28 April 2019

Persiapkan Amal Shalih dalam Menyambut Ramadhan

Wahai kaum muslimin, hendaknya kita mengetahui bahwa salah satu nikmat yang banyak disyukuri meskipun oleh seorang yang lalai adalah nikmat ditundanya ajal dan sampainya kita di bulan Ramadhan. Tentunya jika kita sedar bahawa tingginya tumpukan dosa yang menggunung, maka pastilah kita sangat berharap untuk dapat menjumpai bulan Ramadhan dan meraih berbagai manfaat di dalamnya.
Bersyukurlah atas nikmat ini. Betapa Allah ta’ala senantiasa melihat kemaksiatan kita sepanjang tahun, tetapi Dia menutupi aib kita, memaafkan dan menunda kematian kita sampai bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan.

Ketidaksiapan yang Berbuah Pahit

Imam Abu Bakr Az Zur’i rahimahullah memaparkan dua perkara yang wajib kita waspadai. Salah satunya adalah [اَلتَّهَاوُنُ بِالْأَمْرِ إِذَا حَضَرَ وَقْتُهُ], yaitu kewajiban telah datang tetapi kita tidak siap untuk menjalankannya. Ketidaksiapan tersebut salah satu bentuk meremehkan perintah. Akibatnya pun sangat besar, yaitu kelemahan untuk menjalankan kewajiban tersebut dan terhalang dari redha-Nya. Kedua perkara tersebut merupakan hukuman atas ketidaksiapan dalam menjalankan kewajiban yang telah nampak di depan mata.[1]
Abu Bakr Az Zur’i menyitir firman Allah ta’ala berikut,
فَإِنْ رَجَعَكَ اللَّهُ إِلَى طَائِفَةٍ مِنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوكَ لِلْخُرُوجِ فَقُلْ لَنْ تَخْرُجُوا مَعِيَ أَبَدًا وَلَنْ تُقَاتِلُوا مَعِيَ عَدُوًّا إِنَّكُمْ رَضِيتُمْ بِالْقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُوا مَعَ الْخَالِفِينَ (٨٣)
“Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), Maka katakanlah: “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. karena itu duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.” (At Taubah: 83).
Renungilah ayat di atas baik-baik! Ketahuilah, Allah ta’ala tidak menyukai keberangkatan mereka dan Dia lemahkan mereka, karena tidak ada persiapan dan niat mereka yang tidak lurus lagi. Namun, bila seorang bersiap untuk menunaikan suatu amal dan ia bangkit menghadap Allah dengan kerelaan hati, maka Allah terlalu mulia untuk menolak hamba yang datang menghadap-Nya. Berhati-hatilah dari mengalami nasib menjadi orang yang tidak layak menjalankan perintah Allah ta’ala yang penuh berkah. Seringnya kita mengikuti hawa nafsu, akan menyebabkan kita tertimpa hukuman berupa tertutupnya hati dari hidayah.
Allah ta’ala berfirman,
وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (١١٠)
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al An’am: 110).

Persiapkan Amal Shalih dalam Menyambut Ramadhan

Bila kita menginginkan kebebasan dari neraka di bulan Ramadhan dan ingin diterima amalnya serta dihapus segala dosanya, maka harus ada bekal yang dipersiapkan.
Allah ta’ala berfirman,
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ (٤٦)
“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At Taubah: 46).
Harus ada persiapan! Dengan demikian, tersingkaplah ketidakjujuran orang-orang yang tidak mempersiapkan bekal untuk berangkat menyambut Ramadhan. Oleh sebab itu, dalam ayat di atas mereka dihukum dengan berbagai bentuk kelemahan dan kehinaan disebabkan keengganan mereka untuk melakukan persiapan.
Sebagai persiapan menyambut Ramadhan, Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu berkata,
وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً
“Saya sama sekali belum pernah melihat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dalam satu bulan sebanyak puasa yang beliau lakukan di bulan Sya’ban, di dalamnya beliau berpuasa sebulan penuh.” Dalam riwayat lain, “Beliau berpuasa di bulan Sya’ban, kecuali sedikit hari.”[2]
Beliau tidak terlihat lebih banyak berpuasa di satu bulan melebihi puasanya di bulan Sya’ban, dan beliau tidak menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan.
Generasi emas umat ini, generasi salafush shalih, mereka selalu mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Sebagian ulama salaf mengatakan,
كَانُوا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ
”Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan.”[3]
Tindakan mereka ini merupakan perwujudan kerinduan akan datangnya bulan Ramadhan, permohonan dan bentuk ketawakkalan mereka kepada-Nya. Tentunya, mereka tidak hanya berdo’a, namun persiapan menyambut Ramadhan mereka iringi dengan berbagai amal ibadah.
Abu Bakr al Warraq al Balkhi rahimahullah mengatakan,
شهر رجب شهر للزرع و شعبان شهر السقي للزرع و رمضان شهر حصاد الزرع
“Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk mengairi dan Ramadhan adalah bulan untuk menuai.”[4]
Sebagian ulama yang lain mengatakan,
السنة مثل الشجرة و شهر رجب أيام توريقها و شعبان أيام تفريعها و رمضان أيام قطفها و المؤمنون قطافها جدير بمن سود صحيفته بالذنوب أن يبيضها بالتوبة في هذا الشهر و بمن ضيع عمره في البطالة أن يغتنم فيه ما بقي من العمر
“Waktu setahun itu laksana sebuah pohon. Bulan Rajab adalah waktu menumbuhkan daun, Syaban adalah waktu untuk menumbuhkan dahan, dan Ramadhan adalah bulan menuai, penuainya adalah kaum mukminin. (Oleh karena itu), mereka yang “menghitamkan” catatan amal mereka hendaklah bergegas “memutihkannya” dengan taubat di bulan-bulan ini, sedang mereka yang telah menyia-nyiakan umurnya dalam kelalaian, hendaklah memanfaatkan sisa umur sebaik-baiknya (dengan mengerjakan ketaatan) di waktu tesebut.”[5]
Wahai kaum muslimin, agar buah boleh dipetik di bulan Ramadhan, harus ada benih yang disemai, dan ia harus diairi sampai menghasilkan buah yang rimbun. Puasa, qiyamullail, bersedekah, dan berbagai amal shalih di bulan Rajab dan Sya’ban, semua itu untuk menanam amal shalih di bulan Rajab dan diairi di bulan Sya’ban. Tujuannya agar kita boleh menuai kelezatan puasa dan beramal shalih di bulan Ramadhan, kerana lazatnya Ramadhan hanya bolh dirasakan dengan kesabaran, perjuangan, dan tidak datang begitu saja. Hari-hari Ramadhan tidaklah banyak, perjalanan hari-hari itu begitu cepat. Oleh sebab itu, harus ada persiapan yang sebaik-baiknya.

Jangan Lupa, Perbarui Taubat!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون
“Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.”[6]
Taubat menunjukkan tanda keberhasilan seorang dalam menghadapi Ramadhan. Dia ingin memasuki Ramadhan tanpa adanya sekat-sekat penghalang yang akan memperkeruh perjalanan selama mengarungi Ramadhan.
Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk bertaubat, karena taubat wajib dilakukan setiap saat. Allah ta’ala berfirman,
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٣١)
Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nuur: 31).
Taubat yang sepatutnya bukanlah seperti taubat yang sering kita kerjakan. Kita bertaubat, lidah kita mengucapkan, “Saya memohon ampun kepada Allah”, akan tetapi hati kita lalai, akan tetapi setelah ucapan tersebut, dosa itu kembali terulang. Namun, yang dibutuhkan adalah totalitas dan kejujuran taubat.
Jangan pula taubat tersebut hanya dilakukan di bulan Ramadhan sementara di luar Ramadhan kemaksiatan kembali digalakkan. Ingat! Ramadhan merupakan momentum ketaatan sekaligus madrasah untuk membiasakan diri beramal shalih sehingga jiwa terdidik untuk melaksanakan ketaatan-ketaatan di sebelas bulan lainnya.
Wahai kaum muslimin, mari kita persiapkan diri kita dengan memperbanyak amal shalih di dua bulan ini, Rajab dan Sya’ban, sebagai modal awal untuk mengarungi bulan Ramadhan yang akan datang sebentar lagi.
Ya Allah mudahkanlah dan bimbinglah kami. Amin.
Waffaqaniyallahu wa iyyakum.

[1] Badai’ul Fawaid 3/699.
[2] HR. Muslim: 1156.
[3] Lathaaiful Ma’arif hal. 232
[4] Lathaaiful Ma’arif hal. 130.
[5] Lathaaiful Ma’arif hal. 130.
[6] Hasan. HR. Tirmidzi: 2499.

26 April 2019

8 Sikap Siapkan Diri Menyambut Ramadhan


Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan kerelaan

TAK terasa kita telah memasuki bulan Sya’ban. Sebentar lagi kita akan kedatangan bulan Ramadhan. Setelah sekian lama berpisah, kini Ramadhan kembali akan hadir di tengah-tengah kita. Bagi seorang muslim, tentu kedatangan bulan Ramadhan akan disambut dengan rasa gembira dan penuh syukur, karena Ramadhan merupakan bulan maghfirah, rahmat dan menuai pahala serta sarana menjadi orang yang muttaqin.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melakukan persiapan diri untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, agar Ramadhan kali ini benar-benar memiliki nilai yang tinggi dan dapat mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa.

Tentu saja persiapan diri yang dimaksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya. Bukan pula pergi ke pantai menjelang Ramadhan untuk rekreasi, makan-makan dan bermain-main.

Jadi, bagaimana sebenarnya cara kita menyambut Ramadhan? Apa yang mesti kita persiapkan dalam hal ini? Maka tulisan ini cuba memberi jawapan dari pertanyaan tersebut. Menurut penulis, banyak hal yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan menyambut kedatangan Ramadhan, yaitu:

Pertama, berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana yang dicontohkan para ulama salafusshalih. Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan sungguh-sungguh agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya dan selama enam bulan berikutnya mereka berdoa agar puasanya diterima Allah Subhanahu Wata’ala, karena berjumpa dengan bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Allah Subhanahu Wata’ala, Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya para salaf berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan berikutnya agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka kerjakan” (Lathaif Al-Ma’aarif: 174)

Di antara doa mereka itu adalah: ”Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan kerelaan”. Dan doa yang populer: ”Ya Allah, berkatilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”.

Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu. Sudah seharusnya kita mengqadha puasa sesegera mungkin sebelum datang Ramadhan berikutnya. Namun kalau seseorang mempunyai kesibukan atau halangan tertentu untuk mengqadhanya seperti seorang ibu yang sibuk menyusui anaknya, maka hendaklah ia menuntaskan hutang puasa tahun lalu pada bulan Sya’ban.

Sebagaimana Aisyah r.a lazimnya mengqadha puasanya pada bulan Sya’ban. Menunda qadha puasa dengan sengaja tanpa ada uzur syar’i sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah dosa, maka kewajibannya adalah tetap mengqadha, dan ditambah kewajiban membayar fidyah menurut sebagian ulama.

Ketiga, persiapan keilmuan (memahami fiqh puasa). Mu’adz bin Jabal r.a berkata: ”Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.

Oleh karena itu, suatu amal perbuatan tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya. Maka dalam hal ini, hanya dengan ilmu kita dapat mengetahui cara berpuasa yang benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Begitu juga ilmu sangat diperlukan dalam melaksanakan ibadah lainnya seperti wudhu, shalat, haji dan sebagainya. Maka, menjelang Ramadhan ini sudah sepatutnya kita untuk membaca buku fiqhus shiyam (fikih puasa) dan ibadah lain yang berkaitan dengan Ramadhan seperti shalat tarawih, i’tikaf dan membaca al-Quran.

Kempat, persiapan jiwa dan rohani. Persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan amalan ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam.

Persiapan jiwa dan rohani merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam upaya untuk memetik manfaat sepenuhnya dari ibadah puasa. Penyucian jiwa (Tazkiayatun nafs) dengan berbagai amal ibadah dapat melahirkan keikhlasan, kesabaran, ketawakkalan, dan amalan-amalan hati lainnya yang akan menuntun seseorang kepada jenjang ibadah yang berkualitas. Salah satu cara untuk mempersiapkan jiwa dan spritual untuk menyambut Ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak ibadah di bulan sebelumnya, minimal di bulan Sya’ban ini seperti memperbanyak puasa Sunnat.

Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban merupakan sunnah Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Aisyah ra, ia berkata, “Aku belum pernah melihat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam berpuasa sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, dari Usamah bin Zaid r.a ia berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada bulan-bulan lain yang sesering pada bulan Sya’ban”. Beliau bersabda, “Itu adalah bulan yang diabaikan oleh orang-orang, yaitu antara bulan Ra’jab dengan Ramadhan. Padahal pada bulan itu amal-amal diangkat dan dihadapkan kepada Rabb semesta alam, maka aku ingin amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Nasa’i dan Abu Daud serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

Adapun pengkhususan puasa dan shalat sunat seperti shalat tasbih pada malam nisfu sya’ban (pertengahan Sya’ban) dengan menyangka bahwa ia memiliki keutamaan, maka hal itu tidak ada dalil shahih yang mensyariatkannya. Menurut para ulama besar, dalil yang dijadikan sandaran mengenai keutamaan nisfu sya’ban adalah hadits dhaif (lemah) yang tidak harus dijadikan hujjah dalam persoalan ibadah, bahkan maudhu’ (palsu). Oleh Sebab itu, Imam Ibnu Al-Jauzi memasukkan hadits-hadits mengenai keutamaan nishfu Sya’ban ke dalam kitabnya Al-Maudhu’at (hadits-hadits palsu).

Al-Mubarakfuri berkata, “Saya tidak mendapatkan hadits marfu’ yang shahih tentang puasa pada pertengahan bulan Sya’ban. Adapun hadits keutamaan nisfu Sya’ban yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah saya telah mengetahui bahwa hadits ini adalah hadits sangat lemah” (Tuhfah Al-Ahwazi: 3/444).

Syaikh Shalih bin Fauzan berkata, “Adapun hadits-hadits yang terdapat dalam masalah ini, semuanya adalah hadits palsu sebagaimana dikemukakan oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang yang memiliki kebiasaan berpuasa pada ayyamul bidh (tanggal 14, 15, 16), maka ia boleh melakukan puasa pada bulan Sya’ban seperti bulan-bulan lainnya tanpa mengkhususkan hari itu saja.”

Syaikh Sayyid Sabiq berkata, “Mengkhususkan puasa pada hari nisfu Sya’ban dengan menyangka bahwa hari-hari tersbut memiliki keutamaan dari pada hari lainnya, tidak memiliki dalil yang shahih” (Fiqh As-Sunnah: 1/416).

Kelima, persiapan dana (kewangan). Sebaiknya aktivitas ibadah di bulan Ramadhan harus lebih mewarnai kehidupan seharian yakni mencari nafkah atau yang lainnya. Pada bulan ini setiap muslim dianjurkan memperbanyak amal shalih seperti infaq, shadaqah dan ifthar (memberi bukaan). Karena itu, sebaiknya dibuat sebuah agenda maliah (kewangan) yang menyiapkan dana untuk shadaqah, infaq serta memberi ifhtar selama bulan ini. Suasana Ramadhan merupakan suasana yang paling tepat dan utama untuk menyalurkan ibadah maliah kita. Ibnu Abbas r.a berkata, ”Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan.” (H.R Bukhari dan Muslim). Termasuk dalam persiapan maliah adalah mempersiapkan dana agar dapat beri’tikaf dengan tanpa memikirkan beban ekonomi untuk keluarga.

Keenam, persiapan fizikal yaitu menjaga kesehatan. Persiapan fizikal agar tetap sihat dan kuat di bulan Ramadhan sangat penting. Kesihatan merupakan modal utama dalam beribadah. Orang yang sihat dapat melakukan ibadah dengan baik. Namun sebaliknya bila seseorang sakit, maka ibadahnya terganggu. Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)

Maka, untuk meyambut Ramadhan kita harus menjaga kesihatan dan stamina dengan cara menjaga pola makan yang sihat dan bergizi, dan istirahat cukup.

Ketujuh, menyelenggarakan tarhib Ramadhan. Disamping persiapan secara individual, kita juga hendaknya melakukan persiapan secara kolektif, seperti melakukan tarhib Ramadhan yaitu mengumpulkan kaum muslimin di masjid atau di tempat lain untuk diberi pengarahan mengenai puasa Ramadhan, adab-adab, syarat dan rukunnya, hal-hal yang membatalkannya atau amal ibadah lainnya.

Menjelang bulan Ramadhan tiba, Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam memberikan pengarahan mengenai puasa kepada para shahabat. Beliau juga memberi kabar gembira akan kedatangan bulan Ramadhan dengan menjelaskan berbagai keutamaannya. Abu Hurairah ra berkata, “menjelang kedatangan bulan Ramadhan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Telah datang kepada kamu syahrun mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam itu, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). Selain itu, banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam untuk memberi motivasi dan semangat kepada para sahabat dan umat Islam setelah mereka dalam beribadah di bulan Ramadhan.

Akhirnya, penulis mengajak seluruh umat Islam untuk menyambut bulan Ramadhan yang sudah di ambang pintu ini dengan gembira dan mempersiapkan diri untuk beribadah dengan optimal. Selain itu kita berharap kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar ibadah kita diterima, tentu dengan ikhlas dan sesuai Sunnah Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan dan dapat meraih berbagai keutamaannya.*

Penulis adalah ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh & kandidat Doktor Ushul Fiqh, International Islamic University Malaysia (IIUM)

07 April 2019

Sejarah Keraton Solo Lengkap dan Silsilah Keraton Solo Dari Masa Kemasa

Sejarah Keraton Solo Mencatat bahwa Sunan Pakubuana III dan Pangeran Mangkubumi adalah pihak-pihak yang bersengketa di Kesultanan Mataram yang membentuk sebuah perjanjian dengan VOC atau Pemerintah Hindu Belanda, pada 13 Februari 1755 yang dimana isi perjanjiannya menyepakati bahwa Kesultanan Mataram, dibagi menjadi dua wilayah kesultanan yaitu Yogyakarta dan Surakarta.
Perjanjian itu di namakan dengan nama Perjanjian Giyanti. Dari hasil perjanjian Giyanti itu lahirlah sebuah kerajaan di Jawa Tengah yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Umumnya Kasunanan Surakarta tidak dianggap sebagai pengganti Kesultannan Mataram, walaupun rajanya masih ada keturunan Raja Mataram, melainkan sebuah kerajaan tersendiri.
Setiap Raja Kasunanan Surakarta yang memiliki gelar Sunan (begitu juga raja Kesultanan Yogyakarta yang memiliki gelar Sultan) selalu menandatangani kontrak politik dengan Pemerintah Hindia Belanda atau VOC.
Kasunanan Surakarta Hadiningrat
sejarah keraton solo
amufa25.blogspot.co.id

Pemberontakan Tarunajaya pada tahun 1677, meruntuhkan Kesultanan Mataram dan Sunan Amral memindahkan ibukotanya di Kartasura. Orang-orang Tionghoa yang mendapatkan dukungan dari orang-orang Jawa anti VOC menyerang Keraton Mataram yang pada masa itu dipimpin oleh Pakubuana II tahun 1742.

Kerajaan Mataram yang terletak di Kartosura itu mengalami keruntuhannya, dan beberapa tahun kemudian, akhirnya Kota kartosura berhasil kembali direbut berkat bantuan dari Adipati Cakraningrat IV sekutu VOC yang menguasai Madura Barat. Namun Kerajaan mataram sudah dalam keadaan rusak parah.

Pakubuana II yang menyingkir ke wilayah Ponorogo, memutuskan untuk membangun sebuah istana baru di Desa Sala, sebagai ibukota Kerajaan Mataram yang baru. Sunan Pakubuwana II memerintahkan Tumenggung Mangkuyudha bersama tumenggung Hongowongso, juga komandan pasukan Belanda , J.A.B. van Hohendorff, untuk mencari lokasi keraton yang baru.

Pada tahun 1745 dibangunlah kerton baru 20 Km ke arah tenggara dari Kartosuro, tepatnya di Desa Sala di tepi Bengawan Solo. Pakubuwono membeli tanah seharga selaksa keping emas, guna membangun keraton.

Pusat pemerintahan baru ini di beri nama “Surakarta” dib
erikan sebagai nama “Wisuda”. menurut catatan, pembangunan Keraton ini menggunakan bahan kayu jati dari hutan didekat Wonogiri kawasan Alas Kethu dan kayunya dihanyutkan melalui jalur air Bengawan Solo. Tanggal 17 Februari 1745, dengan secara resmi keraton mulai ditempati.

Dengan adanya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755, menyebabkan pemerintahan Kasunanan Surakarta berpusat di Surakarta, yang dipimpin oleh Pakubuwana III. sedangkan pemerintahan Kasultanan Yogyakarta berpusat di Yogyakarta yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwana I.

Kota dan Keraton Yogyakarta mulai dibangun pada awal 1755, dengan desain tata kota yang sama dengan Surakarta yang lebih dahulu dibangun. Dengan diberikannya daerah sebelah utara keraton kepada pihak Mangkunagara I (Pangeran sambernyawa), pada perjanjian Salatiga 1757 memperkecil wilayah Kasunanan.

Adik Pakubuwana II tahun 1746 yaitu pangeran mangkubumi, meninggalkan keraton dan bergabung dengan Raden Mas Said memberontak besar-besaran terhadap Kerajaan Mataram yang berpusat di Surakarta sebagai ibukota pemerintahan.

Di waktu ramainya peperangan, pada tahun 1748 Pakubuana II meninggal karena sakit yang dia derita. namun sebelum meninggalnya ia sempat menyerahkan kedaulatan kekuasaannya kepada VOC, yang dimana BaronVan Hohendorff sebagai perwakilannya. Sejak saat itu, VOC lah yang dianggap mempunyai kewenangan melantik raja-raja keturunan Mataram.
Perjanjian Giyanti dan Salatiga Dalam Sejarah Keraton Solo
sejarah keraton solo
feranianggraini23.wordpress.com
VOC yang mengalami kebangkrutan berhasil membujuk Pangeran Mangkubumi untuk berdamai dan bersatu melawan pemberontak Raden Mas Said yang enggan untuk berdamai pada tanggal 13 Februari 1755. awalnya Pangeran Mangkubumi bersekutu dengan Raden Mas Said.

Pda perjanjian Giyanti yang ditandatangani oleh Mangkibumi, Pakubuwana III dan Belanda, melahirkan dua kerajaan baru yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Raja Kasunanan Surakarta sebagai penguasa di separuh wilayah Mataram, mengambil gelar Sunan Pakubuwana dan Pangeran Mangkubumi mengambil gelar Sultan Hamengkubuwono. Waktu demi waktu, negeri Mataram yang dpimpin oleh pakubuwana lebih dikenal dengan nama Kasunanan Surakarta, sedangkan negri Mataram yang dipimpin oleh Hamengkubuwono kemudian lebih dikenal dengan nama Kasultanan Yogyakarta.

Perjanjian Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757 menyebabkan wilayah Kasunanan Surakarta semakin mengecil, karena diakuinya Raden Mas Said sebagai seorang pangeran merdeka dengan wilayah kekuasaannya yang berstatus kadipaten, yang di sebut dengan jullukan Praja Mangkunegara.

Raden Maas Said sebagai penguasa yang bergelar Adipati Mangkunegara. Seusainya perang Diponegoro pada tahun 1830, wilayah Surakarta berkurang lebih jauh lagi, dimana daerah-daerah mancanegara diserahkan kepada Belanda, sebagai ganti rugi karena biaya peperangan.
Pakubuwana IV

sejarah keraton solo
kratonsoloblog.wordpress.com
Penerus tahta Kasunanan Surakarta selanjutnya, yakni Sri Susuhunan Pakubuwana IV (1788-1820) adalah sosok raja yang benci terhadap penjajahan dan memiliki keberanian serta penuh cita-cita tinggi. Berbeda dengan Pakubuwana III yang agak patut terhadap VOC.

Pada November 1790 , terjadi insiden pengepungan Keraton Surakarta oleh persekutuan VOC, Mangkunegara I dan Hamengkubuwana I yang disebut dengan Peristiwa Pakepung. Pengepungan ini terjadi karena penyingkiran para pejabat negara yang tidak sepaham dengan Pakubuwana IV yang menganut paham kejawen.

Para pejabat istana yang disingkirkan Pakubuwono IV kemudian meminta bantuan VOC untuk menghadapi Pakubuwana IV. VOC akhirnya bersekutu dengan Mangkunegara I dan Hamengkubuwono I untuk menghadapi Pakubuwana IV. mereka mengepung bersama pada bulan November 1790.


Dari dalam sendiri terdapat para pejabat senior yang tersisih, ikut serta menekan Pakubuwana IV agar para penasehat rohaninya disingkirkan dan pristiwa ini disebut Pristiwa Pakepung. Tanggal 26 November 1790 akhirnya Pakubuwana IV mengaku kalah dengan menyerahkan para penasehatnya yaitu pata haji, untuk dibuang VOC.

Terjadi perundingan bersama pada era pemerintahan Pakubuwana IV, di dalamnya menerangkan bahwa Kesultanan Yogyakarta, Kesunanan Surakarta, setra Praja Mangkunegara meniliki kedaulatan dan kedudukan yang setara sehingga tidak boleh saling menyerang satu sama lain.
Pakubuwana V

sejarah keraton solo
wikipedia.com
Sri Susuhan Pakubuwana V adalah pengganti dari Sri Susuhan Pakubuwana IV. Pakubuwana V oleh masyarakat pada saat itu dijuluki sebagai Sunan Ngabehi karena Pakubuwana V termasuk baginda yang sangat kaya, kaya harta maupun kaya kesaktian. Pengganti Pakubuwana V setelah wafat adalah Sri Susuhan Pakubuwana VI.
Pakubuwana VI

sejarah keraton solo
kompasiana.com
Pakubuwana VI adalah salah satu pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, yang sejak tahun 1825 memberontak terhadap pemerintahan Hindia Belanda (VOC) dan Kesultanan Yogyakarta. Penulis naskah-naskah Babad waktu itu sering menutupi pertemuan rahasia antara Pangeran Diponegoro dengan Pakubuwana VI menggunakan simbol-simbol sebagai bahasanya.

Misalnya, dikisahkan Pakubuwana VI pergi untuk bertapa di Hutan krendawahana atau ke Gunung Merbabu. Padahal sebenarnya secara diam-diam ia pergi menemui Pangeran Diponegoro. Pakubuwana VI menjalankan aksi ganda dalam perang melawan Pangeran Diponegoro.

Disamping memberikan dukungan dan bantuan, ia juaga mengirim pasukan untuk berpura-pura membantu pihak Belanda. Pujangga besar Ranggawarsita mengaku bahwa semasa mudanya ia pernah ikut serta dalam pasukan sandiwara tersebut.

Setelah Belanda menangkap Pangeran Diponegoro, tetap saja Belanda menangkap Pakubuwana VI pada tanggal 8 Juni 1830 dan membuangnya ke ke Ambon, dengan alasan bahwa rahasianya sudah terbongkar semua, atas adanya pengakuan dari Mas Pajangswara dan kini ia hidup nyaman di Batavia.

Fitnah yang dimuluskan oleh pihak Belanda ini, kelak berdampak buruk hubungan antara putra Pakubuwana VI, yaitu Ranggawarsita (putra Mas Pajangswara) dengan Pakubuwana IX. Ketika Pakubuwana berangkat ke Ambon, Pakubuwana IX sebdiri masih berada dalam kandungan.

Kemudian tahta Surakarta jatuh kepada paman Pakubuwana VI, yang bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana VII.
Pakubuwana VII

Perang Diponegoro saat itu baru saja berakhir. Apabila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, masa pemerintahan Pakubuwana VII relatif damai. Keadaan yang damai itu, di lingkungan keraton menjadikan dorongan tumbuhnya kegiatan sastra secara besar-besaran.

Masa pemerintahan Pakubuwana VII dianggap sebagai puncaknya kejayaan sastra di wilayah kasunanan Surakarta yang dipelopori oleh pujangga besar Ranggawarsita. Setelah Pakubuwaana VII wafat dan tidak memiliki putra mahkota, maka Pakubuwana VII digantikan oleh kakaknya (lain ibu) menjadi menjadi Sri Susuhunan Pakubuwana VIII yang menjadi Kesunanan pada usianya 69 tahun.
Pakubuwana VIII dan IX

sejarah keraton solo
wikipedia.org
Hingga akhir hayatnya Pakubuwana VIII hanya menjabat selama tiga tahun. Pakubuwana VIII di gantikan dengan putra Pakubuwana VI yang akan menjabat sebagai raja Surakarta selanjutnya, yang bergelar sebagai Sri Susuhan Pakubuwana IX.

Karena fitnah yang dibuat oleh pihak Belanda bahwa Mas Pajangswara (ayah Ranggawarsita) yang dulu menjabat jadi juru tulis keraton, telah membongkar rahasia persekutuan anatara Pangeran Diponegoro dan Pakubuwana VI yang mengakibatkan Pakubuwana VI dibuang ke Ambon, menjadikan hubungan Pakubuwana XI dengan Ranggaswarsita kurang harmonis.

Hal itu juga yang membuat PAkubuwana IX benci terhadap keluarga Mas Pajangswara. Padahal Mas Pajangswara ditemukan tewas mengenaskan karena siksaan yang ia terima di dalam penjara oleh Belanda.

Ranggaswati sendiri berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Pakubuwana IX melalui persembahan naskah Serat Compotet. Pada tanggal 16 Maret 1893, Pakubuwana IX meninggal dan pemerintahannya pun berakhir, lantas tahta kerajaan digantikan oleh putranya.
Pakubuwana X

sejarah keraton solo
obiesantun.blogspot.co.id
Suasana plitik kerajaan yang stabil dan kemegahan tradisi sebagai tanda masa kejayaan pemerintahan Pakubuwana X.

Sejalan dengan perubahan plitik di Hindia Belanda, masa pemerintahan Kasunanan Surakarta yang di pimpin oleh Pakubuwana X mengalami transisi, dari kerajaan tradisional menuju kerajaan era modern dengan masa pemerintahan yang cukup panjang.

Pakubuwana X memberikan kebebasan dalam penerbitan media masa dan kebebasan berorganisasi, meskipun pada waktu itu sedang berada dalam tekanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Pakubuwana X juga mendukung pendirian salah satu organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia yaitu organisasi Sarekat Islam. Pada masa pemerintahannya juga mengadakan kongres Bahasa Indonesia I di Surakarta (1938)

Pada masa pemerintahan Pakubuwana X juga banyak membangun infrastruktur modern untuk Kota Surakarta seperti bangunan Pasar Gede, Stasiun Solo-Kota (Sangkrah), Stasiun Solo Jabres, Stasiun Sriwedari, Jembatan Jurug yang melintasi Bengawan Solo di timur kota, kebun binatang (“Taman Satwataru”) Jurug, Taman Balekambang, rumah pemotongan hewan ternak di Jagalan, gapura-gapura di batas Kota Surakarta, rumah perabuan (pembakaran jenazah) bagi warga Tionghoa, dan rumah singgah bagi tunawisma.

Pada tanggal 1 Februari 1939 Pakubuwana X meninggal dunia, ia juga di juluki sebagai raja besar Surakarta atau Sunan Panutup yang terakhir oleh rakyatnya. Kemudian tahtanya diganti oleh putranya yang bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana XI.
Pakubuwana XI

sejarah keraton solo
wikipedia.org
Terjadinya pemerintahan Pakubuwana XI pada masa sulit, pasalnya ia memerintah bertepatan dengan terjadinya perang dunia kedua. Sejak tahun 1942 ia juga mengalami pergantian pemerintah penjajahan dari kekuasaan Belanda kepada Jepang.

Pakubuwana XII Masa Perjuangan Kemerdekaan


sejarah keraton Solo
igpwiranegara.wordpress.com
Awal Pakubuwana XII memerintah hampir bersamaan dengan lahirnya Negri Kesatuan Republik Indonesia. Praja Mangkunegara dan Kasunanan Surakarta sempat menjadi Daerah Istimewa di awal masa kemerdekaan (1945-1946).

Akan tetapi karena agitasi politik dan kerusuhan saat itu, maka pada tanggal 16 Juni 1946 oleh pemerintahan Indonesia status Daerah Istimewa diubah menjadi Karesidenan, menyatu di dalam wilayah NKRI (Negri Kesatuan Republik Indonesia).

Penetapan status Daerah Istimewa ini diberikan Presiden Soekarno sebagai balas budi atas pengakuan raja-raja Praja mangkunagara dan Kasunanan Surakarta yang menyatakan wilayah mereka adalah bagian dari Negara Kesatuan Republk Indonesia pada tanggal18 Agustus 1945

Pada tanggal 1 September 1945, Praja mangkunagara dan Kasunanan Surakarta mengirimkan maklumat kepada Presiden Soekarno mengenai pernyataan dari KGPAA Mangkunagara VIII dan Susuhunan Pakubuwana XII yang menyatakan bahwasanya Negri Surakarta Hadiningrat yang sebuah kepemimpinannya menganut kerajaan adalah Daerah Istimewa dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), dimana hubungan yang bersifat langsung antara Negeri Surakarta dengan pemerintah pusat Negri Kesatuan Republik Indonesia.

Atas dasar semua itulah, Presiden Soekarno memberikan pernyataan resmi terhadap Susuhunan Pakubuwana XII dan KGPAA Mangkunegara VIII dengan diserahkannya piagam kedudukan resmi.
credit : April 10, 2017 Oleh ibnu asmara

Catatan Lengkap Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Juga Peninggalan, Daftar Raja dan Letak Kerajaan


KERAJAAN MATARAM KUNO atau Mataram (Hindu) adalah sebutan untuk Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya, yang bertahta di Jawa Tengah bagian selatan. Dinasti Sanjaya yang bertekstur Hindu dibangun oleh Sanjaya tahun 732.

Beberapa saat setelahnya, Dinasti Syailendra yang bertekstur Buddha Mahayana dibangun oleh Bhanu tahun 752. Kedua dinasti ini memimpin kekuasaannya berdampingan secara damai. Nama Mataram sendiri awal kali disebut pada masa prasasti yang dicatat di masa raja Balitung.

Yang bisasanya para sejarawan menyebut terdapat tiga dinasti yang pernah menguasai Kerajaan Medang, yaitu Wangsa Sailendra dan Wangsa Sanjaya pada masa Jawa Tengah, juga Wangsa Isyana pada masa Jawa Timur. Istilah Wangsa Sanjaya diambil dari nama raja pertama Medang, yang bernama Sanjaya.

Dinasti ini berkeyakinan agama Hindu aliran Siwa. Menurut sebuah teori Van Naerssen, pada masa Rakai Panangkaran memerintah (pengganti Raja Sanjaya sekitar tahun 770-an), kekuasaan Medang dirampas oleh Wangsa Sailendra yang berkeyakinan Buddha Mahayana.


Saat itulah Wangsa Sailendra mulai berkuasa di Pulau Jawa, bahkan berhasil menguasai Kerajaan Sriwijaya yang berada di Pulau Sumatra. Sampai akhirnya, kisaran tahun 840-an, Rakai Pikatan (seorang keturunan Sanjaya) berhasil menikahi Pramodawardhani putri mahkota dari Wangsa Sailendra.

Berkat pernikahan itu akhirnya ia bisa menjadi Raja Medang, dan istananya dipindahkan ke Mamrati. Peristiwa tersebut diperkirakan sebagai awal Wangsa Sanjaya bangkit kembali .
Sejarah Kerajaan Mataram Kunokilasbaliknusantara.blogspot.co.id

Diperkirakan Kerajaan Mataram Kuno berada pada wilayah aliran sungai-sungai Bogowonto, Elo, Progo, dan Bengawan di Solo Jawa Tengah. Keberadaan Kerajaan Mataram Kuno dapat diketahui dari Prasasti Canggal.

Prasasti bertuliskan angka tahun 732 Masehi ini disebutkan bahwa Kerajaan Mataram Kuno awalnya dipimpin oleh Sana. Setelah Sana wafat, kursi kekuasaan diduduki oleh keponakannya, yaitu Sanjaya. Di masa kepemimpinan Sri Maharaja Rakai Panangkaran di Jawa Tengah berdiri juga dinasti baru, yaitu Dinasti Syailendra yang menganut Agama Budha.

Perkembangan kekuasaan Dinasti Syailengra di wilayah selatan Jawa Tengah menyingkirkan kedudukan Dinasti Sanjaya yang menganut Agama Hindu hingga di bagian tengah Jawa Tengah. Akhirnya, guna memperkuat kekuasaannya masing-masing, kedua dinasti itu sepakat untuk bergabung.

Dengan cara menikahkan antara Putri Pramodharwani dari pihak Syailendra dinikahkan dengan Rakai Pikatan dari dinasti Sanjaya.

Kerajaan Mataram Kuno dikenal dengan keahliannya dalam pembangunan candi agama Hindu dan Budha. Candi yang dipersembahkan untuk Agama Budha di antaranya ialah Candi Borobudur, yang dibuat oleh Samaratungga dari pihak Dinasti Syailendra.

Candi Hindu yang dibangun diantaranya ada Candi Roro Jongrang yang berada di Prambanan, dan dirikan oleh Raja Pikatan. Pada masa kekuasaan Raja Rakai Wawa banyak terjadi kekacauan di wilayah-wilayah yang berada pada bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno sementara itu ancaman dari penjajah luar terus mengintainya.

Menjadi semakin buruknya keadaan setelah sang raja meninggal akibat adanya perebutan kekuasaan di dalam istana. Akhirnya, Raja Wawa digantikan dengan Mpu Sindok. Mpu Sindok memindahkan pusat kekuasaannya yang awalnya di Jawa Tengah ke Jawa Timur. Di sana ia mendirikan sebuah dinasti baru yang diberi nama Isyana.

Pemimpin Kerajaan mataram kuno yang pertama dipimpin oleh Raja Sanjaya yang terkenal sebagai raja yang besar. Ia adalah berkeyakinan Hindu Syiwa yang taat. Setelah Sang Ratu Sanjaya yaitu Rakai Mataram meninggal dunia, kemudian beliau digantikan oleh putranya yaitu Sankhara yang diberi gelar Rakai Panangkaran Dyah Sonkhara Sri Sanggramadhanjaya.

Raja Panangkaran lebih bijaksana dan progresif daripada Sanjaya dari itu Mataram Kuno lebih cepat berkembang. Daerah-daerah sekitar Mataram Kuno langsung ditaklukkan, seperti Kerajaan Melayu di Semenanjung Malaya dan kerajaan Galuh di Jawa Barat.

Ketika kekuasaan berada pada Rakai Panunggalan, kerajaan Mataram Kuno mulai membangun beberapa candi yang megah seperti Candi Borobudur, candi Kalasan, candi Sari, candi Sewu, candi Pawon, dan candi Mendut.

Kemudian setelah Rakai Panunggalan wafat, diganti oleh Rakai Warak. Pada masa pemerintahan Rakai Warak, ia lebih mengutamakan agama Hindu dan Buddha sehingga pada waktu itu banyak masyarakat yang mengetahui agama tersebut. Setelah Rakai Warak wafat, diganti oleh Rakai Garung.

Setelah Rakai Garung wafat, digantikan lagi oleh Rakai Pikatan. Berkat kecerdasan dan keuletan Rakai Pikatan, semangat dalam kebudayaan Hindu mampuh dihidupkan kembali.

Wilayah kekuasaannya pun bertambah luas mencakup seluruh Jawa Timur dan Jawa Tengah dan ia pun memulai membangun candi Hindu yang lebih indah dan besar yaitu candi Prambanan (Candi Lara Jonggrang) di wilayah desa Prambanan. Setelah Raja Pikatan meninggal, digantikan lagi oleh Rakai Kayuwangi.

Pada masa kepemimpinan Rakai Kayuwangi Kerajaan banyak menghadapi persoalan dan berbagai masalah yang rumit sehingga muncullah benih perpecahan di dalam keluarga kerajaan. Selain itu masa keemasan Mataram Kuno mulai runtuh serta banyak terjadi perang antar saudara

Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Kunotabir17.blogspot.co.id

Rakyat Mataram memasrahkan kehidupannya pada hasil pertanian. Hal seperti ini mengakibatkan kerajaan-kerajaan juga daerah lain yang saling mengimpor dan mengekspor hasil dari pertaniannya.

Usaha untuk mengembangkan dan meningkatkan hasil pertanian yang sudah dilakukan sejak pada masa pemerintahan Raja Rakai Kayuwangi. Yang diperjual belikan pertama-tama hasil bumi, semisal beras, sirih pinang, buah-buahan, dan buah mengkudu.

Juga hasil produk buatan rumah tangga, seperti alat perkakas dari tembaga dan besi, pakaian, keranjang, paying, dan barang-barang anyaman, arang, gula, dan kapur sirih. Juga dengan binatang ternak seperti sapi, kerbau, kambing, itik, dan ayam juga telurnya di perjual belikan.

Usaha perdagangan mulai mendapat perhatian juga ketika Raja Balitung bertahta. Raja memerintahkan guna membuat pusat-pusat perdagangan dan penduduk disekitar pinggiran aliran Sungai Bengawan Solo diperintahkan guna menjamin kelancaran arus pada lalu lintas perdagangan pada aliran sungai tersebut.

Sebagai rasa terimakasihnya, penduduk desa di sekitar aliran sungai tersebut terbebas dari pungutan pajak. Lancarya pengangkutan perdagangan lewat sungai tersebut dengan otomatis akan menigkatkan kesejahteraan dan perekonomian rakyat Mataram Kuno.
Raja-raja Mataram Kunogreatindnesia.blogspot.co.id

Kerajaan Mataram Hindu mempunyai raja yang bernama Sanjaya. Raja Sanjaya memimpin kerajaan sekitar tahun 732 Masehi. Sebelum Raja Sanjaya, yang memimpin kerajaan adalah Raja Sanna.

Raja Sanjaya diberi gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Ia kemudian diganti oleh Sri Maharaja Rakai Panangkaran. Pada catatan sejarah, Raja-raja Mataram Kuno di Jawa Tengah lebih lengkapnya adalah sebagai berikut :
  1. Sanjaya, pendiri Kerajaan Mataram Kuno
  2. Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Sailendra
  3. Rakai Panunggalan alias Dharanindra
  4. Rakai Warak alias Samaragrawira
  5. Rakai Garung alias Samaratungga
  6. Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya
  7. Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
  8. Rakai Watuhumalang
  9. Rakai Watukura Dyah Balitung
  10. Mpu Daksa
  11. Rakai Layang Dyah Tulodong
  12. Rakai Sumba Dyah Wawa
  13. Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur
  14. Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya
  15. Makuthawangsawardhana
  16. Dharmawangsa Teguh, Kerajaan Mataram Kuno berakhir
Rakai Watukura Dyah Balitung adalah tokoh sajarah yang paling masyhur pada masa Kerajaan Mataram Hindu. Pada saat Balitung bertahta, Kerajaan Mataram Hindu meraih puncak kejayaannya. Balitung sukses menaklukkan wilayah-wilayah di wilayah timur Mataram Hindu.

Pada masa kekuasaan Balitung, rakyat yang berkeyakinan Hindu-Buddha saling bertoleransi. Candi-candi banyak yang terbangun sebagai hasil dari wujud gotong-royong masyarakat yang mempunyai ragam agama.
Kehidupan Politik kerajaan Mataram Kunomendoldilangit.blogspot.co.id

Berdasarkan Prasasti Canggal ditemukan bahwa Kerajaan Mataram Kuno awal dipimpin oleh Raja Sanna. Raja Sanna setelahnya digantikan oleh keponakannya sendiri yang bernama Sanjaya. Sanjaya merupakan anak Sanaha, saudara perempuan dari Raja Sanna.

Hal ini terjadi dikarenakan Raja Sanna tidak mempunyai keturunan. Raja Sanjaya memimpin dengan penuh bijaksana sehingga rakyat Mataram hidup makmur, tenteram, dan aman.

Hal ini terlihat dari sebuah kalimat pada Prasasti Canggal yang menyatakan bahwa Jawa kaya akan emas dan padi. Selain terdapat dalam prasasti Canggal, nama Sanjaya juga tertulis dalam Prasasti Balitung.

Setelah Sanjaya, kepemimpinan Kerajaan Mataram Kuno dipinmpin oleh Panangkaran. Dari prasasti Balitung ditemukan bahwa Raja Panangkaran memiliki gelar Syailendra Sri haraja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Hal tersebut menunjukkan bahwa asal Rakai Panangkaran dari keluarga Sanjaya dan Syailendra.
Sepeninggal Raja Panangkaran

Sepeninggal Panangkaran, Kerajaan Mataram Kuno terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Mataram yang bernuansa Hindu dan Kerajaan Mataram yang bernuansa Buddha .

Wilayah Kerajaan Mataram yang bernuansa Hindu mencakup Jawa Tengah bagian Utara. Kerajaan ini dipimpin oleh Dinasti Sanjaya dengan raja-raja, semisal: Panunggulan Warak, Pikatan, dan Garung. Sedangkan wilayah Kerajaan Mataram Kuno yang bernuansa Buddha mencakup Jawa Tengah bagian Selatan.

Kerajaan ini dipimpin oleh Dinasti Syailendra dengan seorang raja antara lain Indra. Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya menggelar perkawinan politik bersama Pramodhawardani dari keluarga Syailendra pada tahun 850 M. Dengan adanya perkawinan ini, Kerajaan Mataram Kuno dapat kembali dipersatukan.

Pada masa kepemimpinan Pikatan-Pramodawardani, wilayah Mataram luas berkembang mencakup Jawa Timur dan Jawa Tengah. Rakai Pikatan juga sukses membangun Candi Plaosan. Setelah Rakai Pikatan meninggal, Pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno diambil alih oleh Balitung (898 – 910 M).
Raja Balitung

Raja Balitung adalah raja terbesar dari Kerajaan Mataram dan memiliki gelar Sri Maharaja Rakai Wakutura Dyah Ballitung.

Pada masa kepemimpinannya banyak didirikan candi dan prasasti. Di antaranya ialah komplek Candi Prambanan. Bukan hanya itu, Raja Balitung terkenal dapat mengatur dengan baik pemerintahan sehingga menjadikan rakyatnya sejahtera.

Setelah pemerintahan Balitung, pemerintahan berturut-turut dikendalikan oleh Tuladong, Daksa, dan Wawa. Raja Wawa memerintah diantara 924 – 925 M. Kemudian ia digantikan oleh mantunya yaitu Mpu Sendok. Pada masa kepemimpinan Mpu Sendok, pusat kerajaan Mataram Kuno dipindah lokasikan ke Jawa Timur.

Hal ini dikarenakan makin besarnya akan pengaruh Kerajaan Sriwijaya yang dipimpin oleh Balaputradewa. pada masa abad ke-7 hingga abad ke-9 terjadi serangan pertempuran dari Sriwijaya ke Mataram. Hal ini menjadikan Mataram Kuno semakin terdesak sampai wilayah timur.

Selain itu juga, sering terjadi akan bencana alam yang merupakan letusan gunung Merapi. Letusan gunung ini masyarakat Mataram Kuno meyakini sebagai tanda kehancuran dunia. Maka dari itu, mereka meyakini letak Kerajaan di Jawa Tengah sudah tidak bisa atau layak dan harus dipindahkan.
Letak Kerajaan Mataram Kunomarkijar.com

Kerajaan Mataram Kuno terletak di daerah aliran sungai Progo elo, Bogowonto, dan Bengawan Solo Jawa Tengah dibagian selatan. Akan tetapi kerajaan berpindah ke jawa timur pada abad ke-10.

Kerajaan Mataram Kuno merupakan salah satu kerajaan terkenal dan termasyur di dunia para peneliti sejarah. Hal tersebut dikarenakan banyaknya macam peninggalan yang dapat ditemukan di sekitar kerajaan.


Tidak hanya benda-benda atau barang-barang purbakala, tapi banyak juga ditemukan peninggalan-peninggalan sejarah kerajaan yang menyatakan keberadaan lokasi Kerajaan Mataram Kuno.

Lokasi yang menjadi inti daerahnya adalah Bhumi Mataram dengan ibukotanya adalah Medan Kamulan. menurut perkiraan, tempat lokasi Kerajaan Mataram Kuno sekarang merupakan Yogyakarta 
Keruntuhan kerajaan mataram kunomuttaqin.id

Kerajaan Mataram kuno runtuh disebabkan karena beberapa faktor.

  1. disebabkan oleh meletusnya gunung Merapi sehingga mengeluarkan lahar. Kemudian lahar letusan gunung tersebut menimbun candi-candi yang dibangun oleh kerajaan, dan menjadikan candi-candi tersebut rusak.
  2. runtuhnya kerajaan Mataram dikarenakan terjadinya krisis politik yang terjadi pada tahun 927-929 M.
  3. runtuhnya Kerajaan Mataram disebabkan oleh perpindahan letak kerajaan Mataram dikarenakan pertimbangan ekonomi. Daerah di Jawa Tengah kurang subur, sangat jarang terdapat aliran air sungai besar dan tidak juga tidak ada pelabuhan strategis. Sedangkan di Jawa Timur, dan juga di pantai selatan Bali termasuk jalur yang strategis untuk mengadakan perdagangan, dan dekat dengan wilayah sumber yang menghasilkan komoditi perdagangan.
Peninggalan Kerajaan Mataram Kunoliputanrakyat.com

Kerajaan Mataram Kuno banyak meninggalkan jejak setelah keruntuhannya, dari banyak peninggalan tersebut ada yang berupa prasasti dan ada juga yang berupa candi. Berikut macam peninggalan Kerajaan Mataram Kuno:

Prasasti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno


Terdapat empat prasasti yang dapat ditemukan pada peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Dengan ditemukannya prasasti berbagai bentuk dan tulisan-tulisannya menyebutkan bahwa benar akan keberadaan Kerajaan Mataram Kuno.
1. Prasasti Canggalx1patulabsky.blogspot.co.id

Prasasti Canggal dalam bentuk Candrasangkala, ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir yang berada di desa Canggal berangka tahun 732 M.
2. Prasasti Kalasanid.wikipedia.org

Prasasti Kalasan ditulis dalam bahasa Sansekerta dan huruf Pranagari (India Utara), yang ditemukan di kawasan desa Kalasan Yogyakarta tahun 778 M.
3. Prasasti Mantyasihyacob-ivan.blogspot.co.id

Prasasti Mantyasih yang menggunakan bahasa Jawa Kuno ditemukan di Mantyasih Kedu, Jateng dengan angka tahun 907 M.

Isi dari prasasti itu adalah daftar dari silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Bality ialah Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Warak, Rakai Panunggalan, Rakai Garung, Rakai Watuhumalang, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, dan Rakai Watukura Dyah Balitung. Untuk itu prasasti Mantyasih atau Kedu ini disebut juga dengan prasasti Belitung
4. Prasasti Kelurakwikiwand.com

Prasasti Klurak ditemukan di kawasan desa Prambanan dengan angka tahun 782 M tertulis dalam huruf Pranagari dan bahasa Sansekerta dalam isinya menceritakan pembangunan arca Manjusri oleh Raja Indra yang memiliki gelar Sri Sanggramadananjaya.
14 Candi Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Selain banyak prasasti sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, kerajaan ini juga banyak meninggalkan candi-candi yang tersebar diberbagai daerah di Indonesaia. Berikut daftar candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno:
1. Candi Gatotkacamyridemyadventure.blogspot.co.id

Candi Gatotkaca adalah salah satu dari candi Hindu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, di daerah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Candi ini berada di sebelah barat dari Kompleks Percandian Arjuna, tepi jalan menuju arah Candi Bima, tepat seberang Museum Dieng Kailasa. Nama Gatotkaca diberikan oleh penduduk karena mengambil sumber dari nama tokoh wayang yang ada di cerita Mahabarata.
2. Candi Bimapariwisatadieng.com

Candi Bima berada di Desa Dieng Kulon, Kec. Batur, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah, candi ini berada paling selatan di wilayah Percandian Dieng. Pintu masuk bertempat di sisi timur.

Di banding dengan candi-candi lain, candi ini cukup unik, baik di daerah Dieng maupun Indonesia pada umumnya, karena kesamaan atau kemiripan arsitekturnya dengan beberapa macam candi di India.

Bagian atapnya hampir sama dengan shikara dan memiliki bentuk seperti mangkuk yang dibalikkan. Pada bagian atap ditemukan ada relung dengan relief kepala yang juga disebut dengan kudu.

3. Candi Dwarawatiindonesiakaya.com
Bentuk Candi Dwarawati hampir sama dengan Candi Gatutkaca, yaitu berpeta dasar segi empat dengan tampak di keempat sisinya. Tubuh candi berdiri tegak di atas batur dengan tinggi sekitar 50 cm. pintu masuk dan Tangga , yang berada di sisi barat, saat ini dalam bentuk tanpa pahatan atau polos.
4. Candi Arjunapegipegi.com

Candi Arjuna merupakan candi yang mirip dengan candi-candi di kompleks Gedong Sanga. Berdenah dasar bentuk persegi dengan luas kurang lebih ukuran 4 m2. Tubuh candi terbangun diatas batur dengan ketinggian sekitar 1 m. Di sisi barat ada tangga menuju pintu masuk ke dalam ruangan kecil pada tubuh candi.

Pintu candi juga dilengkapi dengan seperti macam bilik penampil yang menonjol keluar sekitar 1 m dari bagian tubuh candi. Di atas ambang pintu terdapat hiasan dengan pahatan Kalamakara.
5. Candi Semarid.wikipedia.org

Candi Semar yang mana denah dasarnya memiliki bentuk persegi empat yang membujur ke arah utara dan letaknya tepat berhadapan dengan Candi Arjuna. Candi Batur memiliki ketinggian sekitar 50 cm, polos tanpa adanya hiasan. Tangga yang mengarah ke pintu masuk ruang pada tubuh candi berada di sisi timur.

Pada ambang pintu diberi bingkai berhiaskan kepala naga di pangkalnya dan pola kertas tempel. Di atas ambang pintu ditemukan Kalamakara tanpa rahang bawah.
6. Candi Puntadewapanduanwisatadieng.com

Ukuran Candi ini tidak terlalu besar, namun candi ini terlihat lebih tinggi. Tubuh candi terbangun di atas batur bersusun dengan ketinggian sekitar 2,5 m. Tangga ntuk menuju pintu masuk ke ruang pada tubuh candi dilengkapi dengan pipi candi dan terbuat bersusun dua, sama dengan batur candi.

Atap Candi Puntadewa mirip dengan atap dari Candi Sembadra, yaitu dengan bentuk kubus besar. Puncak atapnya juga sudah hancur, sehingga membuat bentuk aslinya tidak terlihat lagi.

Pada keempat sisi bagian atap juga ada relung kecil seperti tempat untuk meletakan arca. Pintu dilengkapi dengan bilik penampil dan juga diberi bingkai yang berhiaskan dengan motif kertas tempel.

7. Candi Sembrada
myridemyadventure.blogspot.co.id

Batur Candi Sembrada memiliki tinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar memiliki bentuk bujur sangkar. Di pertengahan sisi timur, selatan dan utara ada bagian yang menonjol keluar, membentuk sebuah relung semisal bilik penampil. Letak pintu masuk berada di sisi barat dan dilengkapi dengan menggunakan bilik penampil.

Adanya relung di sisi timur, selatan dan utara dan bilik penampil di sisi bagian barat membuat bentuk dari tubuh candi tampil seperti poligon. Di halaman terletak batu yang ditata rapih sebagai jalan setapak untuk menuju pintu.

8. Candi Srikandicommons.wikimedia.org

Candi Srikandi terletak di bagian utara Candi Arjuna. Batur candi memiliki tinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar bentuk kubus.

Terdapat tangga dengan bilik penampil di sisi bagian timur. Pada dinding bagian utara terdapat pahatan yang membentuk Wisnu, pada dinding bagian timur berbentuk Syiwa dan pada dinding bagian selatan bergambarkan Brahma. Sebagian besar dari pahatan tersebut sudah mengalami kerusakan. Atap candi sudah hancur sehingga tidak tampak lagi bentuk aslinya.

9. Candi Gedong Songocoretanpetualang.wordpress.com

Candi Gedong Songo merupakan nama sebuah area bangunan candi peninggalan dari budaya Hindu yang berada di desa Candi, Kec. Bandungan, Kab. Semarang, Jawa Tengah, letak tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di area candi ini ada sembilan buah candi.

Candi ini ditemukan pada tahun 1804 oleh Raffles dan merupakan peninggalan Hindu dari masa Wangsa Syailendra pada abad ke-9 (tahun 927 masehi). Candi ini mempunyai persamaan dengan area Candi Dieng di Kabupaten Wonosobo.

Candi ini berada pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut yang menjadikan suhu udara disini lumangyan dingin (kurang lebih 19-27 °C)
10. Candi Sarichathelastcross.wordpress.com

Candi Sari ialah candi Buddha yang letaknya tidak jauh dari lokasi Candi Sambi Sari, Candi Prambanan dan Candi Kalasan, yaitu di bagian timur laut dari Yogyakarta, dan letaknya dekat dari Bandara Adisucipto. Candi ini didirikan sekitar abad ke-8 dan ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno dengan memiliki bentuk yang sangat indah.

Pada bagian atas candi ini ada 9 buah stupa mirip dengan yang nampak pada stupa Candi Borobudur, dan tersusun pada 3 deretan sejajar.

Bentuk bangunan dari candi serta ukiran relief yang terukir pada dinding candi hammpir sama dengan relief pada Candi Plaosan. Beberapa ruangan bertingkat yang dua berada pas di bawah masing-masing stupa, dan kira-kira dipakai untuk tempat bertapa bagi para keagamaan Buddha (bhiksu) dizaman dahulunya.

Candi Sari pada masa silam merupakan sebuah Vihara Buddha, dan digunakan sebagai tempat belajar dan mengajar bagi para bhiksu.
11. Candi Mendutpakettourjogja.com

Candi Mendut adalah candi bermotif Buddha. Candi yang berada di Jl. Mayor Kusen Kota Mungkid, Kab. Magelang, Jawa Tengah ini, letaknya sekitar 3 kilometer dari candi Borobudur.

Candi Mendut dibangun semasa kekuasaan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertahun 824 Masehi, tercatat bahwa raja Indra telah mendirikan bangunan suci yang diberi nama wenuwana yang artinya hutan bambu.

12. Candi Sewu
baratlaut.deviantart.com

Secara administratif, area Candi Sewu berada di Dukuh Bener, Ds. Bugisan, Kec. Prambanan, Kab. Klaten, Prov. Jawa Tengah. Candi Sewu merupakan candi Buddha yang didirikan pada abad ke-8 yang memiliki jarak hanya 800 m di sebelah utara dari Candi Prambanan.

Candi Sewu adalah kompleks candi Buddha paling besar kedua setelah Candi Borobudur yang berada di Jawa Tengah. Usia Candi Sewu lebih tua daripada Candi Prambanan.

Meskipun yang sebenarnya terdapat 249 candi, candi ini oleh masyarakat setempat dinamakan “Sewu” yang artinya seribu dalam bahasa Jawa. Penamaan ini atas dasar kisah legenda Loro Jonggrang.
13. Candi Pawonancientmataram.wordpress.com

Letak Candi Pawon berada di antara Candi Borobudur dan Candi Mendut, tepat dengan jarak 1150 m dari Candi Mendut ke arah barat dan 1750 meter dari Candi Borobudur ke arah timur. Tidak dapat diketahui secara pasti asal-usul dari nama Candi Pawon.

Ahli epigrafi J.G. de Casparis berpendapat bahwa Pawon berasal dari bahasa Jawa yaitu awu yang artinya ‘abu’, Dalam bahasa Jawa kata pawon aritinya ‘dapur’, akan tetapi de Casparis mengartikannya dengan ‘perabuan’ atau tempat abu.

Penduduk sekitar juga menyebutkan Candi Pawon dengan sebutan Bajranalan. Mungkin kata ini berasal dari kata Sanskerta vajra yang artinya ‘halilintar’ dan anala yang artinya ‘api’.
14. Candi Borobudursumber.com

Candi Borobudur adalah sebuah candi peninggalan Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi ini kurang lebih 86 km di sebelah barat Surakarta, 100 km di sisi barat daya Semarang, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta.

Candi yang berbentuk stupa ini dibangun oleh para penganut kepercayaan Buddha Mahayana kira-kira tahun 800-an Masehi pada masa kekuasaan wangsa Syailendra. Candi Borobudur ini terdiri atas enam teras dengan bentuk bujur sangkar yang diatasnya ada tiga pelataran melingkar, pada bagian dinding dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya ada 504 arca Buddha.

Stupa utama terbesar berada di tengah juga sebagai memahkota bangunan ini, dikelilingi oleh 3 barisan melingkar 72 stupa yang di dalamnya ada arca buddha.

Itulah yang bisa saya bagikan mengenai Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, kurang lebihnya saya minta maaf dan mudah-mudahan informasi mengenai Sejarah kerajaan Mataram Kuno ini bisa bermanfaat untuk kalian semu
a. 
Terima Kasih.
credit by Juli 10, 2017