19 April 2015

Tjokroaminoto, Raja Jawa Tanpa Mahkota

HOS Tjokroaminoto_1














“SEMURNI-murni Tauhid, Setinggi-tinggi ilmu, Sepandai-pandai siasat”

“Lerena mangan sadurunge wareg – berhentilah makan sebelum kenyang”

Ungkapan-ungkapan di atas dicetuskan oleh Tjokroaminoto. Seorang yang lahir dari keluarga priayi dan mencoba keluar dari pakem “kepriayiannya” dan
beralih kepada Islam. Di zamannya, ia adalah sebuah fenomena. Boleh dibilang porsi keberadaannya dalam sejarah nasional cukup besar, apalagi kalau ditilik soal “Kebangkitan Nasional”.
Nama lengkapnya adalah: Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto. Ayahnya, Raden Mas Tjokroaminoto, adalah seorang Wedana di Kawedanan Keltjo (Madiun). Ia dilahirkan di desa Bakur pada tanggal 16 Agustus 1882. Ia juga merupakan cucu dari Kyai Kasan Besari (Hasan Basri), Ulama yang mendirikan pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo yang beristrikan putri Susuhunan ke II, kesultanan Surakarta.
Tjokroaminoto memang lahir dari keluarga priayi dan sempat dari tahun 1902-1905 bekerja sebagai Juru tulis Patih di Ngawi, sebuah pekerjaan yang lumrah bagi para priayi. Tapi ia memutuskan berhenti secara terhormat dari pekerjaannya. Ia lebih senang memilih “bunuh diri kelas” dengan menempuh jalan yang berbeda dengan ayah dan kakeknya. Ia muak melihat praktek-praktek tradisi yang berbau feodalisme. Namanya sendiri dipotong menjadi Oemar Said Tjokroaminoto, yang nantinya setelah menunaikan ibadah haji menjadi: Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau disingkat HOS. Tjokroaminoto.
Adanya colour lines (garis warna) dalam pemerintahan Belanda sangat dirasakan oleh Tjokro. Menurutnya, garis warna menyebabkan terjadinya sub-ordinasi politik dan ekonomi, serta terbatasnya jaminan sosial. Hal yang berlaku adalah hubungan “Tuan-Hamba”, seorang hamba- rakyat jelata berkewajiban melayani segala kebutuhan Tuannya-penjajah kolonial. Terjadilah diskriminasi di semua bidang kehidupan rakyat bangsa Indonesia kala itu.
Tjokro memilih untuk singgah di Semarang dan Surabaya guna mencari pekerjaan di dua kota tersebut. Selama tahun 1905-1907 ia bekerja sebagai kuli pelabuhan di Semarang. Selain menjadi kuli, tahun 1905-1910 juga ia bekerja di sebuah firma (advokat) Kooy & Co di Surabaya. Di Surabaya pula ia sempat menjadi leerling machinist (pembantu bagian mesin) di Pabrik gula dan terakhir menjadi bagian chemiker (bagian kimia).
Secara formal Tjokroaminoto menempuh pendidikannya di OSVIA (Opleidingsschool voor Inlandsch Ambtenaren) di Magelang dan tamat tahun 1902. Kemudian melanjutkan sekolahnya di Pamong Praja, sekolah untuk menjadi pegawai pemerintahan di zaman Belanda. Tahun 1905-1910, ia menempuh sekolah Sipil malam, Burgerlijke Avondschool (BAS) di Surabaya.
Pendidikan Islam didapatnya dari rumahnya sendiri dan dari orang-orang sekitar daerah Madiun hingga Magelang. Setelah dewasa, dengan kemampuannya di bidang sastra Jawa dan bahasa asing (Belanda dan Inggris), ia kemudian mempelajari Islam secara otodidak. Selain itu, ia juga mengasah kemampuan jurnalistiknya dengan menjadi wartawan beberapa surat kabar seperti: Bintang Soerabaya, Utusan Hindia, dan direktur-redaktur Fajar Asia.
Pada tahun 1912, ia kedatangan tiga orang, termasuk Samanhudi di dalamnya, yang berasal dari Sarekat Islam. Akhirnya setelah diskusi panjang, Tjokroaminoto kemudian dibai‟at sebagaimana lazimnya berlaku untuk anggota SI yang baru masuk. Sejak saat itu resmilah Tjokro menjadi anggota SI.
Tahun 1912 juga menjadi titik terang dalam perjalanan hidup Tjokro. Ia berubah dari menghidupkan mesin-mesin pabrik kepada menghidupkan mesin “kekuatan Islam” dalam jiwa bangsa, Umat Islam. Ruh mereka hampir mati akibat penjajahan. Dari seorang chemiker-ahli mengolah bahan kimia, menjadi seorang ahli yang dapat mengolah semangat pribumi yang lemah, menjadi kekuatan pendobrak massal yang menakutkan bagi penjajahan.
Sejak tahun 1912 hingga akhir hayatnya Tjokroaminoto adalah ketua SI, sekalipun nama organisasi berubah-ubah (SI, PSI, PSIHT, PSII). Tidak ada orang yang mampu menandinginya kala itu. Ia dikenal sebagai: organisator ulung, ideolog, konseptor dan orator penggerak massa, tapi lebih dari itu ia adalah seorang penemu (founder) yang menemukan jawaban tepat untuk permasalahan yang dihadapi rakyat terhadap penjajahan. Ia juga-lah yang pertama kali mencetuskan ide revolusioner, “Indonesia Merdeka”.
Bagi Tjokroaminoto, yang mampu menjadi solusi permasalahan bangsanya adalah: ISLAM; yaitu Islam yang “hidup‟. Islam yang datang dari Yang-Maha-Hidup. Islam yang telah menghidupkan orang-orang badui penghuni padang pasir menjadi orang-orang berbudaya yang menyumbangkan berbagai pemikiran dan budaya ke peradaban dunia. Islam yang menjadi penyelamat manusia dari dunia hingga akhirat. Ia mengatakan, “Kita menghendaki ISLAM sebagai yang diajarkan dan diamalkan pada zaman permulaannya: ISLAM tidak dengan tambahan barang baru, tetapi ISLAM dalam kesuciannya semula.”
Islam yang dimaksudkan adalah yang meliputi pengertian agama, politik, undang-undang dan para penganutnya. Islam yang mengikuti jejak contoh yang telah dipraktekkan Nabi Muhammad saw. Ketegasan beliau dalam memegang prinsip Islam dapat kita lihat dalam politik yang dikenal sebagai “Politik non-kooperasi”. Di kalangan partai SI disebut sebagai Sikap-Hijrah.
Setelah menyodorkan wasiat tertulis yang disahkan pada Kongres PSII ke-20 pada bulan Maret 1934 sebagai Regliment (aturan) Pedoman Umat Islam, keadaan Tjokroaminoto semakin memburuk. Beberapa kali ia jatuh sakit dan harus menjalani perawatan. Di bulan Ramadhan 1353 H, Tjokro menderita sakit yang amat parah di Yogyakarta.
Konon, menurut cerita yang tersebar, selama dalam kondisi sakit sekonyong-konyong Tjokro terlihat bangkit dan duduk secara tiba-tiba, dan dari mulutnya terucap, “Aku bertemu Rasulullah.”. Kemudian ia tidur kembali. Kadangkala terdengar lantunan suara al-Qur‟an yang begitu fasih dan merdu disertai cahaya terang yang berpendar keluar ruangan kamarnya. Peristiwa-peristiwa itu terjadi berulang-ulang hingga akhirnya pada tanggal 17 Desember ia benar-benar berpulang ke rahmatullah.
Bagi bangsa Indonesia, Tjokroaminoto adalah legenda. Dari tangannyalah lahir para konseptor, pemimpin-pemimpin besar bangsa dengan ideologi dan pandangan yang berlain-lainan. Murid- muridnya yang utama antara lain: Semaoen, Soekarno dan Kartosoewirjo.
Selama membangun Syarekat Islam, Tjokro sering dielu-elukan masyarakat kecil. Mereka berebut menyalaminya, bahkan berlomba-lomba meraih kain Tjokro yang menjuntai ke tanah sekadar untuk ngalap berkah. Tjokro, dalam pandangan masyarakat kecil, tak ubahnya mesias alias Ratu Adil. Ditambah kumisnya yang khas dan suara bariton yang lembut, berat dan berkarisma, ia dapat memukau ribuan hadirin dengan orasinya. Dengan kemampuan dan karismanya, tak salah jika ia disebut sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota oleh pejabat kolonial yang sempat bertemu dengannya.
Begitulah seorang guru bangsa yang mencita-citakan pekik kemerdekaan dan kebangkitan nasional yang hakiki. Beliaulah salah satu pendahulu yang telah mencetak kader-kader pemimpin bangsa. Sekalipun pada akhirnya terjadi pertikaian dan tragedi di antara murid-muridnya, ia tetaplah dipandang sebagai sosok yang membangkitkan bangsa ini dari cengkeraman penjajah. [Iman Adipurnama/islampos]
*dicuplik dari buku “Manhaj Bernegara Dalam Haji: Kajian Sirah Nabawi di Indonesia” karya: Muhammad Rasuli Jamil

Mustafa Kemal Ataturk : Pemimpin Islam Yang Dilaknati Allah

Assalamualaikum dan salam sejahtera buat semua pembaca blog ini.
Dengan nama Allah yang maha pemurah lagi maha pengasih. 

Saya mulakan entri kali ini dengan ingin kongsikan kisah benar mengenai seorang pemimpin islam yang  dilaknati Allah s.w.t diatas pembaharuan dan juga pemodenan yang dilakukannya yang jelas ingin menjahanamkan dan melenyapkan islam. Siapa tidak kenal dengan Mustafa Kamal Ataturk . Beliau ini telah digelar sebagai Bapa Pemodenan Turki dan namanya terkenal diseluruh dunia baik di dunia islam mahupun barat. Beliau ini telah mencetuskan gerakan turki Muda dan akhirnya telah berjaya menjatuhkan institusi kekhalifahan Uthmaniyah pada 1923.  Namun kenaikannya bukan menyatukan umat islam tetapi sebaliknya menjadi tali barut agen laknatullah dalam menghancurkan islam.

Sejarah dan Latar Belakang Kemal Atartuk

Mustafa Kemal Ataturk  diberi gelaran al-Ghazi (orang yang memerangi). nama Kemal diberikan oleh guru-gurunya semasa di sekolah, dan kalimah Ataturk yang bermaksud “Bapa Turki” pula diberikan sejurus selepas kejayaan beliau menghapuskan khilafah Othmaniyyah dengan sebuah pemerintahan sekular republik  Ataturk ialah orang yang bertanggungjawab meruntuhkan Khilafah Islam -Turki pada tahun 1343H (1924M).Beliau dilahirkan pada tahun 1299H (1880M) di bandar salonika, Greek yang ketika itu merupakan taklukan kerajaan dinasti Uthmaniyyah.

Sejarah telah membuktikan rekod buruk Mustafa ini dari sejak kecil lagi. Ada yang berpendapat Mustafa ini adalah seorang anak luar nikah yang telah diprogramkan oleh Yahudi untuk meruntuhkan Islam dan berkemungkinan bapa beliau adalah seorang Yahudi Donme iaitu Ali Riza suami kepada Zubeyde (Zubaidah). Ali Riza pula terkenal pula dengan sikapnya yang kuat minum arak dan terlibat di dalam angkatan tentera, selalu meninggalkan isterinya dan beliaulah yang bertanggungjawab menanamkan fahaman sekular kepada anaknya. Sejak Mustafa kecil lagi beliau ingin anaknya dididik dengan sistem barat dan mempersiapkan diri dengan ideologi-ideologi sekular.  


Ketika Mustafa Kemal mencapai usia 12 tahun, beliau memasuki Sekolah Tentera Salonika. Kemudian beliau menyambung pelajaran di Akademi Tentera Monasitar pada tahun 1302H (1885M). Pada tahun 1322H (1905M), beliau memasuki kolej tentera di Istanbul dan menamatkan latihan ketenteraannya pada tahun 1325H. (1907M). Kemudiannya, beliau telah ditugaskan di Kem Tentera Batalion ketiga di Salonika.

Keburukan Mustafa semakin terserlah apabila beliau tidak berminat dengan didikan agama dan beliau sering menentang serta membenci guru-guru agamanya di sekolah dan sebaliknya pula beliau cukup berminat dengan cara pendidikan barat, maka tidak hairanlah sekiranya beliau pernah mendapat pendidikan khas dari gereja Kristian selepas kematian bapanya yang diserang penyakit istentinal tuberculosis.

Disini bermulanya usaha Kemal Ataturk dalam memusuhi Khalifah Uthmaniyah dan agama islam. Dengan kedudukannya sebagai graduan kolej tentera, beliau telah mengingatkan rakan-rakan pegawainya agar tidak tertipu dengan pemikiran dunia Islam.Akhirnya pada tahun 1922, di zaman pemerintahan Sultan Mohammad IV sistem kesultanan dimansuhkan walaupun Sultan Abdul Majid masih lagi kekal di atas takhta sebagai boneka selepas pemansuhan sistem tersebut. ‘Republik Turki’ yang diimpikan oleh Ataturk telah dilaksanakan dengan rasminya pada tahun 1923 dan Ataturk telah menjadi ketua negara yang pertama pada 20 Oktober 1923. Dengan terlantiknya pemimpin sekular agung ini, maka dengan rasminya sistem khalifah tidak dibenarkan lagi beroperasi di Turki pada 3 Mac 1924. Dengan itu berakhirlah sebuah Daulah Islam yang agung yang menjadi benteng umat islam diseluruh dunia ketika itu dimana telah  digantikan dengan sebuah Daulah Sekular di bawah kepimpinan  si laknatullah Mustafa Kemal Ataturk

Khalifah dinasti Utmaniyah yang terakhir, Sultan Abdul Majid telah diusir meninggalkan pusat pentadbiran Daulah Khilafah di Turki pada subuh hari tersebut hasil daripada persidangan Majlis Nasional yang diketuai oleh Laknatullah Mustafa Kamal melalui konspirasi jahat kafir Barat. Semuanya telah berlalu dan kehidupan umat Islam kini lemah tanpa ada pembela gara-gara si Kamal Ataturk keparat ini..

Di antara pembaharuan dan pemodenan besar yang dilakukan selain daripada menghapuskan sistem kekhalifahan Islamiah ialah :

 a) Menandatangani Perjanjian Luzan

Pada awal abad ke-20 masihi, Mustafa Kamal Atartuk menandatangani satu perjanjian dengan Inggeris dan kuasa bersekutu barat. Dalam perjanjian tersebut, terdapat empat syarat penting yang perlu di patuhi oleh beliau iaitu:

 Sistem Khalifah Islamiah mesti dihapuskan 

Mengeluarkan atau menghapus sesiapa sahaja penyokong Khalifah dan pejuang Islam dari bumi Turki .Mengguna pakai perlembagaan Turki baru (yang sekular) sebagai ganti kepada perlembagaan Turki lama (yang mengikut syariat Islam).Jika dilihat kepada syarat-syarat perjanjian di atas jelas sekali beliau adalah anti ajaran Islam. Beliau cuba menghapuskan sistem Khalifah Islamiah yang telah wujud sejak dari zaman khulafa ar-rasyidin lagi dan tidak mahu melaksanakan syariat Islam dalam urusan pemerintahan Negara dan sekaligus mahu melaksanakan system pemerintahan sekular ciptaan barat Kristian. dan akhirnya daulah islamiah yang tegak berdiri akhirnya runtuh.

b) Menukar Peraturan Syariat Islam Dengan Undang-undang Barat

Setelah berkuasa, Mustafa Kamal menukar undang-undang syariat Islam dengan undang-undang Barat sedikit demi sedikit, iaitu di ambil undang-undang sivil dari Switzerland, undang-undang jinayah dari Itali, undang-undang perundangan dari Jerman dan lain-lain lagi. Apa yang dilakukan adalah satu usaha kearah mahu melaksanakan kehendak perjanjian Luzan dan bagi menghalang syariat Islam dari dilaksanakan di dalam system pemerintahan Turki.

 c) Memisah Dan Mengasingkan Urusan Agama Dengan Politik Dan Negara

Mustafa Kamal merupakan seorang pemimpin Negara Islam pertama yang melakukan pemisahan antara agama dan politik. Bagi menjayakan pemisahan itu, beliau pernah menyebut “Tidak ada politik dalam agama dan tidak ada agama dalam politik” Ini bererti beliau telah menerima dan malaksanakan fahaman sekular yang di ambil dari barat dalam sistem pemerintahannya. Sistem itu memang bercanggah dengan ajaran Islam. Islam satu-satunya agama yang lengkap dan sempurna, ajarannya melipuli segala urusan hidup manusia di dunia dan akhirat. Ajarannya meliputi perkara-perkara akidah, syariat dan akhlak. Ajaran Islam tidak ada pemisahan antara agama dan politik Nabi S.A.W, para sahabat, para ulama dan lain-lain lagi. Semuanya menghayati keseluruhan ajaran agama yang merangkumi ketiga-tiga perkara pokok diatas. Mereka juga kuat beribadat, berpolitik, berniaga, belajar, bersukan dan lain-lain lagi.

d) Azan ditukarkan ke dalam Bahasa Turki

Setelah Mustafa Kemal Atartuk berkuasa di Turki, beliau mengeluarkan perintah kapada semua rakyat Turki Islam supaya azan dilakukan dalam bahasa Turki, iaitu ditukar azan dari bahasa Arab kepada bahasa Turki. Sedangkan azan disyariatkan oleh Rasullah S.A.W dalam bahasa Arab sebagaimana yang kita ketahui. Syariat ini berjalan semenjak dahulu sampai sekarang dan seterusnya sampai ke hari kiamat. Azan tidak boleh digunakan dalam bahasa lain selain bahasa Arab. Walaupun begitu Mustafa memaksa rakyat melakukan azan dalam bahasa Turki. Namun begitu dibeberapa tempat pedalaman umat Islam yang yakin kepada Islam tetap melakukan azan dalam bahasa Arab secara senyap-senyap bagi mengelak dari di ketahui oleh pihak berkuasa.

e) Al-Quran Dicetak Dalam Bahasa Turki

Bukan sahaja azan dipaksa supaya dilakukan dalam bahasa Turki, bahkan dipaksa supaya al-Quran dicetak dalam bahasa Turki dengan mengguna tulisan rumi. Beliau tidak mahu al-Quran ditulis dan dicetak dalam bahasa Arab sebagaimana ia diturunkan. Tindakan beliau ini merupakan satu jenayah besar dilakukan oleh beliau. Ulama Islam dahulu dan sekarang sepakat mengharamkan al-Quran ditulis dalam tulisan selain bahasa Arab.

f) Memaksa Perempuan Membuka Atau Mendedahkan Aurat.

Bagi membaratkan muslimat Turki dan menjauhkan mereka dari ajaran Islam yang sebenar, Mustafa Kamal memaksa mereka membuka hijab, mengharamkan pemakaian tudung. tetapi beliau mengalakkan wanita islam mendedahkan aurat, mendedahkan kepala dan menggalakkan memakai pakaian ala wanita barat. Manakala kaum lelaki dilarang memakai tarbus, serban dan dipaksa memakai topi keras seperti yang dipakai oleh orang barat Kristian. Dengan lama kelamaan rakyat Turki terus memakai pakaian seperti itu sehingga mereka seolah-olah orang barat.

g) Ditukar Hari Cuti Umum Kepada Hari Ahad

Kalau sebelum itu seluruh Negara Islam menjadikan cuti umum pada hari Jumaat, Mustafa Kamal merupakan pemimpin Islam pertama yang menukarkan cuti tersebut kepada hari Ahad sama seperti cuti di negera-negera barat Kristian. Perubahan yang dilakukan ini jelas kepada kita bahawa beliau ingin mengikut barat dan anti Islam. Itu adanya agenda beliau yang tersendiri yang sedikit sebanyak cuba menarik umat Islam Turki meniru gaya barat. Selain itu beliau juga menukar kalendar tahun Hijrah kepada kelendar tahun Masihi seperti yang diamalkan di barat. Kemudian lama-kelamaan umat Islam Turki lupa tahun Hijrah dan lupa cuti umum hari Jumaat. Akhirnya mereka lebih mesra dengan menggunakan cuti hari Ahad dan mengikut kalendar tahun Masihi sehingga ke hari ini.

lihat sahaja gambar diatas uniform yang dipakai laknatullah ini terdapat logo lambang salib 

Lain-lain pembaharuan atau dosa  yang dilakukan Kamal Atartuk

* Menghapus penggunaan kalendar Islam dan menukarkan huruf Arab kepada huruf Latin
* Menggubal undang-undang perkahwinan berdaftar berdasarkan undang-undang barat
* Menghapuskan Kementerian Wakaf dan menghapuskan kementerian Perundangan Syariah.
* Menukar Masjid Ayasophia kepada muzium, ada sesetengah masjid dijadikan gereja.
Menutup masjid serta melarang dari bersembahyang berjemaah.
* Membatalkan undang-undang waris, faraid secara islam.
Menyerang Islam secara terbuka dan terang-terangan
* Agama Islam telah digugurkan sebagai agama rasmi negara.

Setelah Ataturk berjaya mensekularkan bumi Othmaniyah , banyak pula ulamak yang masih teguh dengan amalan-amalan mereka dibunuh terutama ulamak –ulamak sufi dari pelbagai tareqat contohnya, halaqah-halaqah tareqat NaqsyabandiahQadiriyah dan Ghazaliah, mereka dianggap seperti kumpulan rahsia yang merancang untuk menjatuhkannya daripada tampuk pemerintahan. Ini dapat dilihat sepertimana kata-kata beliau di dalam sebuah buku yang bertajuk “Ataturk’s Republic of Culture yang boleh didapati di mana-mana kedutaan Turki yang mana beliau telah menyatakan bahawa republik Turki tidak akan didiami oleh sheikh-sheikh dan ahli-ahli tareqat yang bersangkut paut dengan alam kerohanian. Dengan kuasa yang ada, Ataturk telah membuat dasar pelaksanaan negara melalui ideologi Kemalismanya yang jauh menyimpang dari ajaran Islam.

Demikianlah jika tidak keterlaluan saya katakan  adalah dosa-dosa yang dilakukan oleh Ataturk. Perubahan yang dilakukan Ataturk jelas bersifat sekular dimana seolah-olah ingin melenyapkan sinar Islam di bumi Turki sewaktu beliau berkuasa memerintah Turki. Perubahan-perubahan  yang disebut di atas itu kemudiannya disambung lagi oleh pengganti beliau silih berganti sehingga akhirnya jadilah Turki sebuah negara sekular dan rakyatnya juga turut menghayati sistem atau fahaman tersebut sama seperti masyarakat barat sehingga mereka jauh dari ajaran Islam yang sebenar.


Kematian Kamal Atartuk Yang Menyeksakan

Allah itu maha adil, di saat kematian Kemal Atartuk, Allah telah datangkan beberapa azab  penyakit kepada beliau sehingga beliau rasa terseksa dan tidak dapat menanggung seksaan dan azab yang Allah berikan di dunia. antaranya didatangkan penyakit kulit hingga ke kaki dimana beliau merasa gatal-gatal seluruh badan, sakit jantung, penyakit darah tinggi, merasa panas sepanjang masa dan tidak pernah merasa sejuk bahkan sehingga terpaksa diarahkan kepada bomba untuk menyiram rumahnya 24 jam. Pembantu-pembantunya juga diarahkan untuk meletak ketulan-ketulan ais di dalam selimut untuk menyejukkan beliau

Oleh kerana tidak tahan dengan kepanasan yang ditanggung, beliau menjerit sehingga seluruh istana mendengar jeritan itu. Oleh kerana tidak tahan mendengar jeritan, mereka-mereka yang bertanggung jawab telah menghantar beliau ke tengah lautan dan diletakkan dalam bot dengan harapan beliau akan merasa sejuk. Allah itu Maha Besar, panasnya tak jugak hilang! Pada 26 september 1938, beliau pengsan selama 48 jam disebabkan terlalu panas dan sedar selepas itu tetapi beliau hilang ingatan.
Pada 9 November 1938, beliau pengsan sekali lagi selama 36 jam dan akhirnya meninggal dunia. Sewaktu beliau meninggal, tidak seorang pun yang memandikan, mengkafankan dan menyembahyangkan mayat beliau.

Mayatnya diawetkan selama 9 hari 9 malam, sehingga adik perempuan beliau datang meminta ulama-ulama Turki memandikan, mengkafankan dan menyembahyangkannya. Tidak cukup dari itu, Allah tunjukkan lagi balasan azab ketika mayatnya di bawa ke tanah perkuburan. Bila mayatnya hendak ditanam, tanah tidak menerimanya (tak dapat nak bayangkan bagaimana tanah tidak menerimanya).

Disebabkan putus asa, mayatnya diawetkan sekali lagi dan dimasukkan ke dalam muzium yang diberi nama EtnaGrafi (kalau tak silap dengar) selama 15 tahun sehingga tahun 1953). Selepas 15 tahun mayatnya hendak ditanam semula, tapi Allah Maha Agung, bumi sekali lagi tak menerimanya. Habis ikhtiar, mayatnya dibawa pula ke satu bukit ditanam dalam satu binaan marmar beratnya 44 tan. Mayatnya ditanam di celah-celah batu marmar. Apa yang menyedihkan, ulama-ulama sezaman dengan Kamal Atartuk telah mengatakan bahawa jangan kata bumi Turki, seluruh bumi Allah ini tidak menerima Kamal Atartuk!

inilah makam Mustafa Kemal Ataturk yang hanya dikebumikan dicelah timbunan batu marmar kerana jasadnya tidak diterima bumi Allah

Inilah rentetan kisah sebenar Mustafa Kamal Attartuk yang membelakangi Islam dan Allah dan dalam masa yang sama ingin menjahanamkan islam !! tetapi Allah s.w.t itu maha berkuasa dan maha adil diatas setiap dosa-dosa yang dilakukan oleh Kemal Ataturk si laknatullah yang memusuhi dan ingin melenyapkan sinar islam dari muka bumi ini.  Berdasarkan keterangan di atas, benarlah bahawa Ataturk yang dikatakan Bapa Pemodenan Turki itu bukanlah seorang wira anak bangsa, bahkan beliau lebih zalim daripada segelintir sultan-sultan terakhir Othmaniyah. Akhirnya pada 10 November 1938, Ataturk telah dicabut nyawanya dengan azab yang amat dahsyat sekali. Cara kematian yang Allah datangkan pada Ataturk ini, sama seperti yang Allah lakukan kepada pemimpin-pemimpin zalim terdahulu, seperti Firaun dan Namrud. Allah hanya menggunakan air laut untuk menenggelamkan Firaun dan seekor nyamuk untuk membunuh Namrud. 

nota tambahan dari saya :

H.S. Armstrong, antara salah seorang pembantu Ataturk dalam bukunya yang berjudul al-Zi’bu al-Aghbar atau al-Hayah al- Khasah li taghiyyah telah menulis:

Sesungguhnya Ataturk adalah daripada keturunan Yahudi. nenek moyangnya adalah Yahudi yang berpindah dari Sepanyol ke bandar Salonika.’

Golongan Yahudi ini dinamakan dengan Yahudi Daunamah yang terdiri daripada 600 buah keluaga. Mereka mendakwa memeluk Islam pada tahun 1095H (1683M), tetapi masih menganut agama Yahudi secara senyap-senyap. Ini diakui sendiri oleh bekas Presiden Israel, Yitzak Zifi, dalam bukunya Daunamah terbitan tahun 1377H (1957M).Ada kumpulan-kumpulan agama yang masih menganggap diri mereka sebahagian daripada Bani Israel.Antara mereka ada satu kumpulan iaitu kumpulan Daunamah yang Islam hanya pada zahir tetapi mengamalkan ajaran Yahudi secara senyap-senyap.

p/s : untuk rujukan bacaan anda boleh baca buku Tamadun Islam tulisan mahyudin haji yahya dan dalam buku TITAS ( Tamadun Islam Tamadun Asia)  ada menyentuh mengenai pembaharuan yang dilakukan oleh Kemal Atartuk dan juga mengenai gerakan turki muda.

dan untuk further reading  saya syorkan anda baca buku ini ==> 

 'Kamal Ataturk : ideologi dan kesannya ke atas rakyat Turki ' .  ada 1 copied di library UM.

*terimakasih pada blogger Redzuan-Ridz saya mohon izin menyalin.

13 April 2015

Memahami dan Menyelami Tarian Asli di Kasunanan Surokarto Hadiningrat, Jawa Tengah


TARI BEDHAYA KETAWANG TARIAN TRADISIONAL DARI SURAKARTA, JAWA TENGAH

Tarian ini merupakan tarian salah satu tarian kebesaran saat penobatan dan peringatan kenaikan tahta raja di Kasunanan Surakarta, jawa tengah. Namanya adalah Tari Bedhaya Ketawang.

Apakah Tari Bedhaya Ketawang itu?

Tari Bedhaya Ketawang adalah tarian kebesaran yang hanya di pertunjukan ketika penobatan serta peringatan kenaikan tahta raja di Kasunanan Surakarta. Tarian ini merupakan tarian sakral yang suci bagi masyarakat dan Kasunanan Surakarta. Nama Tari Bedhaya Ketawang diambil dari kata bedhaya yang berarti penari wanita di istana, dan ketawang yang berarti langit, yang identik sesuatu yang tinggi, kemuliaan dan keluhuran.

Bedhaya Ketawang adalah tarian asal Kasunanan Surokarto Hadiningrat yang sesungguhnya berasal dari Kasultanan Mataram Hadiningrat. Bedhaya Ketawang berarti tarian langit. Karena tarian ini mengisahkan tentang pergerakan bintang-bintang di langit. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa tarian ini mengisahkan tentang pernikahan Kanjeng Panembahan Senopati raja Mataram Pertama dengan Kanjeng Ratu Kidul yang menguasai Laut Selatan.

Menurut sejarahnya, tarian ini berawal ketika Sultan Agung memerintah kesultanan Mataram tahun 1613 – 1645. Pada suatu saat Sultan Agung melakukan ritual semedi lalu beliau mendengar suara senandung dari arah langit, Sultan agung pun terkesima dengan senandung tersebut. Lalu beliau memanggil para pengawalnya dan mengutarakan apa yang terjadi. Dari kejadian itulah Sultan Agung menciptakan tarian yang diberi nama bedhaya ketawang. Ada pula versi lain yang mengatakan bahwa dalam pertapaannya Panembahan Senapati bertemu dan memadu kasih dengan Ratu Kencanasari atau Kangjeng Ratu Kidul yang kemudian menjadi cikal bakal tarian ini.

Namun setelah perjanjian Giyanti pada tahun 1755, dilakukan pembagian harta warisan kesultanan mataram kepada Pakubuwana III dan Hamengkubuwana I. Selain pembagian wilayah, dalam perjanjian tersebut juga ada pembagian warisan budaya. Tari Bedhaya Ketawang akhirnya di berikan kepada kasunanan Surakarta dan dalam perkembangannya tarian ini tetap dipertunjukan pada saat penobatan dan upacara peringatan kenaikan tahta sunan Surakarta.


Tari Bedhaya Ketawang ini menggambarkan hubungan asmara Kangjeng Ratu Kidul dengan raja mataram. Semua itu diwujudkan dalam gerak tarinya. Kata – kata yang terkandung dalam tembang pengiring tarian ini menggambarkan curahan hati Kangjeng Ratu Kidul kepada sang raja. Tarian ini biasanya di mainkan oleh sembilan penari wanita. Menurut kepercayaan masyarakat, setiap pertunjukan Tari Bedhaya Ketawang ini dipercaya akan kehadiran kangjeng ratu kidul hadir dan ikut menari sebagai penari kesepuluh.

Sebagai tarian sakral(yang suci atau keramat), ada beberapa syarat yang harus di miliki setiap penarinya. Syarat yang paling utama iaitu para penari harus seorang gadis suci dan tidak sedang haid. Jika sedang haid maka penari harus meminta ijin kepada Kangjeng Ratu Kidul lebih dahulu dengan melakukan caos dhahar di panggung sanga buwana, keraton Surakarta. Hal ini di lakukan dengan berpuasa selama beberapa hari menjelang pertunjukan. Kesucian para penari sangat penting, karena konon katanya, saat latihan berlangsung, Kangjeng Ratu Kidul akan datang menghampiri para penari jika gerakannya masih salah.

Pada pertunjukannya, Tari Bedhaya Ketawang di iringi oleh iringan musik gending ketawang gedhe dengan nada pelog. Instrumen yang di gunakan diantaranya adalah kethuk, kenong, gong, kendhang dan kemanak. Dalam Tari Bedhaya Ketawang ini di bagi menjadi tiga babak (adegan). Di tengah tarian nada gendhing berganti menjadi slendro selama 2x. Setelah itu nada gending kembali lagi ke nada pelog hingga tarian berakhir.

Selain di iringi oleh musik gending, Tari Bedhaya Ketawang di iringi oleh tembang (lagu) yang menggambarkan curahan hati kangjeng ratu kidul kepada sang raja. Pada bagian pertama tarian diiringi dengan tembang Durma, kemudian di lanjutkan dengan Ratnamulya. Pada saat penari masuk kembali ke dalem ageng prabasuyasa, instrument musik di tambahkan dengan gambang, rebab, gender dan suling untuk menambah keselarasan suasana.

Dalam pertunjukannya, busana yang di gunakan penari dalam Tari Bedhaya Ketawang adalah busana yang di gunakan oleh para pengantin perempuan jawa, yaitu Dodot Ageng atau biasa di sebut Basahan. Pada bagian rambut menggunakan Gelung Bokor Mengkurep, yaitu gelungan yang ukurannya lebih besar dari gelungan gaya Yogyakarta. Untuk aksesoris perhiasan yang di gunakan diantranya adalah centhung, garudha mungkur, sisir jeram saajar, cundhuk mentul, dan tiba dhadha (rangkaian bunga yang di kenakan pada gelungan, yang memanjang hingga dada bagian kanan). 

Pada awalnya Tari Bedhaya Ketawang dipertunjukkan selama dua setengah jam. Tetapi sejak zaman Pakubuwana X diadakan pengurangan, hingga akhirnya menjadi berdurasi satu setengah jam. Tari Bedhaya Ketawang ini tidak di tampilkan setiap saat, karena sebagai salah satu tradisi upacara keraton. Tarian hanya di tampilkan pada saat penobatan dan peringatan kenaikan tahta raja di Kasunanan Surakarta. Karena sifatnya yang sakral, untuk menyaksikan tarian ini tentunya ada beberapa syarat yang harus di penuhi.


Bedhaya Ketawang terdiri dari 9 orang penari yang melambangkan 9 lubang di tubuh manusia (mulut, lubang hidung, lubang mata, lubang telinga, anus dan kemaluan), 9 mata angin dan 9 dewa yang menempati mata angin dan 9 fase hidup manusia. Kesembilan penari ini dinamakan satu set. Biasanya, Keraton Kasunanan akan menyiapkan 2 set untuk berjaga-jaga. Bedhaya Ketawang hanya akan ditarikan pada saat Jumenengan Dalem atau Tingalan Jumenengan Dalem Susuhunan Pakubuwono (Penobatan atau Peringatan Pengobatan Susuhunan Pakubuwono) dan dilarang ditarikan pada saat lain selain itu. Jika saat latihan terdapat 2 set, maka jumlah penari akan menjadi 2 set lebih satu atau ada 19 orang yang latihan menari. Dengan Kanjeng Ratu Kidul ikut menari menjadi penari ke-19 dan saat pentas akan ditampilkan 1 set, maka penarinya akan menjadi 1 set lebih 1 atau 10 penari dengan Kanjeng Ratu Kidul menjadi penari ke-10. 


Setiap penari memiliki jabatan atau peranan masing-masing seperti :
  • Apit mburi : lengan kiri
  • Apit ngarep : lengan kanan
  • Apit meneng : kaki kiri
  • Batak : jiwa pikiran
  • Buncit : organ kemaluan
  • Dadha : dada
  • Endhel ajeg : nafsu
  • Endhel weton : kaki kanan
  • Jangga (gulu) : leher
Para penari memiliki motivasi tersendiri bahwa jika mereka tidak benar melakukan tarian, maka mereka akan ditarik oleh Kanjeng Ratu Kidul ke laut. Syarat-syarat para penari adalah harus perawan dan tidak dalam keadaan haid. Jika penari tiba-tiba mengalami masa haidnya, maka penari itu akan digantikan oleh penari lain. untuk pakaiannya, adalah sebagai berikut:

Dodot bermotif alas-alasan dan panjang 4 meter

  • samparan bermotif cinde merah dililitkan dari kiri ke kanan satu kali dan sisa kain dijadikan ekor dengan nama seredan.
  • sondher bermotif cinde sekar warna merah. sondher adalah kain yang dijadikan selendang menari.
  • Saat penari menampilkan Tari Bedhaya Ketawang, jika ada pakaian penari yang rusak atau kendur maka abdi dalem keparak siap untuk membetulkan. Namun, para penari tidak berhenti menari. Jadi abdi dalem lah yang membetulkan sambil mengikuti gerakan sang penari.
  • Gamelan yang mengiringi "Kyai Kaduk Manis" dan "Kyai Manis Renggo" dan instrumen yang digunakan hanya Kemanak, Kethuk, Kenong, Kendhang Ageng, Kendhang Ketipung, dan Gong Ageng. Tarian ini merupakan tarian erotis karena bisa mengundang birahi laki-laki jika disaksikan dengan khidmat, namun erotisme itu tersembunyi dan dikemas oleh gerakan-gerakan yang lembut dan halus. Tarian ini ditarikan pada Jumenengan nDalem atau Tingalan Jumenengan nDalem.
Gamelan atau muzik semasa Tarian Bedhaya Ketawang

Tarian ini mewajibkan para penarinya berlatih pada hari Selasa-Kliwon karena Selasa-Kliwon adalah hari dimana Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul mengikat sumpah iaitu sumpah Kanjeng Ratu untuk melindungi Mataram dan sumpah Panembahan Senopati untuk menikahkan semua raja keturunannya termasuk dirinya dengan Kanjeng Ratu sebagai tanda pertemanan. Oleh karena sumpah ini, Susuhunan biasanya akan memilih satu diantara 9 penari yang dirasakan sebagai penjelmaan Kanjeng Ratu untuk dijadikan selirnya(gundik) sebagai tanda pemenuhan sumpah Panembahan Senopati.  Hari Selasa-Kliwon dinamakan hari Anggara Kasih dan dianggap sebuah hari yang istimewa dalam budaya Jawa dan Bali.

Dikisahkan seluruh pakaian yang dikenakan oleh para penari adalah hasil karya Kanjeng Ratu. Dan baju ini menjadi baju pernikahan Keraton dengan nama "Basahan". dan karena tarian ini juga menggambarkan keanggunan wanita jawa maka penari dipakaikan perhiasan emas seperti kelatbahu, giwang, cincin dan lain-lain.


Nah cukup sekian pengenalan tentang “Tari Bedhaya Ketawang Tarian Tradisional dari Surakarta, Jawa tengah”. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang kesenian tradisional di Indonesia.

03 February 2015

Siksa atas Pezina di Alam Kuburnya


Zina merupakan perbuatan dosa terburuk. Salah satu dosa besar yang paling besar. Dosa hina yang membuat Allah sangat murka. Terlebih kalau yang melakukannya sudah pernah menikah dan merasakan madu perkawinan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyediakan ancaman berat atas perbuatan zina. Allah menggandengkannya dengan ancaman atas perbuatan syirik dan pembunuhan. Ini menunjukkan status dosanya yang sangat berat dan termasuk bagian dari dosa besar yang paling besar.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqan: 68-69)

Sejumlah mufassirin menyebutkan makna atsam. Yaitu lembah di jahannam. Ikrimah mengatakan, “Mendapatkan atsam: lembah-lembah di jahannam di mana para pezina disiksa di dalamnya.” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir ayat di atas].

Di mana siksa atas mereka diipatgandakan dan mereka kekal di dalamnya dalam kondisi dihinakan sejadi-jadinya. Ini siksa di akhirat pasca dibangkitkan manusia. Adapun sebelum itu, di alam kuburnya, Allah sediakan siksa atas pezina yang juga mengerikan dan menghinakan. Yaitu para pezina laki-laki dan perempuan dipanggang di atas tungku yang bawahnya luas sementara atasnya sempit. Saat api menyalak ke atas, maka mereka terangkat sambil berteriak dan menjerit sekeras-kerasnya. Namun saat itu api mengecil dan mereka kembali di atas tungku. Siksa itu berulang sampai kiamat tiba. Mereka tak bisa keluar darinya. Sebuah kesengsaraan akibat kenikmatan haram sesaat.

Keterangan siksa di atas tercantum dalam hadits yang sangat panjang di Shahih al-Bukhari. Berasal dari Samurah bin Jundab Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Pada suatu pagi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bercerita kepada kami:

إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتِيَانِ وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِي وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقْ وَإِنِّي انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا. . . فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى مِثْلِ التَّنُّورِ قَالَ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فَإِذَا فِيهِ لَغَطٌ وَأَصْوَاتٌ قَالَ فَاطَّلَعْنَا فِيهِ فَإِذَا فِيهِ رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ وَإِذَا هُمْ يَأْتِيهِمْ لَهَبٌ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ فَإِذَا أَتَاهُمْ ذَلِكَ اللَّهَبُ ضَوْضَوْا

“Tadi malam aku didatangi dua orang. Keduanya berkata kepadaku: berjalanlah. Kemudian aku pergi berjalan bersama keduanya. . . lalu kami mendatangi bangunan menyerupai tungku api. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dan teriakan di dalamnya. Lalu kami melongok ke dalamnya. Ternyata di dalamnya terdapat beberapa laki-laki dan perempuan telanjang. Kobaran api dari bawah mereka menyalak ke mereka. Saat kobaran api itu mengenai mereka, maka mereka menjerit kesakitan.”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada kedua orang yang pergi bersamanya tadi, “Siapa mereka itu?” kemudian dijawab di ujung hadits,

وَأَمَّا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ العُرَاةُ الَّذِينَ فِي مِثْلِ بِنَاءِ التَّنُّورِ، فَإِنَّهُمُ الزُّنَاةُ وَالزَّوَانِي

“Adapun laki-laki dan perempuan telanjang yang berada di bangunan seperti tungku api adalah para laki-laki dan perempuan pezina.” (HR. Al-Bukhari)

Inilah siksa yang disediakan bagi pezina di alam kuburnya yang berlangsung hingga tiba kiamat. Sedangkan siksa berikutnya jauh lebih buruk dan mengerikan. Adakah orang yang masih berani mengap kenikmatan sesaat untuk kesengsaraan yang panjang. Wallahu A’lam

ISTILAH BERBAHASA SANTUN MENURUT AL-QUR’AN

Ada sebuah pepatah, “Lidah itu tidak bertulang, tetapi ia lebih tajam daripada pedang”. Pepatah ini benar adanya. Terluka oleh lisan akan lebih sakit dibanding terluka oleh pedang. Pasalnya, luka karena pedang banyak medical service yang memungkinkan penyembuhan. Tetapi, luka karena lisan belum tentu ada penawarnya, karena yang terluka bukanlah fisik melainkan batin.

Kata-kata yang keluar dari mulut kita tidak selamanya kita rasa baik, terkadang  secara sengaja atau tidak menyayat hati pendengarnya. Jika hal tersebut dibiarkan maka ucapan yang keluar dari mulut kita justru akan merugikan diri kita sendiri. Sehingga, ahli ibadah divonis celaka oleh Rasulullah saw gara-gara lisannya yang tidak terjaga. Dalam sebuah hadits dijelaskan:

قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ ص إِنَّ فُلَانَةَ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَتَقُوْمُ اللَّيْلَ وَ هِيَ سَيِّئَةُ الْخُلُقِ تُؤْذِى جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ لَا خَيْرَ فِيْهَا هَيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ


Dikatakan kepada Rasulullah saw., “Sesungguhnya si Fulanah shaum di siang hari dan tahajud di malam hari. Namun akhlaknya buruk. Ia suka menyakiti hati tentangganya dengan mulutnya”. Rasulullah bersabda, “Tidak ada kebaikan pada diri Fulanah itu. Ia termasuk ahli neraka”. (H.R. Ahmad).

I. PENDAHULUAN

Kemampuan berbicara berarti kemampuan berkomunikasi. Berkomunikasi adalah sesuatu yang diperlukan hampir di setiap kegiatan manusia. Dalam komunikasi kita dapat saling menumbuhkan persahabatan, memelihara kasih sayang, dan berbagi pengetahuan. Akan tetapi dengan komunikasi, kita juga dapat mengakibatkan perpecahan, permusuhan, dan kebencian. Kenyataan ini menjadi gambaran bahwa kegiatan komunikasi bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan oleh setiap manusia.

Pembahasan di dalam makalah ini adalah tentang qaulan. Qaulan adalah suatu pesan-pesan keislaman yang mana dalam penyampaiannya itu dilihat dari komunikasi menurut ajaran Islam. Mengenai caranya, dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits dapat ditemukan berbagai panduan agar komunikasi berjalan dengan baik dan efektif sehingga tidak terjadi suatu kesalahpahaman antara umat manusia dalam menyampaikan komunikasi dan komunikasi yang diterimanya. Kita dapat mengistilahkannya sebagai kaidah, prinsip, atau etika berkomunikasi dalam perspektif Islam. Yang mana kaidah, prinsip, atau etika komunikasi dalam Islam ini merupakan panduan bagi kaum muslim dalam melakukan komunikasi.

II. RUMUSAN MASALAH


A. Apakah arti dari Qaulan sadidan?
B. Apakah arti dari Qaulan balighan?
C. Apakah arti dari Qaulan kariman?
D. Apakah arti dari Qaulan maisuran?
E. Apakah arti dari Qaulan ma’rufa?
F. Apakah arti dari Qaulan layyinan?

III. PEMBAHASAN


A. Qaulan Sadidan

Qaulan sadidan terdiri dari kata qaul yang berarti perkataan atau pernyataan, dan sadid yang berarti tepat atau benar.[1] Kata ( سديدا) sadidanterdiri dari huruf sin dan dal yang menurut pakar bahasa, Ibn Faris, menunjuk kepada makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya. Ia juga berarti istiqomah/konsistensi. Kata ini juga digunakan untuk menunjuk kepada sasaran. Seseorang yang menyampaikan sesuatu/ucapan yang benar dan mengena tepat pada sasarannya dilukiskan dengan kata ini.
Dari kata ( سديدا) sadidan, yang mengandung makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya, diperoleh pula petunjuk bahwa ucapan yang meruntuhkan jika disampaikan, harus pula dalam saat yang sama memperbaikinya, dalam arti kritik yang disampaikan hendaknya merupakan kritik yang membangun, atau dalam arti informasi yang disampaikan haruslah baik, benar, dan mendidik.[2]
Q.S An-Nisa: 9
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (۹)
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.[3]


Q.S. Al-Ahzab: 70
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (۷۰)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.[4]


Dalam konteks ayat di atas kata qaul sadid ditujukan kepada orang-orang yang beriman, supaya mereka senantiasa berkata benar atau tepat dalam situasi dan kondisi apapun.[5] Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk selalu berkata benar, selaras antara yang diniatkan dan yang diucapkan, karena seluruh kata yang diucapkan dicatat oleh malaikat Raqib dan ‘Atid, dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Bila mereka tetap memelihara keimanan dan ketakwaan serta selalu mengatakan kebenaran, pasti Allah akan memperbaiki perbuatan dan mengampuni dosa-dosa mereka.[6]
Thahir Ibn Asyur menggaris bawahi kata ( قول ) qaul/ucapan yang menurutnya merupakan satu pintu yang sangat luas, baik yang berkaitan dengan kebajikan maupun keburukan. Sekian banyak hadits yang menekankan pentingnya memerhatikan lidah dan ucapan-ucapannya. “Manusia tidak disungkurkan wajahnya ke neraka kecuali akibat lidah mereka.” “Allah merahmati seseorang yang mengucapkan kata-kata yang baik sehingga dia memperoleh keselamatan.” “Barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari Kemudian, hendaklah dia berucap yang baik atau diam.” Demikian Ibnu Asyur mengemukakan tiga hadits Nabi saw dan yang selanjutnya menyatakan bahwa “perkataan yang tepat” mencakup sabda para nabi, ucapan para ulama’ dan para penutur hikmah. Membaca Al-Qur’an dan meriwayatkan hadits termasuk dalam hal ini. Demikian juga tasbih tahmid, adzan, dan qamat.
Dengan perkataan yang tepat-baik yang terucapkan dengan lidah dan didengar orang banyak maupun yang tertulis sehingga terucapkan oleh diri sendiri dan orang lain ketika membacanya akan tersebar luas informasi dan memberi pengaruh yang tidak kecil bagi jiwa dan pikiran manusia. Kalau ucapan itu baik, baik pula pengaruhnya, dan bila buruk maka buruk pula, dan karena itu ayat di atas menjadikan dampak dari perkataan yang tepat adalah perbaikan amal-amal.
Thabathaba’i berpendapat bahwa dengan keterbiasaan seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang tepat, ia akan menjauh dari kebohongan dan tidak juga mengucapkan kata-kata yang mengakibatkan keburukan atau yang tidak bermanfaat. Seseorang yang telah mantap sifat tersebut pada dirinya, perbuatan-perbuatannyapun akan terhindar dari kebohongan dan keburukan, dan ini berarti lahirnya amal-amal shaleh dari yang bersangkutan. Ketika itu ia akan menyadari betapa buruk amal-amalnya yang pernah ia lakukan sehingga ia menyesalinya dan penyesalan tersebut mendorong ia bertaubat, dan ini mengantar Allah memeliharanya serta menerima taubatnya.[7]
Qaulan sadidan menurut pemaparan arti dari surat di atas yaitu suatu pembicaraan, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa).


B. Qaulan Balighan

Kata (بليغا) balighan terdiri dari huruf-huruf ba’, lam dan ghain. Pakar-pakar bahasa manyatakan bahwa semua kata yang terdiri dari huruf-huruf tersebut mengandung arti sampainya sesuatu ke sesuatu yang lain. Ia juga bermakna “cukup” karena kecukupan mengandung arti sampainya sesuatu kepada batas yang dibutuhkan. Seorang yang pandai menyusun kata sehingga mampu menyampaikan pesannya dengan baik lagi cukup dinamai baligh. Mubaligh adalah orang yang menyampaikan suatu berita yang cukup kepada orang lain. Pakar-pakar sastra menekankan perlunya dipenuhi beberapa kriteria sehingga sehingga pesan yang disampaikan dapat disebut balighan, yaitu:
a. Tertampungnya seluruh pasan dalam kalimat yang disampaikan
b. Kalimatnya tidak bertele-tele tetapi tidak pula disingkat sehingga mengaburkan pesan. Artinya, kalimat tersebut cukup, tidak berlebihan atau berkurang.
c. Kosa kata yang merangkai kalimat tidak asing bagi pendengaran dan pengetahuan lawan bicara, mudah diucapkan serta tidak “berat” terdengar.
d. Sesuai dengan kandungan dan gaya bahasa dengan sikap lawan bicara. Lawan bicara atau orang kedua tersebut boleh jadi sejak semula menolak pesan atau meragukannya atau boleh jadi telah meyakini sebelumnya, atau belum memiliki ide sedikitpun tentang apa yang akan disampaikan.
e. Kesesuaian dengan tata bahasa.[8]


Kata baligh berarti tepat, lugas, fasih, dan jelas maknanya. Qaulan balighanartinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah, dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele. Agar komunikasi tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan kadar intelektualitas komunikasi dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh mereka.


Q.S. An-Nisa: 63
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا (٦٣)
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.[9]


C. Qaulan Kariman

Kata (كريما) kariman biasa diterjemahkan mulia. Kata ini terdiri dari huruf-huruf kaf, ra’, dan mim yang menurut pakar-pakar bahasa mengandung makna yang mulia atau terbaik sesuai objeknya. Bila dikatakan rizqun karim, yang dimaksud adalah rizki yang halal dalam perolehan dan pemanfaatannya serta memuaskan dalam kualitas dan kuantitasnya. Bila kata karim dikaitkan dengan akhlak menghadapi orang lain, ia bermakna pemaafan.[10]
Qaulan kariman adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah lembut, dan bertata krama. Qaulan kariman harus digunakan khususnya saat berkomunikasi dengan kedua orang tua dan orang yang harus dihormati. Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Isra: 23;
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (۲٣)
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.[11]


Ayat diatas menuntut agar apa yang disampaikan kepada orang tua bukan saja yang benar dan tepat, bukan saja juga yang sesuai dengan adat kebiasaan yang baik dalam suatu masyarakat, tetapi ia juga harus yang terbaik dan mulia, dan kalaupun seandainya orang tua melakukan suatu kesalahan terhadap anak, kesalahan itu harus dianggap tidak ada/dimaafkan (dalam arti dianggap tidak pernah ada dan terhapus dengan sendirinya) karena tidak ada orang tua yang bermaksud buruk terhadap anaknya. Demikian makna kariman yang dipesankan kepada anak dalam menghadapi orangtuanya.[12]
Ketentuan dan sopan santun dalam ayat ini antara lain:
1. Seorang anak tidak boleh mengucapkan kata kotor dan kasar meskipun hanya berupa kata “ah” kepada orang tuanya.
2. Seorang anak tidak boleh menghardik atau membentakorang tuanya, sebab bentakan itu akan melukai perasaan keduanya.
3. Hendaklah anak mengucapkan kata-kata yang mulia kepada orang tuanya. Kata-kata yang mulia ialah kata-kata yang baik dan diucapkan dengan penuh hormat, yang menggambarkan adab sopan santun dan penghargaan penuh terhadap orang lain.[13]


D. Qaulan Maisuran

Secara etimologis, kata maisuran berasal dari kata yasara yang artinya mudah atau gampang (Al-Munawir). Ketika kata maisuran digabungkan dengan kata qaulan menjadi qaulan maisuran artinya berkata dengan mudah atau gampang. Berkata dengan mudah maksudnya adalah kata-kata yang digunakan mudah dicerna, dimengerti, dan dipahami. Makna lainnya adalah kata-kata yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembirakan.
Kata qaulan maisuran hanya satu kali disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu pada Q.S. Al-Isra: 28;
وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلًا مَيْسُورًا (۲٨)
Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.[14]


Berdasarkan ashab al-nuzul ayat terebut, Allah memberikan pendidikan kepada Nabi Muhammad saw untuk menunjukkan sikap yang arif dan bijaksana dalam menghadapi keluarga dekat, orang miskin, dan musafir.


E. Qaulan Ma’rufa

Qaulan Ma’rufa artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan. Qaulan Ma’rufa juga memiliki arti yaitu kalimat-kalimat yang baik sesuai dalam kebiasaan masyarakat, selama kalimat tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai ilahi.[15] Atau juga bermakna pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat).


Q.S. An-Nisa: 5
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا (٥)
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.[16]


Ayat ini mengamanahkan agar pesan hendaknya disampaikan dalam bahasa yang sesuai dengan adat kebiasaan yang baik menurut ukuran setiap masyarakat[17]
Q.S. An-Nisa: 8
وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا (٨)
Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat[270], anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu [271] (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.[18]


Q.S. Al-Baqarah: 235
وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ (۲٣٥)
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran]atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf[150]. Dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.[19]


F. Qaulan Layyinan

فقولاله قولاليّنا ) ) fa qula lahu qaulan layyinan/maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut menjadi dasar tentang perlunya sikap bijaksana dalam berdakwah yang antara lain ditandai dengan ucapan-ucapan sopan yang tidak menyakitkan hati sasaran dakwah. Karena Fir’aun saja, yang demikian durhaka, masih juga harus dihadapi dengan lemah lembut. Memang, dakwah pada dasarnya adalah ajakan lemah lembut. Dakwah adalah upaya menyampaikan hidayah. Kata (هداية) hidayah yang terdiri dari huruf-hurufha’, dal, dan ya’ maknanya antara lain adalah menyampaikan dengan lemah lembut. Dari sini, lahir kata hidayah yang merupakan penyampaian sesuatu dengan lemah lembut guna menunjukkan simpati. Ini tentu saja bukan berarti juru dakwah tidak melakukan kritik, hanya saja itupun harus disampaikan dengan tepat bukan saja pada kandungannya tetapi juga waktu dan tempat serta susunan kata-katanya, yakni dengan tidak memaki atau memojokkan.[20]
Qaulan layyinan adalah pembicaraan yang lemah lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layyinan ialah kata-kata sindiran, bukan dengan kata-kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.
Q.S. Thaha: 44
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (٤٤)
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.[21]


Contoh: Allah mengajarkan kepada Musa dan Harun as bagaimana cara menghadapi Fir’aun, yaitu dengan kata-kata yang halus dan ucapan yang lembut. Seseorang yang dihadapi dangan cara demikian, akan terkesan dihatinya dan akan cenderung menyambut dengan baik dan menerima dakwah dan ajakan yang diserukan kepadanya.[22]


IV. KESIMPULAN

Ø Qaulan sadidan yaitu suatu pembicaraan, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa).

Ø Qaulan balighan artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah, dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele.

Ø Qaulan kariman adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah lembut, dan bertata krama.

Ø Qaulan maisuran artinya berkata dengan mudah atau gampang dengan menggunakan kata-kata yang mudah dicerna, dimengerti, dan dipahami. Makna lainnya adalah kata-kata yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembirakan.

Ø Qaulan Ma’rufa artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan.

Ø Qaulan layyinan adalah pembicaraan yang lemah lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layyinan ialah kata-kata sindiran, bukan dengan kata-kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.


V.    PENUTUP

Demikian makalah ini penulis susun, semoga dapat memberi manfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Penulis berharap kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun kepada penulis demi perbaikan makalah yang akan datang.



MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Akhlak II
Dosen pengampu: H. Ahmad Muthohar, M.Ag.

DAFTAR PUSTAKA


Departemen Agama RI. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid IV. Jakarta: Lentera Abadi.
Departemen Agama RI. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid V. Jakarta: Lentera Abadi.
Departemen Agama RI. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid VIII. Jakarta: Lentera Abadi.
Departemen Agama. 2009. Al-Qur-an dan Terjemahan. Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah 2. Jakarta: Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah 4. Jakarta: Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah 7. Jakarta: Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah 15. Jakarta: Lentera Hati.

[1] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid VIII,(Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 46.
[2] M. Quraish Sihab, Tafsir Al-Mishbah 4, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 547.
[3] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 78.
[4] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 427.
[5] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid VIII, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 46.
[6] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid VIII, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 48.
[7] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah 4, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 547-548.
[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah 15, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 595-596 .
[9] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 87.
[10] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah 7, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 65-66
[11] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 284.
[12]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah 7, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm.66.
[13] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid V, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 461.
[14] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 285.
[15] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah 2, (Tangerang:Lentera Hati,2007), hlm.356.
[16] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 77.
[17] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah 2, (Tangerang:Lentera Hati,2007), hlm.356.
[18] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 77.
[19] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 38.
[20] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah 7, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 594-595.
[21] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 314.
[22] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid VI, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 143.

02 February 2015

How to Become Rich, and 24 Other Insights from Warren Buffett


Warren Buffett is a true genius as he is able to simplify complex ideas into quotes that will stand the test of time. Warren Buffett spent his life dispensing advice to all who would listen, earning him the nickname of the Oracle of Omaha. In the 1960s, this advice came about twice a year in letters to investors in his investment partnerships. Starting a few years later, Warren Buffett’s wisdom was distilled through the Berkshire Hathaway annual meeting and the annual shareholder letter, and in the past 20 years, Warren Buffett has become a household name through appearances on TV and interviews in magazines.
Read on for Warren Buffett’s best quotes on life, investing, and his top five insights.

On life

1. “You only have to do a very few things right in your life so long as you don’t do too many things wrong.”
2. “Should you find yourself in a chronically leaking boat, energy devoted to changing vessels is likely to be a more productive than energy devoted to patching leaks.”
3. “It is not necessary to do extraordinary things to get extraordinary results.”
4. “What we learn from history is that people don’t learn from history.”
5. “Chains of habit are too light to be felt until they are too heavy to be broken.”
6. “There seems to be some perverse human characteristic that likes to make easy things difficult.”
7. “Nothing sedates rationality like large doses of effortless money.”
8. “It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it. If you think about that, you’ll do things differently.”
9. “It’s better to hang out with people better than you. Pick out associates whose behavior is better than yours and you’ll drift in that direction.”
10. “Long ago, Ben Graham taught me that ‘Price is what you pay; value is what you get.’ Whether we’re talking about socks or stocks, I like buying quality merchandise when it is marked down.”

On investing

1. “The most important quality for an investor is temperament, not intellect. You need a temperament that neither derives great pleasure from being with the crowd or against the crowd.”
2. “Successful Investing takes time, discipline and patience. No matter how great the talent or effort, some things just take time: You can’t produce a baby in one month by getting nine women pregnant.”
3. “I don’t look to jump over seven-foot bars; I look around for one-foot bars that I can step over.”
4. “In the short term, the market is a popularity contest. In the long term, the market is a weighing machine.”
5. “Opportunities come infrequently. When it rains gold, put out the bucket, not the thimble”
6. “Diversification is a protection against ignorance. It makes very little sense for those who know what they’re doing.”
7. “If you aren’t willing to own a stock for ten years, don’t even think about owning it for ten minutes. Put together a portfolio of companies whose aggregate earnings march upward over the years, and so also will the portfolio’s market value.”
8. “The key to investing is not assessing how much an industry is going to affect society, or how much it will grow, but rather determining the competitive advantage of any given company and, above all, the durability of that advantage.”
9. “I am a better investor because I am a businessman, and a better businessman because I am an investor.”
10. “It’s far better to buy a wonderful company at a fair price than a fair company at a wonderful price.”

Top five insights

Einstein said there are 5 ascending levels of intelligence: Smart, Intelligent, Brilliant, Genius, Simple. Warren Buffett’s top 5 insights each explain a truth about life or investing in the simplest way possible.
1. “I will tell you how to become rich. Close the doors. Be fearful when others are greedy. Be greedy when others are fearful.”
It is a gross oversimplification to say that the key to investing is to buy low and sell high. This quote from when Warren Buffett has been the basis of his most successful investments over time and the basis of how you could have avoided the last few bubbles.
2. “I tell college students, when you get to be my age you will be successful if the people who you hope to have love you, do love you.”
Warren Buffett has spent a lifetime studying conventionally successful people. It’s important to hear that at the end of the day, money is not the thing that matters most in life.
3. “The difference between successful people and really successful people is that really successful people say no to almost everything.”
Numerous greats including Steve Jobs, Bill Gates, and Warren Buffett have attributed their success to focus. Many people have long to-do lists and work on becoming more productive, when in fact, having a not-do list is more important if you want to do great things.
4. “I’ve seen more people fail because of liquor and leverage — leverage being borrowed money. You really don’t need leverage in this world much. If you’re smart, you’re going to make a lot of money without borrowing.”
People succeed in life countless different ways but failures group around a few key themes. As such, you learn more from people’s failures than people’s successes.
5. “What an investor needs is the ability to correctly evaluate selected businesses. Note that word ‘selected': You don’t have to be an expert on every company, or even many. You only have to be able to evaluate companies within your circle of competence. The size of that circle is not very important; knowing its boundaries, however, is vital.”
One of the quotes I hate the most in investing is Peter Lynch’s “Buy what you know” as it oversimplifies investing. The above quote is sort of the same idea but highlights that the important thing is being able to evaluate companies and also avoid companies you don’t understand. It’s that simple.
Warren Buffett is quoted so much because he has developed a great deal of wisdom over his lifetime. How did he do it?

22 January 2015

Triglycerides and Diabetes - 10 Suggestions to Help Lower Them When Elevated


When I ask my patients if they understand their laboratory values, I get many queries about triglycerides. Some of the common questions are: What are they? How do they relate to my health? Are they associated with my diabetes?

If patients have elevated triglyceride levels, they always request suggestions and help to lower them. So, let’s get busy answering some of these questions!

What are Triglycerides?
Triglycerides are fats. If you attend biochemistry class, you may hear that a triglyceride is made up of three fatty acid molecules attached to a “backbone” made up of one glycerol molecule. For a brief animation of this, click here.

Triglycerides are very common in both food and the human body. When fats are broken down and absorbed in the small intestine, triglycerides are formed inside the body from the fatty acids and glycerol. For more information, click here.

Triglycerides can also be made in the body from dietary carbohydrates. (1) After a meal is ingested, if the calories are not used by the body immediately they will be made into triglycerides and stored in fat cells. We commonly think of stored triglycerides as body fat. When energy is needed between meals, triglycerides are released from the body’s fat stores and used as energy. (2) As you can see, triglycerides are needed for life, however, too much of them is not a good thing, as you will see.

Testing Triglyceride Levels

Triglycerides are evaluated as part of a lipid panel when blood work is taken. These tests are ordered by your medical team. Triglyceride levels are checked after an overnight fast. Fat from a meal can artificially raise the triglyceride levels on the test, so abstaining from food before the test is absolutely necessary. (3) Consumption of alcohol and some medications may also affect results. For a list of some of these medications, click here.

Interpretation of triglyceride laboratory results:
Normal levels are: Less than 150 mg/dL
Borderline High: 150 – 199 mg/dL
High: 200 – 499 mg/dL
Very High: 500 mg/dL or above (4) High Triglycerides are a risk factor for developing diabetes and are commonly found in people with diabetes:
If a person falls in the overweight category for their body mass index and their triglyceride levels are above 250 mg/dl (2.82 mmol/L), the American Diabetes Association (ADA) recommends testing for diabetes. The overweight category is equal to or greater than 25 kg of body weight per meter squared. (5) In addition to the risk factor for developing diabetes, approximately 35 percent of people with type 2 diabetes have triglycerides above or equal to 200 mg/dl. People with poorly controlled type 1 diabetes may also have similar problems with their triglyceride levels. Proper insulin therapy may decrease the triglyceride levels. (6)

Coronary Artery Disease Risk and Insulin Resistance Syndrome
The American Association of Clinical Endocrinologists (AACE) advises that when triglycerides are elevated, even a little, that this may be an independent risk factor for Coronary Artery Disease (CAD). They recommend that triglycerides be a component of lipid screening. When fasting triglycerides are above 150mg/dl this puts individuals at risk for insulin resistance syndrome. (7) Insulin resistance syndrome is when there is an increased production of insulin due to the possibility of a decreased number of insulin receptors on cells in the body and/or less glucose transporters in the cell. When the receptor numbers are decreased or the transporters are not working properly, more and more insulin will be made by the pancreas to compensate.

If the amount of insulin produced by the body is able to keep up with the insulin resistance then type 2 diabetes is not diagnosed. When the body can no longer produce enough insulin to overcome the resistance, diabetes is the result.

When triglycerides are above 200 mg/dl, this is a substantial risk for CAD. (7) For more information on insulin resistance syndrome, click here. http://www.fpnotebook.com/endo/DM/InslnRstncSyndrm.htm

For an animation of the problem of insulin resistance, click here.

High Triglycerides
As you can see from the AACE recommendation, high triglycerides are a serious risk for heart disease. They have also been associated with coronary atherosclerosis. (6) High triglycerides can be caused by dietary factors such as a high fat diet and/or a high intake of concentrated sweets. Consuming alcohol can also be a factor as is body fat distribution (subcutaneous abdominal adipose tissue and visceral adipose tissue), obesity and inactivity. (7, 9, 10, 11)

Medical conditions can lead to an increase in triglyceride levels including poorly controlled diabetes. (When insulin is used to bring down blood sugar levels, triglyceride levels may also decrease). Other diseases and conditions that can increase triglyceride levels include: hypothyroidism, Cushing’s syndrome, kidney and liver disease. Some people with high triglycerides have a genetic factor contributing to the condition. (7, 9, 10, 11)

When triglycerides are high, there is an increased risk of pancreatitis. It is interesting to note that in the United States triglyceride levels are rising along with obesity, insulin resistance and type 2 diabetes. In 2011, 31 percent of the population in the U.S. had a triglyceride level above 150 mg/dl. (6)


10 Ways to Help Lower Triglycerides When Elevated
Depending on your health conditions, treatment of high triglycerides may include diet therapy or a combination of diet and medication. Ask your physician what is best for you.

Discuss these points with your medical team for helping reduce triglycerides, and ask if these recommendations are for you:
If high triglycerides are caused by uncontrolled diabetes, you need to get you blood glucose under control.
Many times when cholesterol is between 150-199 mg/dl, a recommendation may be made to lose 5 percent of body weight. When 5-10 percent of body weight is lost, this may result in a 20 percent decrease in triglycerides, a decrease in low-density lipoproteins and an increase in high density lipoproteins (HDL’s). (11)
Eat 50-60 percent of daily calories as carbohydrates. (11)
Fructose should be limited to no more than 100 grams and added sugars should be no more than 10 percent of daily calories. (11) (For fructose content of many foods per 100 grams of weight, click here.
Omega-3 fatty acids found in fish oil supplementation is helpful in treating high triglycerides. Doses ranging from 4-12 grams per day may reduce triglycerides by 30-50 percent. (7)
Controlling other lipid levels and hypertension is recommended and if you smoke - stop! Studies have shown smoking has a substantially negative effect on HDL, LDL and triglyceride levels. (Smoking is also a major risk factor for a heart attack). (7)
Limit saturated fat to less than seven percent of total calories and trans-fat to less than one percent of calories.(12)
If approved by your physician, exercise for at least 150 minutes per week. Exertion should be of moderate intensity, if possible. An example is walking quickly. Exercise may help decrease triglycerides by as much as 20-30 percent. (13) AACE recommends exercising four-six times a week for at least 30 minutes (which can be broken up during the day). The exercise should burn at least 200 calories/day. In addition, muscle strengthening activities should take place at least twice per week. (7)
Even a small amount of alcohol can have a negative effect on your triglyceride levels. Limit your alcohol. (13)
Many people also require medications to help. This may be needed if lifestyle changes like diet and exercise do not have the needed effect. Medications should be prescribed based on individual needs. As you can see, triglycerides are important for our metabolism. Having high levels can be detrimental to your health. If you have a problem with high triglycerides, it is important to discuss this with your medical team.

Triglycerides and How to Lower Them

Good cholesterol, bad cholesterol, saturated fat, and unsaturated fat -- sometimes it seems like you need a program to keep track of all the fat players in the story of heart disease.

In some ways, triglycerides are the easiest to understand. Simply put, triglycerides are fat in the blood and are used to provide energy to the body. If you have extra triglycerides, they are stored in different places in case they are needed later. High triglyceride levels have been linked to a greater chance for heart disease. Just what your triglyceride levels mean and how much lowering triglycerides reduces heart disease risk is sometimes less clear.

What Are Triglycerides?

Triglycerides are important to human life and are the main form of fat in the body. When you think of fat developing and being stored in your hips or belly, you're thinking of triglycerides. Consider these things:

Triglycerides are the end product of digesting and breaking down fats in meals. Some triglycerides are made in the body from other energy sources such as carbohydrates.

Triglycerides are measured using a common test called a lipid panel. It's the same blood test that checks "good" and "bad" cholesterol levels. The American Heart Association recommends that everyone over the age of 20 should get a lipid panel to measure cholesterol and triglycerides at least every five years.

Triglyceride levels are checked after an overnight fast. Fat from a meal can artificially raise the triglyceride levels on the test.
What Are Normal and High Triglyceride Levels?

The National Cholesterol Education Program sets guidelines for triglyceride levels:

Normal triglycerides means there are less than 150 milligrams per deciliter (mg/dL).

Borderline high triglycerides = 150 to 199 mg/dL.

High triglycerides = 200 to 499 mg/dL.

Very high triglycerides = 500 mg/dL or higher.

High triglyceride levels may lead to heart disease, especially in people with low levels of "good" cholesterol and high levels of "bad" cholesterol, and in people with type 2 diabetes. Experts disagree, though, on just how bad of an effect high triglyceride levels by themselves have on the heart.

Some of the confusion stems from the fact that high triglycerides have a tendency to appear with other risk factors. We do know that a low level of good cholesterol is a risk factor for heart disease. We also know that blood tests for triglycerides can show some variability.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...