03 February 2015

Siksa atas Pezina di Alam Kuburnya


Zina merupakan perbuatan dosa terburuk. Salah satu dosa besar yang paling besar. Dosa hina yang membuat Allah sangat murka. Terlebih kalau yang melakukannya sudah pernah menikah dan merasakan madu perkawinan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyediakan ancaman berat atas perbuatan zina. Allah menggandengkannya dengan ancaman atas perbuatan syirik dan pembunuhan. Ini menunjukkan status dosanya yang sangat berat dan termasuk bagian dari dosa besar yang paling besar.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqan: 68-69)

Sejumlah mufassirin menyebutkan makna atsam. Yaitu lembah di jahannam. Ikrimah mengatakan, “Mendapatkan atsam: lembah-lembah di jahannam di mana para pezina disiksa di dalamnya.” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir ayat di atas].

Di mana siksa atas mereka diipatgandakan dan mereka kekal di dalamnya dalam kondisi dihinakan sejadi-jadinya. Ini siksa di akhirat pasca dibangkitkan manusia. Adapun sebelum itu, di alam kuburnya, Allah sediakan siksa atas pezina yang juga mengerikan dan menghinakan. Yaitu para pezina laki-laki dan perempuan dipanggang di atas tungku yang bawahnya luas sementara atasnya sempit. Saat api menyalak ke atas, maka mereka terangkat sambil berteriak dan menjerit sekeras-kerasnya. Namun saat itu api mengecil dan mereka kembali di atas tungku. Siksa itu berulang sampai kiamat tiba. Mereka tak bisa keluar darinya. Sebuah kesengsaraan akibat kenikmatan haram sesaat.

Keterangan siksa di atas tercantum dalam hadits yang sangat panjang di Shahih al-Bukhari. Berasal dari Samurah bin Jundab Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Pada suatu pagi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bercerita kepada kami:

إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتِيَانِ وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِي وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقْ وَإِنِّي انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا. . . فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى مِثْلِ التَّنُّورِ قَالَ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فَإِذَا فِيهِ لَغَطٌ وَأَصْوَاتٌ قَالَ فَاطَّلَعْنَا فِيهِ فَإِذَا فِيهِ رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ وَإِذَا هُمْ يَأْتِيهِمْ لَهَبٌ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ فَإِذَا أَتَاهُمْ ذَلِكَ اللَّهَبُ ضَوْضَوْا

“Tadi malam aku didatangi dua orang. Keduanya berkata kepadaku: berjalanlah. Kemudian aku pergi berjalan bersama keduanya. . . lalu kami mendatangi bangunan menyerupai tungku api. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dan teriakan di dalamnya. Lalu kami melongok ke dalamnya. Ternyata di dalamnya terdapat beberapa laki-laki dan perempuan telanjang. Kobaran api dari bawah mereka menyalak ke mereka. Saat kobaran api itu mengenai mereka, maka mereka menjerit kesakitan.”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada kedua orang yang pergi bersamanya tadi, “Siapa mereka itu?” kemudian dijawab di ujung hadits,

وَأَمَّا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ العُرَاةُ الَّذِينَ فِي مِثْلِ بِنَاءِ التَّنُّورِ، فَإِنَّهُمُ الزُّنَاةُ وَالزَّوَانِي

“Adapun laki-laki dan perempuan telanjang yang berada di bangunan seperti tungku api adalah para laki-laki dan perempuan pezina.” (HR. Al-Bukhari)

Inilah siksa yang disediakan bagi pezina di alam kuburnya yang berlangsung hingga tiba kiamat. Sedangkan siksa berikutnya jauh lebih buruk dan mengerikan. Adakah orang yang masih berani mengap kenikmatan sesaat untuk kesengsaraan yang panjang. Wallahu A’lam

ISTILAH BERBAHASA SANTUN MENURUT AL-QUR’AN

Ada sebuah pepatah, “Lidah itu tidak bertulang, tetapi ia lebih tajam daripada pedang”. Pepatah ini benar adanya. Terluka oleh lisan akan lebih sakit dibanding terluka oleh pedang. Pasalnya, luka karena pedang banyak medical service yang memungkinkan penyembuhan. Tetapi, luka karena lisan belum tentu ada penawarnya, karena yang terluka bukanlah fisik melainkan batin.

Kata-kata yang keluar dari mulut kita tidak selamanya kita rasa baik, terkadang  secara sengaja atau tidak menyayat hati pendengarnya. Jika hal tersebut dibiarkan maka ucapan yang keluar dari mulut kita justru akan merugikan diri kita sendiri. Sehingga, ahli ibadah divonis celaka oleh Rasulullah saw gara-gara lisannya yang tidak terjaga. Dalam sebuah hadits dijelaskan:

قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ ص إِنَّ فُلَانَةَ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَتَقُوْمُ اللَّيْلَ وَ هِيَ سَيِّئَةُ الْخُلُقِ تُؤْذِى جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ لَا خَيْرَ فِيْهَا هَيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ


Dikatakan kepada Rasulullah saw., “Sesungguhnya si Fulanah shaum di siang hari dan tahajud di malam hari. Namun akhlaknya buruk. Ia suka menyakiti hati tentangganya dengan mulutnya”. Rasulullah bersabda, “Tidak ada kebaikan pada diri Fulanah itu. Ia termasuk ahli neraka”. (H.R. Ahmad).

I. PENDAHULUAN

Kemampuan berbicara berarti kemampuan berkomunikasi. Berkomunikasi adalah sesuatu yang diperlukan hampir di setiap kegiatan manusia. Dalam komunikasi kita dapat saling menumbuhkan persahabatan, memelihara kasih sayang, dan berbagi pengetahuan. Akan tetapi dengan komunikasi, kita juga dapat mengakibatkan perpecahan, permusuhan, dan kebencian. Kenyataan ini menjadi gambaran bahwa kegiatan komunikasi bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan oleh setiap manusia.

Pembahasan di dalam makalah ini adalah tentang qaulan. Qaulan adalah suatu pesan-pesan keislaman yang mana dalam penyampaiannya itu dilihat dari komunikasi menurut ajaran Islam. Mengenai caranya, dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits dapat ditemukan berbagai panduan agar komunikasi berjalan dengan baik dan efektif sehingga tidak terjadi suatu kesalahpahaman antara umat manusia dalam menyampaikan komunikasi dan komunikasi yang diterimanya. Kita dapat mengistilahkannya sebagai kaidah, prinsip, atau etika berkomunikasi dalam perspektif Islam. Yang mana kaidah, prinsip, atau etika komunikasi dalam Islam ini merupakan panduan bagi kaum muslim dalam melakukan komunikasi.

II. RUMUSAN MASALAH


A. Apakah arti dari Qaulan sadidan?
B. Apakah arti dari Qaulan balighan?
C. Apakah arti dari Qaulan kariman?
D. Apakah arti dari Qaulan maisuran?
E. Apakah arti dari Qaulan ma’rufa?
F. Apakah arti dari Qaulan layyinan?

III. PEMBAHASAN


A. Qaulan Sadidan

Qaulan sadidan terdiri dari kata qaul yang berarti perkataan atau pernyataan, dan sadid yang berarti tepat atau benar.[1] Kata ( سديدا) sadidanterdiri dari huruf sin dan dal yang menurut pakar bahasa, Ibn Faris, menunjuk kepada makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya. Ia juga berarti istiqomah/konsistensi. Kata ini juga digunakan untuk menunjuk kepada sasaran. Seseorang yang menyampaikan sesuatu/ucapan yang benar dan mengena tepat pada sasarannya dilukiskan dengan kata ini.
Dari kata ( سديدا) sadidan, yang mengandung makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya, diperoleh pula petunjuk bahwa ucapan yang meruntuhkan jika disampaikan, harus pula dalam saat yang sama memperbaikinya, dalam arti kritik yang disampaikan hendaknya merupakan kritik yang membangun, atau dalam arti informasi yang disampaikan haruslah baik, benar, dan mendidik.[2]
Q.S An-Nisa: 9
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (۹)
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.[3]


Q.S. Al-Ahzab: 70
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (۷۰)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.[4]


Dalam konteks ayat di atas kata qaul sadid ditujukan kepada orang-orang yang beriman, supaya mereka senantiasa berkata benar atau tepat dalam situasi dan kondisi apapun.[5] Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk selalu berkata benar, selaras antara yang diniatkan dan yang diucapkan, karena seluruh kata yang diucapkan dicatat oleh malaikat Raqib dan ‘Atid, dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Bila mereka tetap memelihara keimanan dan ketakwaan serta selalu mengatakan kebenaran, pasti Allah akan memperbaiki perbuatan dan mengampuni dosa-dosa mereka.[6]
Thahir Ibn Asyur menggaris bawahi kata ( قول ) qaul/ucapan yang menurutnya merupakan satu pintu yang sangat luas, baik yang berkaitan dengan kebajikan maupun keburukan. Sekian banyak hadits yang menekankan pentingnya memerhatikan lidah dan ucapan-ucapannya. “Manusia tidak disungkurkan wajahnya ke neraka kecuali akibat lidah mereka.” “Allah merahmati seseorang yang mengucapkan kata-kata yang baik sehingga dia memperoleh keselamatan.” “Barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari Kemudian, hendaklah dia berucap yang baik atau diam.” Demikian Ibnu Asyur mengemukakan tiga hadits Nabi saw dan yang selanjutnya menyatakan bahwa “perkataan yang tepat” mencakup sabda para nabi, ucapan para ulama’ dan para penutur hikmah. Membaca Al-Qur’an dan meriwayatkan hadits termasuk dalam hal ini. Demikian juga tasbih tahmid, adzan, dan qamat.
Dengan perkataan yang tepat-baik yang terucapkan dengan lidah dan didengar orang banyak maupun yang tertulis sehingga terucapkan oleh diri sendiri dan orang lain ketika membacanya akan tersebar luas informasi dan memberi pengaruh yang tidak kecil bagi jiwa dan pikiran manusia. Kalau ucapan itu baik, baik pula pengaruhnya, dan bila buruk maka buruk pula, dan karena itu ayat di atas menjadikan dampak dari perkataan yang tepat adalah perbaikan amal-amal.
Thabathaba’i berpendapat bahwa dengan keterbiasaan seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang tepat, ia akan menjauh dari kebohongan dan tidak juga mengucapkan kata-kata yang mengakibatkan keburukan atau yang tidak bermanfaat. Seseorang yang telah mantap sifat tersebut pada dirinya, perbuatan-perbuatannyapun akan terhindar dari kebohongan dan keburukan, dan ini berarti lahirnya amal-amal shaleh dari yang bersangkutan. Ketika itu ia akan menyadari betapa buruk amal-amalnya yang pernah ia lakukan sehingga ia menyesalinya dan penyesalan tersebut mendorong ia bertaubat, dan ini mengantar Allah memeliharanya serta menerima taubatnya.[7]
Qaulan sadidan menurut pemaparan arti dari surat di atas yaitu suatu pembicaraan, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa).


B. Qaulan Balighan

Kata (بليغا) balighan terdiri dari huruf-huruf ba’, lam dan ghain. Pakar-pakar bahasa manyatakan bahwa semua kata yang terdiri dari huruf-huruf tersebut mengandung arti sampainya sesuatu ke sesuatu yang lain. Ia juga bermakna “cukup” karena kecukupan mengandung arti sampainya sesuatu kepada batas yang dibutuhkan. Seorang yang pandai menyusun kata sehingga mampu menyampaikan pesannya dengan baik lagi cukup dinamai baligh. Mubaligh adalah orang yang menyampaikan suatu berita yang cukup kepada orang lain. Pakar-pakar sastra menekankan perlunya dipenuhi beberapa kriteria sehingga sehingga pesan yang disampaikan dapat disebut balighan, yaitu:
a. Tertampungnya seluruh pasan dalam kalimat yang disampaikan
b. Kalimatnya tidak bertele-tele tetapi tidak pula disingkat sehingga mengaburkan pesan. Artinya, kalimat tersebut cukup, tidak berlebihan atau berkurang.
c. Kosa kata yang merangkai kalimat tidak asing bagi pendengaran dan pengetahuan lawan bicara, mudah diucapkan serta tidak “berat” terdengar.
d. Sesuai dengan kandungan dan gaya bahasa dengan sikap lawan bicara. Lawan bicara atau orang kedua tersebut boleh jadi sejak semula menolak pesan atau meragukannya atau boleh jadi telah meyakini sebelumnya, atau belum memiliki ide sedikitpun tentang apa yang akan disampaikan.
e. Kesesuaian dengan tata bahasa.[8]


Kata baligh berarti tepat, lugas, fasih, dan jelas maknanya. Qaulan balighanartinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah, dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele. Agar komunikasi tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan kadar intelektualitas komunikasi dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh mereka.


Q.S. An-Nisa: 63
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا (٦٣)
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.[9]


C. Qaulan Kariman

Kata (كريما) kariman biasa diterjemahkan mulia. Kata ini terdiri dari huruf-huruf kaf, ra’, dan mim yang menurut pakar-pakar bahasa mengandung makna yang mulia atau terbaik sesuai objeknya. Bila dikatakan rizqun karim, yang dimaksud adalah rizki yang halal dalam perolehan dan pemanfaatannya serta memuaskan dalam kualitas dan kuantitasnya. Bila kata karim dikaitkan dengan akhlak menghadapi orang lain, ia bermakna pemaafan.[10]
Qaulan kariman adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah lembut, dan bertata krama. Qaulan kariman harus digunakan khususnya saat berkomunikasi dengan kedua orang tua dan orang yang harus dihormati. Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Isra: 23;
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (۲٣)
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.[11]


Ayat diatas menuntut agar apa yang disampaikan kepada orang tua bukan saja yang benar dan tepat, bukan saja juga yang sesuai dengan adat kebiasaan yang baik dalam suatu masyarakat, tetapi ia juga harus yang terbaik dan mulia, dan kalaupun seandainya orang tua melakukan suatu kesalahan terhadap anak, kesalahan itu harus dianggap tidak ada/dimaafkan (dalam arti dianggap tidak pernah ada dan terhapus dengan sendirinya) karena tidak ada orang tua yang bermaksud buruk terhadap anaknya. Demikian makna kariman yang dipesankan kepada anak dalam menghadapi orangtuanya.[12]
Ketentuan dan sopan santun dalam ayat ini antara lain:
1. Seorang anak tidak boleh mengucapkan kata kotor dan kasar meskipun hanya berupa kata “ah” kepada orang tuanya.
2. Seorang anak tidak boleh menghardik atau membentakorang tuanya, sebab bentakan itu akan melukai perasaan keduanya.
3. Hendaklah anak mengucapkan kata-kata yang mulia kepada orang tuanya. Kata-kata yang mulia ialah kata-kata yang baik dan diucapkan dengan penuh hormat, yang menggambarkan adab sopan santun dan penghargaan penuh terhadap orang lain.[13]


D. Qaulan Maisuran

Secara etimologis, kata maisuran berasal dari kata yasara yang artinya mudah atau gampang (Al-Munawir). Ketika kata maisuran digabungkan dengan kata qaulan menjadi qaulan maisuran artinya berkata dengan mudah atau gampang. Berkata dengan mudah maksudnya adalah kata-kata yang digunakan mudah dicerna, dimengerti, dan dipahami. Makna lainnya adalah kata-kata yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembirakan.
Kata qaulan maisuran hanya satu kali disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu pada Q.S. Al-Isra: 28;
وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلًا مَيْسُورًا (۲٨)
Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.[14]


Berdasarkan ashab al-nuzul ayat terebut, Allah memberikan pendidikan kepada Nabi Muhammad saw untuk menunjukkan sikap yang arif dan bijaksana dalam menghadapi keluarga dekat, orang miskin, dan musafir.


E. Qaulan Ma’rufa

Qaulan Ma’rufa artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan. Qaulan Ma’rufa juga memiliki arti yaitu kalimat-kalimat yang baik sesuai dalam kebiasaan masyarakat, selama kalimat tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai ilahi.[15] Atau juga bermakna pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat).


Q.S. An-Nisa: 5
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا (٥)
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.[16]


Ayat ini mengamanahkan agar pesan hendaknya disampaikan dalam bahasa yang sesuai dengan adat kebiasaan yang baik menurut ukuran setiap masyarakat[17]
Q.S. An-Nisa: 8
وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا (٨)
Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat[270], anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu [271] (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.[18]


Q.S. Al-Baqarah: 235
وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ (۲٣٥)
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran]atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf[150]. Dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.[19]


F. Qaulan Layyinan

فقولاله قولاليّنا ) ) fa qula lahu qaulan layyinan/maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut menjadi dasar tentang perlunya sikap bijaksana dalam berdakwah yang antara lain ditandai dengan ucapan-ucapan sopan yang tidak menyakitkan hati sasaran dakwah. Karena Fir’aun saja, yang demikian durhaka, masih juga harus dihadapi dengan lemah lembut. Memang, dakwah pada dasarnya adalah ajakan lemah lembut. Dakwah adalah upaya menyampaikan hidayah. Kata (هداية) hidayah yang terdiri dari huruf-hurufha’, dal, dan ya’ maknanya antara lain adalah menyampaikan dengan lemah lembut. Dari sini, lahir kata hidayah yang merupakan penyampaian sesuatu dengan lemah lembut guna menunjukkan simpati. Ini tentu saja bukan berarti juru dakwah tidak melakukan kritik, hanya saja itupun harus disampaikan dengan tepat bukan saja pada kandungannya tetapi juga waktu dan tempat serta susunan kata-katanya, yakni dengan tidak memaki atau memojokkan.[20]
Qaulan layyinan adalah pembicaraan yang lemah lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layyinan ialah kata-kata sindiran, bukan dengan kata-kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.
Q.S. Thaha: 44
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (٤٤)
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.[21]


Contoh: Allah mengajarkan kepada Musa dan Harun as bagaimana cara menghadapi Fir’aun, yaitu dengan kata-kata yang halus dan ucapan yang lembut. Seseorang yang dihadapi dangan cara demikian, akan terkesan dihatinya dan akan cenderung menyambut dengan baik dan menerima dakwah dan ajakan yang diserukan kepadanya.[22]


IV. KESIMPULAN

Ø Qaulan sadidan yaitu suatu pembicaraan, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa).

Ø Qaulan balighan artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah, dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele.

Ø Qaulan kariman adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah lembut, dan bertata krama.

Ø Qaulan maisuran artinya berkata dengan mudah atau gampang dengan menggunakan kata-kata yang mudah dicerna, dimengerti, dan dipahami. Makna lainnya adalah kata-kata yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembirakan.

Ø Qaulan Ma’rufa artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan.

Ø Qaulan layyinan adalah pembicaraan yang lemah lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layyinan ialah kata-kata sindiran, bukan dengan kata-kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.


V.    PENUTUP

Demikian makalah ini penulis susun, semoga dapat memberi manfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Penulis berharap kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun kepada penulis demi perbaikan makalah yang akan datang.



MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Akhlak II
Dosen pengampu: H. Ahmad Muthohar, M.Ag.

DAFTAR PUSTAKA


Departemen Agama RI. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid IV. Jakarta: Lentera Abadi.
Departemen Agama RI. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid V. Jakarta: Lentera Abadi.
Departemen Agama RI. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid VIII. Jakarta: Lentera Abadi.
Departemen Agama. 2009. Al-Qur-an dan Terjemahan. Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah 2. Jakarta: Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah 4. Jakarta: Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah 7. Jakarta: Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah 15. Jakarta: Lentera Hati.

[1] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid VIII,(Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 46.
[2] M. Quraish Sihab, Tafsir Al-Mishbah 4, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 547.
[3] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 78.
[4] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 427.
[5] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid VIII, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 46.
[6] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid VIII, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 48.
[7] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah 4, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 547-548.
[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah 15, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 595-596 .
[9] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 87.
[10] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah 7, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 65-66
[11] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 284.
[12]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah 7, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm.66.
[13] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid V, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 461.
[14] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 285.
[15] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah 2, (Tangerang:Lentera Hati,2007), hlm.356.
[16] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 77.
[17] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah 2, (Tangerang:Lentera Hati,2007), hlm.356.
[18] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 77.
[19] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 38.
[20] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah 7, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 594-595.
[21] Departemen Agama, Al-Qur-an dan Terjemahan, (Surakarta: PT. Indiva Media Kreasi, 2009), hlm. 314.
[22] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid VI, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 143.

02 February 2015

How to Become Rich, and 24 Other Insights from Warren Buffett


Warren Buffett is a true genius as he is able to simplify complex ideas into quotes that will stand the test of time. Warren Buffett spent his life dispensing advice to all who would listen, earning him the nickname of the Oracle of Omaha. In the 1960s, this advice came about twice a year in letters to investors in his investment partnerships. Starting a few years later, Warren Buffett’s wisdom was distilled through the Berkshire Hathaway annual meeting and the annual shareholder letter, and in the past 20 years, Warren Buffett has become a household name through appearances on TV and interviews in magazines.
Read on for Warren Buffett’s best quotes on life, investing, and his top five insights.

On life

1. “You only have to do a very few things right in your life so long as you don’t do too many things wrong.”
2. “Should you find yourself in a chronically leaking boat, energy devoted to changing vessels is likely to be a more productive than energy devoted to patching leaks.”
3. “It is not necessary to do extraordinary things to get extraordinary results.”
4. “What we learn from history is that people don’t learn from history.”
5. “Chains of habit are too light to be felt until they are too heavy to be broken.”
6. “There seems to be some perverse human characteristic that likes to make easy things difficult.”
7. “Nothing sedates rationality like large doses of effortless money.”
8. “It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it. If you think about that, you’ll do things differently.”
9. “It’s better to hang out with people better than you. Pick out associates whose behavior is better than yours and you’ll drift in that direction.”
10. “Long ago, Ben Graham taught me that ‘Price is what you pay; value is what you get.’ Whether we’re talking about socks or stocks, I like buying quality merchandise when it is marked down.”

On investing

1. “The most important quality for an investor is temperament, not intellect. You need a temperament that neither derives great pleasure from being with the crowd or against the crowd.”
2. “Successful Investing takes time, discipline and patience. No matter how great the talent or effort, some things just take time: You can’t produce a baby in one month by getting nine women pregnant.”
3. “I don’t look to jump over seven-foot bars; I look around for one-foot bars that I can step over.”
4. “In the short term, the market is a popularity contest. In the long term, the market is a weighing machine.”
5. “Opportunities come infrequently. When it rains gold, put out the bucket, not the thimble”
6. “Diversification is a protection against ignorance. It makes very little sense for those who know what they’re doing.”
7. “If you aren’t willing to own a stock for ten years, don’t even think about owning it for ten minutes. Put together a portfolio of companies whose aggregate earnings march upward over the years, and so also will the portfolio’s market value.”
8. “The key to investing is not assessing how much an industry is going to affect society, or how much it will grow, but rather determining the competitive advantage of any given company and, above all, the durability of that advantage.”
9. “I am a better investor because I am a businessman, and a better businessman because I am an investor.”
10. “It’s far better to buy a wonderful company at a fair price than a fair company at a wonderful price.”

Top five insights

Einstein said there are 5 ascending levels of intelligence: Smart, Intelligent, Brilliant, Genius, Simple. Warren Buffett’s top 5 insights each explain a truth about life or investing in the simplest way possible.
1. “I will tell you how to become rich. Close the doors. Be fearful when others are greedy. Be greedy when others are fearful.”
It is a gross oversimplification to say that the key to investing is to buy low and sell high. This quote from when Warren Buffett has been the basis of his most successful investments over time and the basis of how you could have avoided the last few bubbles.
2. “I tell college students, when you get to be my age you will be successful if the people who you hope to have love you, do love you.”
Warren Buffett has spent a lifetime studying conventionally successful people. It’s important to hear that at the end of the day, money is not the thing that matters most in life.
3. “The difference between successful people and really successful people is that really successful people say no to almost everything.”
Numerous greats including Steve Jobs, Bill Gates, and Warren Buffett have attributed their success to focus. Many people have long to-do lists and work on becoming more productive, when in fact, having a not-do list is more important if you want to do great things.
4. “I’ve seen more people fail because of liquor and leverage — leverage being borrowed money. You really don’t need leverage in this world much. If you’re smart, you’re going to make a lot of money without borrowing.”
People succeed in life countless different ways but failures group around a few key themes. As such, you learn more from people’s failures than people’s successes.
5. “What an investor needs is the ability to correctly evaluate selected businesses. Note that word ‘selected': You don’t have to be an expert on every company, or even many. You only have to be able to evaluate companies within your circle of competence. The size of that circle is not very important; knowing its boundaries, however, is vital.”
One of the quotes I hate the most in investing is Peter Lynch’s “Buy what you know” as it oversimplifies investing. The above quote is sort of the same idea but highlights that the important thing is being able to evaluate companies and also avoid companies you don’t understand. It’s that simple.
Warren Buffett is quoted so much because he has developed a great deal of wisdom over his lifetime. How did he do it?