


Terdapat beberapa gelar bagi Permaisuri Paku Alam:


G.K.B.R.Ay.Ad. Paku Alam VII, putri Susuhunan Pakoe Boewono X (dok. pribadi)

G.K.B.R.Ay.Ad. = Gusti Kangjeng Bandara Raden Ayu Adipati dengan diikuti gelarPaku Alam.

Akan tetapi, sebelumnya dikenal pula gelar G.K.R.Ay = Gusti Kangjeng Raden Ayu bagi Permaisuri kedua K.G.P.A.A. Paku Alam III dan K.G.P.A.A. Paku Alam V yang dalam penyebutan sehari-hari dikenal dengan Gusti Kangjeng Nem.

Gelar G.K.R. (Gusti Kangjeng Ratu) bagi Permaisuri Paku Alam hanya digunakan oleh G.K.R. Ayu, Permaisuri K.G.P.A.A. Paku Alam IIyang memang putri Sultan Hamengku Buwono VI dari Permaisuri (serupa kasus Permaisuri K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII).

Gelar Resmi Putri Paku Alam

K.G.P.A.A. Paku Alam IX dan G.K.B.R.Ay.Ad. Paku Alam IX (dok. pribadi)

G.R.Aj. = Gusti Raden Ajeng, gelar bagi putri-putri Paku Alam yang terlahir dari Permaisuri yang belum menikah. Jika sudah menikah menjadi G.R.Ay. = Gusti Raden Ayu.

B.R.Aj. = Bandara Raden Ajeng, gelar bagi putri-putri Paku Alam yang terlahir dari garwa Dalem dan Selir, yang belum menikah. Jika sudah menikah bergelar B.R.Ay. = Bandara Raden Ayu.

Gelar Resmi Cucu Perempuan Paku Alam


R.Aj. = Raden Ajeng
, dan bila sudah menikah menjadi R.Ay. = Raden Ayu.

Gelar Resmi Cicit Perempuan Paku Alam dan Generasi Dibawahnya

R.Aj. dan R.Ay.

Keturunan perempuan Paku Alam derajat kelima dan seterusnya menyandang gelar 

R.Rr. = Raden Rara, dan kalau sudah menikah menjadi R.Ngt. = Raden Nganten.

Gelar Garwa Dalem Paku Alam


B.R.Ay. = Bandara Raden Ayu
K.B.R.Ay. = Kangjeng Bandara Raden Ayu.

Gelar Selir Paku Alam 

B.R.Ay. = Bandara Raden Ayu
B.R. = Bandara Raden; 
B.M.Aj. = Bandara Mas Ajeng; dll.

Para perempuan keturunan Paku Alam juga berkesempatan mendapatkan gelar pangkat/kehormatan, sama dengan kerabat laki-laki, dengan gelar tertinggi K.R.Ay. = Kangjeng Raden Ayu.

Moga Sukses !

Dan, sebagai pertanggungjawaban "agak ilmiah" saya, inilah sumber-sumber yang deperolehi :


Kasunanan:
Bratadiningrat, G.R.Ay. tt. Asalsilah Warni Warni. Surakarta: tidak diterbitkan.

Narasumber: R.Ay. Indrohadiningrat untuk gelar Susuhunan.

Kasultanan:
Koesworo, F.X. 2007. Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Artikel dalam Majalah Kerabat No. 14 Tahun II November 2007 hlm. 23.

Purwosemantri, R.L. 2011. Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat: Sujarah Sarta Sawatawis Pranatan Lampah Budaya Adat. Yogyakarta: tidak diterbitkan.

Narasumber: K.R.T. Kusumo Bodrowono (Pengageng II Tepas Dwarapura Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat) tentang aturan gelar kepangkatan di Keraton Jogja.

Mangkunagaran:
Poncowolo, K.R.Ay. Hilmiyah Darmawan. 1996. Makam-Makam Dan Sejarah Singkat Kerabat Besar Mangkunagaran. Surakarta: tidak diterbitkan

Soemahatmaka, R.M.Ng. 1973. Pratelan Para Darah Dalem Soewargi Kangdjeng Goesti Pangeran Adipati Arja Mangkoenagara I Hing Soerakarta Hadiningrat. Mangkunagaran: tidak diterbitkan.


Narasumber: K.R.M.H. Djatmiko Hamidjojo Santoso (cucu K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII) tentang aturan gelar bagi keturunan Mangkunagaran secara umum.
K.P.H. Soelarso Basarah Soerjosoejarso (buyut K.G.P.A.A. Mangkoenagoro V dan K.G.P.A.A. Paku Alam VI) tentang aturan gelar bagi keturunan Mangkunagaran dan Pakualaman secara umum.

Pakualaman:
Cakrasumarta, H. R.M. dan R.P. Himadigdaya. tt. Silsilah Keluarga Paku Alam Sejak Paku Alam I Sampai Paku Alam VIII. Yogyakarta: Yayasan Notokusumo.

Narasumber: R. Ribbi Mahmud Ahmad (Trah Paku Alam I dan II) tentang aturan gelar di Pakualaman secara umum.


Sekian & terima kasih! Moga kita memperolehi pencerahan....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...