25 November 2014

Telah Dekat Qiamat; Bulan Telah Terbelah…

Allah berfirman:

“Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)” 


Apakah kalian akan membenarkan kisah yang dari ayat Al-Qur’an ini menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris ?? Di bawah ini adalah kisahnya:


Dr. Zaghloul Ragheb El Naggar
Dr. Zaghloul Ragheb El Naggar
Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ?
Maka  menjawabnya sebagai berikut: Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim.
Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an. Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, “Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi [Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah] mengandung mukjizat secara ilmiah ? Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjagkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya.
Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu.
Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?”
Rasulullah bertanya, “Apa yang kalian inginkan ?
Mereka menjawab: Coba belah bulan, ..”
bulan_terbelah1lMaka Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Maka Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulat itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, “Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!” Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja “menyihir” orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Maka mereka pun pada menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Maka orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?”Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali…!!!”  Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya:  Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap….sampai akhir surat Al-Qamar.
Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan??”  Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati.” Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur’an yang mulia.
crack1Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah… Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasam hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi diantara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besardalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, ” Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna”. Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, “Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.
Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, “Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?” Mereka pun menjawab, “Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya. Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!!
bulan-terbelah-1Presenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?” Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali”.
Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!! Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah … Maka aku pun berguman, “Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.
Diterjemahkan oleh: Abu Muhammad ibn Shadiq

11 November 2014

Mengantuk Sebab Kurang Vitamin D ?


Vitamin D telah menerima banyak perhatian baru-baru ini. Vitamin D telah lama dikenal sebagai terutamanya pengatur kalsium dan fosforus, membantu melindungi kepadatan tulang. Dalam tahun-tahun kebelakangan ini, bagaimanapun, pemahaman kita tentang fungsi vitamin D dalam badan semakin bertambah. Vitamin D sekarang dipahami memainkan metabolik rolein penting dan fungsi sistem imun. Kekurangan vitamin D telah dikaitkan dengan beberapa jenis penyakit kronik, termasuk tekanan darah tinggi, kencing manis, sindrom metabolik, penyakit paru-paru, dan sakit kronik.

Kami telah melihat bukti bahawa kekurangan vitamin D adalah berkaitan dengan masalah tidur, terutama dengan rasa mengantuk siang hari. Satu kajian baru meneliti hubungan antara mengantuk di siang hari dan vitamin D, dan juga dianggap salah satu faktor risiko utama kekurangan vitamin D: pigmentasi kulit.

Para penyelidik di Universiti Louisiana meneliti hubungan antara vitamin D dan mengantuk di siang hari dengan dua gol yang mereka inginkan. Pertama, mereka mahu menentukan sama ada korelasi antara tahap vitamin D dalam badan dan mengantuk yang berlebihan siang hari. Kedua, mereka berusaha untuk menilai peranan ras yang mungkin bermain dalam hubungan antara mengantuk di siang hari dan vitamin D.

Dalam karya sebelumnya, penyelidik di LSU telah melihat bahawa lebih separuh daripada pesakit yang datang ke klinik tidur mereka dengan masalah tidur dan sakit kronik juga kekurangan vitamin D. Mereka melihat kelompok ini gejala muncul untuk berlaku lebih kerap pada pesakit yang Afrika-Amerika.

Vitamin D sebenarnya adalah hormon yang larut dalam lemak yang badan boleh terima dalam makanan dan juga melalui makanan tambahan. Tetapi utama - dan paling berkesan - cara tubuh terkumpul vitamin D apabila terdedah kepada cahaya matahari. Pendedahan kepada cahaya matahari meminta kulit kita untuk diri pembuatan vitamin D. pigmentasi kulit Peningkatan menurunkan pembuatan rateof vitamin D. Oleh itu, tahap yang lebih pigmentasi kulit dianggap sebagai faktor risiko kekurangan vitamin D.

Pusat Kawalan Penyakit menganggarkan bahawa hampir satu pertiga daripada Afrika-Amerika kekurangan vitamin D. Lain-lain kumpulan berisiko untuk mengalami kekurangan vitamin D termasuk orang tua, orang gemuk, hamil dan menyusui perempuan, dan orang-orang yang menerima pendedahan yang terhad kepada matahari .

Kajian LSU melibatkan 81 pesakit, yang semuanya memiliki sama ada masalah tidur atau sakit otot baik di siang atau malam hari, atau kedua-duanya. Enam puluh lima peratus daripada pesakit dalam kajian itu ialah wanita kulit putih, dan 35 peratus adalah orang Afrika-Amerika. Semua pesakit dalam kumpulan kajian telah didiagnosis dengan gangguan tidur. Hampir tiga suku mempunyai apnea tidur obstruktif, sementara yang lain tidak dapat tidur atau sindrom kaki resah. Semua pesakit telah dinilai bagi rasa mengantuk waktu siang yang berlebihan menggunakan Epworth Tidur skala, ukuran standar. Paras vitamin D diukur dengan menggunakan ujian darah.


Hasil kajian ini menyokong korelasi yang kuat antara rasa mengantuk waktu siang yang berlebihan dan vitamin D. Mereka juga menunjukkan bangsa yang merupakan faktor dalam hubungan antara vitamin D dan mengantuk di siang hari. Tetapi hasilnya dalam beberapa hal yang mengejutkan dan menunjukkan hubungan yang rumit, terutamanya di mana bangsa yang bersangkutan.

Berikut adalah gambaran keseluruhan penemuan yang paling penting:

Enam puluh lima peratus daripada populasi kajian ini didapati mempunyai kekurangan vitamin D.

Pesakit-pesakit dengan pigmentasi kulit yang lebih besar mempunyai tahap purata yang lebih tinggi dari rasa mengantuk waktu siang dan tahap purata yang lebih rendah vitamin D, berbanding dengan mereka yang kurang pigmentasi kulit

Pesakit Afrika-Amerika terdiri 35 peratus daripada kajian itu, tetapi 55 peratus daripada kumpulan yang kekurangan vitamin D

Hanya 6 peratus daripada kumpulan tanpa kekurangan vitamin D adalah Afrika-Amerika

Di antara mereka yang kekurangan vitamin D - di bawah 20 mg / mL yang diukur dengan ujian darah - tidak ada hubungan antara tahap vitamin D dan mengantuk di siang hari. Ini adalah bertentangan dengan apa yang dijangka, berdasarkan penelitian sebelumnya.

Pengecualian untuk ini telah ditemui di kalangan pesakit Afrika-Amerika dalam kumpulan kajian. Di antara mereka yang pesakit Afrika-Amerika dengan kekurangan vitamin D, ada hubungan langsung antara tahap vitamin D dan mengantuk di siang hari. Di antara pesakit-pesakit ini, lebih tinggi kadar vitamin D dikaitkan dengan tahap yang lebih tinggi dari rasa mengantuk siang hari - yang bertentangan dengan tepat dari apa yang diharapkan.

Ia adalah penemuan ini terakhir yang tidak dijangka, dan penyelidik terkejut sendiri, yang dijangka menyaksikan tahap yang lebih rendah vitamin D yang berkaitan dengan tahap yang lebih tinggi dari rasa mengantuk siang hari.

Mengapa hal ini telah terjadi? Penyelidikan tambahan jelas diperlukan untuk menerokai peranan yang pigmentasi kulit boleh bermain dalam kekurangan vitamin D dan kesannya ke atas tidur, dan rasa mengantuk siang hari pada khususnya. Ini adalah satu kajian kecil dan penyelidikan berskala besar dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang hubungan ini rumit.

Ada soalan penting lain yang muncul. Kita dapat melihat kaitan antara kekurangan vitamin D dan mengantuk di siang hari, tetapi kita tidak memiliki pemahaman tentang sebab dan akibat. Apakah kekurangan vitamin D yang bertanggungjawab secara langsung untuk rasa mengantuk waktu siang yang berlebihan dan masalah tidur yang lain? Atau kurang tidur akibat keadaan perubatan lain yang berkaitan dengan kekurangan vitamin D, seperti sakit kronik? Apa mekanisme biologi yang mana vitamin D - dan kekurangan itu - akan mempengaruhi fungsi tidur dalam tubuh? Ada banyak kita belum tahu tentang hubungan antara vitamin D dan tidur.

Jika anda berisiko untuk kekurangan vitamin D, berbincang dengan doktor anda. Makanan tambahan, perubahan pola makan, dan pendedahan yang selamat dan dikawal kepada matahari semua dapat membantu meningkatkan tahap dalam badan. Memastikan badan anda mempunyai tahap yang mencukupi vitamin D menawarkan perlindungan kesihatan yang penting dan, mungkin, dorongan menyambut tenaga di tempat mengantuk di siang hari.


diambil dari blog : http://infokesihatanterbaik.blogspot.com/2014/11/mengantuk-sebab-kurang-vitamin-d-baca.html

Supplement Lengkap dengan Calcium dan Vitamin 

Salah satu cara kita ingin mencegah diri daripada menghidap OSTEOPOROSIS adalah dengan mengambil pemakanan yang tinggi kandungan calcium serta lengkap dengan vitamin D.

Mengapa? Ini kerana semakin usia kita meningkat, kebarangkalian untuk kita menghidap osteoporosis akan menjadi lebih tinggi sekiranya tidak dicegah dari awal. Pengambilan supplement yang mempunyai kandungan calcium yang mencukupi serta lengkap dengan vitamin D adalah salah satu cara yang boleh kita amalkan bagi membantu tulang kita mendapat nutrisi calcium yang mencukupi. 



Mengikut kajian, 61% daripada penyakit yang sering dialami kebanyakan individu ialah Osteoporotic fractures. - Sumber -

Shaklee mempunyai OsteMatrix yang kaya dengan khasiat calcium nya serta dilengkapi dengan vitamin D dan magnesium yang membantu calcium untuk menyerap ke dalam tulang kita.

Antara manfaat OsteMatrix adalah:

❁ Menguatkan tulang
❁ Menguatkan kuku, kerangka, gigi, dan sistem saraf
❁ Merawat tulang retak
❁ Merawat osteomalacia
❁ Pengambilan 600 mg calcium sebelum tidur dapat mengurangkan kekejangan, sakit sendi dan artritis
❁ Merangsang darah untuk memekat
❁ Mengimbangi tekanan darah
❁ Memelihara denyutan jantung, impuls, sistem saraf
❁ Menggalakkan tidur yang lebih lena dan selesa
❁ Membantu mengurangkan depresi, mood swing, sakit kepala, pitam
❁ Pengambilan 1000 mg calcium dan magnesium serentak dapat meringankan sakit sewaktu haid
❁ Memastikan imbangan pH tubuh
❁ Calcium membantu sel menyerap nutrient dan merangsang detoksifikasi
❁ Memperbaiki hiperaktiviti perut dan sakit gastrik
❁ Vitamin D meningkatkan penyerapan calcium dan fosforus untuk meninggikan ketumpatan tulang
❁ Magnesium membantu menggalakkan komposisi tulang dan rawan
❁ Mengaktifkan enzim tubuh untuk menghasilkan tenaga


lanjut : http://shakleego.blogspot.com/2013/03/ostematrix.html

09 November 2014

SEBELUM TAHU HADITS INI, IBNU ABBAS TIDAK PERNAH SHALAT DHUHA

Para sahabat Rasulullah Saw adalah sosok yang beramal dengan dalil. Mereka tidak seperti kita yang asal mengikuti tanpa mengetahui dasarnya. Mereka hanya mau melakukan sebuah amalan yang jelas contohnya dari Rasulullah Saw. Maka, tatkala mendengar atau melihat sebuah amalan, mereka tidak akan mengerjakannya sebelum memastikan keshahihan dalilnya.

Disebutkan oleh Abdullah bin al-Harits bin Naufal. Sebagaimana dituturkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, ia berkata, “Pada mulanya Ibnu Abbas tidak pernah melaksanakan shalat Dhuha.” Agak mengherankan. Bahkan, sahabat mulia sekelas Ibnu Abbas disebutkan tidak pernah melakukan sunnah Dhuha yang mulia ini.

Karenanya, Abdullah mengajak salah satu sahabat terbaik Rasulullah Saw itu menemui Ummu Hani. Katanya melanjutkan, “Kemudian aku membawanya masuk menemui Ummu Hani Ra.”

Setelah bertemu, Ummu Hani menyampaikan sebuah hadits nan mulia ini, “Pada hari jatuhnya kota Makkah, Rasulullah Saw masuk ke dalam rumahku.” Kemudian, “Beliau meminta air sebanyak satu mangkuk besar.” Setelah diberikan apa yang diminta, beliau memerintahkan agar dibuat penghalang dari kain antara Rasulullah Saw dan dirinya.

Ternyata, “Beliau mandi,” kisah Ummu Hani selanjutnya. Setelah usai, Rasulullah Saw pun mengeringkan tubuhnya di salah satu sudut rumah Ummu Hani. “Sesudah itu,” tuturnya menerangkan, “beliau shalat delapan rakaat.” Itulah yang menjadi dalil dilaksanakannya shalat Dhuha. Katanya menjelaskan, “Shalat itu adalah shalat Dhuha.” Dalam shalat itu Rasululah Saw mendirikannya dengan kualitas berdiri, rukuk, sujud dan duduknya hampir sama lamanya yang satu dengan yang lainnya.

Kemudian, Ibnu Abbas Ra keluar dari rumah Ummu Hani. Ia berkata, “Sesungguhnya aku telah membaca semua yang terkandung di dalam mushaf,” tutur beliau, “Aku belum menemukan dalil shalat Dhuha selain firman Allah, ‘Bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi.’ (Shâd [38]: 18).” Ungkap beliau mengakhiri, “Sebelum itu aku selalu bertanya-tanya, ‘Dimanakah dalil shalat sunah pagi hari (Dhuha) ini?’”

Hadits yang mulia ini diriwayakan oleh Imam Bukhari (6158), Imam Muslim (336), Imam Tirmizi (2734), Imam Nasa’i (415), Imam Abu Daud (2763) dan Imam Ibnu Majah (1379).
Semoga setelah membaca riwayat ini, kita teraliri semangat Ibnu Abbas yang mulia untuk seantiasa mendirikan shalat Dhuha sebagai ibadah sunnah unggulan dan wujud syukur kepada Allah Swt atas limpahan nikmat yang diberikan-Nya.

copy dari blog http://kisahikmah.com/sebelum-mengetahui-hadits-ini-ibnu-abbas-tidak-pernah-melaksanakan-shalat-dhuha/

06 November 2014

Melewati Batas !

Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Waspadailah oleh kalian tindakan melewati batas dalam agama karena sesungguhnya hal yang merusak orang sebelum kalian adalah tindakan melewati batas dalam agama”[6] 

Sesungguhnya tindakan ekstrem merupakan penyakit yang memiliki sekian banyak perkara dan implikasi yang boleh kita kategorikan, di antaranya:

1-      Fanatik kepada pendapat dan diri sendiri sehingga tidak mengakui pandangan orang lain serta menolak dan mengacuhkan pendapat orang-orang yang berseberangan. Ia hanya menetapi pendapatnya dan fanatik kepada diri sendiri serta menafikan segala hal selain dirinya padahal Allah tidak pernah menjadikan kebenaran seluruhnya hanya bersama satu orang sedang kesalahan semuanya bersama satu orang yang lain. Mereka semua adalah manusia yang juga berbuat salah dan bertindak benar.

2-      Berlegar hanya kepada perkara-perkara tertentu, kelompok-kelompok dan jamaah-jamaah sehingga kita mendapatkan banyak dari mereka tidak mau menerima kritikan walaupun (berlandaskan) ilmu yang jernih serta fakta yang boleh diterima pakai. Bahkan sebaliknya mereka menyerang balik lawan-lawan mereka dengan kasar di bawah tirai membela madzhab yang mereka ikuti sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala: “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah…”[7]

3-      Taklid buta kepada orang yang dianggap lebih berilmu dan akalnya tidak boleh dipercayai (tetapi) kemudian oleh para pengikut dicop bahawa pemimpin mereka benar dalam segala masalah yang diijtihadinya padahal sungguh hal-hal yang masuk dalam lingkup ijtihad dan masih boleh diperdebatkan, hanyalah bersifat syak wasangka dan bukan sebuah kepastian. Meski begitu mereka (tetap saja) melihat kebenaran seluruhnya berada pada pendapat pemimpin mereka dan menilai selainnya sebagai sebuah kesalahan.

4-      Pemikiran-pemikiran lama yang telah mengakar yang memberikan pengaruh kepada akal dan jiwa mereka sebagai penyebab kesombongan, ghurur, menetapi kesalahan, dan karena ikatan kemaslahatan dan kemanfaatan (duniawi) sebagai kompensasi mengikuti dan menetapi pemikiran-pemikiran ini sehingga sulit bagi mereka melepaskan diri dari pemikiran dan pemahaman lama mereka yang dari sebab-sebab itu muncul sikap masa bodoh, membatasi atau menutup diri di bawah slogan-slogan bermacam-macam seperti At Tha’ifah al Manshurah (kelompok yang ditolong Allah), al Firqah an Najiyah (kelompok yang selamat) dan Jamaatul muslimin dan sebagainya.

5-       Terkungkung, sehingga masing-masing individu mereka melihat bahwa pendapat dan cara pandangnya itulah agama. Dan adapun selainnya, maka diklaim sebuah kesesatan yang nyata. Seiring berlalunya waktu, masing-masing dari mereka menjadikan dirinya terkungkung karena menutup pintu dialog dan usaha saling memahami dikarenakan ia tidak pernah mengetahui kecuali satu pendapat dan tidak pula pernah membaca selain dari diktat-diktat yang ditentukan yang bersumber dari buku-buku yang ditentukan pula serta selanjutnya ia menganggap bahwa selain buku tersebut bukanlah apa-apa (semua salah).

6-      Kurangnya ilmu dan pemikiran yang tidak seimbang (tidak balance) karena mereka jauh dari menerima pelajaran dari orang-orang yang ahli dalam ilmu-ilmu syariat sebagaimana terjadi pada sebagian anak-anak muda kampus yang menyempatkan diri (sejenak) meninggalkan disiplin ilmunya agar bisa belajar beberapa sisi dari ilmu-ilmu syariat. Padahal seorang doktor tidak akan menjadi seorang ahli fiqih (faqih), seorang arkitek tidak akan pernah menjadi seorang ahli hadits (Muhaddits), seorang jurutera tidak akan penah bisa menjadi seorang ahli tafsir (Mufassir), dan seorang tukang kayu, tukan roti, pandai besi dan tukang las, mereka semua tidak akan bisa menjadi seorang ulama atau mujtahid. Hanya sebuah Ijazah yang berusaha mereka dapatkan, tidak akan bisa mempersembahkan (memunculkan) kepada umat, ulama-ulama yang memiliki keupayaan. Memang mereka akan menjadi para ahli pemberi nasehat (penceramah), tetapi bukan ulama.
Dan kiranya cukup bagi masing-masing dari kita, ilmu-ilmu yang bisa menyelamatkan aqidah dan menjadikan ibadah serta perjalanan menuju Allah menjadi sah. (Selanjutnya kita perlu) senantiasa memuliakan para ahli ilmu dan menjadikan mereka sebagai rujukan.

7-      Lancang berfatwa dengan mengeluarkan fatwa-fatwa takfir, tadhlil, tabdi’, menghalalkan dan mengharamkan berdasarkan hawa nafsu karena memang mereka bukanlah para ahli dalam masalah ini sebagai akibat kurangnya ilmu dan pemikiran sempit. Allah berfirman: “Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebutkan oleh lidah-lidah kalian secara dusta: “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (itu adalah) kesenangan yang sedikit dan bagi mereka siksa yang pedih”[8]

8-      Mencela Ulama dan memaki orang yang tidak sependapat. Perkara ini termasuk hal yang pernah diisyaratkan oleh Rasulullah Saw akan terjadi pada akhir zaman, sesuatu yang disebut dengan kelancangan anak-anak muda terhadap para orang tua dan generasi akhir umat ini yang melaknat para pendahulu mereka. Di bawah slogan bahwa (Memberikan bantahan kepada pihak yang berselisih adalah termasuk dasar-dasar islam), cara ini terus berkembang sampai beralih kepada terjadinya saling membantah di antara kelompok pelampau mereka sendiri sehingga kelompok-kelompok yang menisbatkan diri kepada salafiyyah tersebut mencapai angka lebih dari empat puluh di mana setiap kelompok mengaku dirinya benar dan sebagai kelompok yang selamat dan kelompok yang diberikan pertolongan. Dan adapun selain mereka maka semua adalah ahli bid’ah dan kesesatan. Lalu menganggap diri mereka memiliki kedekatan dengan Allah azza wajalla dan akan sampai kepadaNya sementara mereka sibuk memakan daging ulama. Sangatlah beruntung, bagi orang yang sibuk dengan aibnya sendiri dan melupakan aib orang lain.

9-      Keras, kasar dan menjana permusuhan di antara kaum muslimin. Betapa banyak permusuhan-permusuhan yang menimbulkan perpecahan dan perselisihan oleh sebab fenomena-fenomena ini. Patutkah kedudukan kaum muslimin yang (sekarang ini) berubah menjadi saling membenci dan memusuhi yang muncul akibat hati yang keras, ucapan yang kasar dan watak yang kaku, lalu berubahlah sifat kita (yang semestinya) seperti firman Allah: “tegas kepada orang-orang kafir dan saling menyayangi di antara mereka”[9], sehingga kita kini menjadi lebih tegas kepada sesama saudara seiman tetapi kepada orang kafir menjadi orang-orang yang menyayangi. Ini adalah sifat kaum Khawarij dan orang yang meniti jalan mereka.

10-  Pemahaman yang salah tentang salafiyyah. Salafiyyah adalah periode masa yang diberkahi, bukan sebuah madzhab dalam islam. Ia adalah tiga abad pertama dalam usia umat islam berdasarkan sabda Rasulullah Saw: “Sebaik-baik abad adalah abadku, kemudian orang setelah mereka dan kemudian orang setelah mereka”[10]
Tiga abad pertama adalah para sahabat, tabiin dan tabiit tabiin. Menetapi manhaj dan berpegangan dengan kaidah-kaidah mereka dalam memahami nash-nash serta berpedoman dengan hal-hal yang mereka sepakati adalah bagian dari esensi keyakinan dan aturan-aturan berakhlaq.
Adapun jika salafiyyah berubah menjadi sebuah istilah baru di mana sebuah kelompok tertentu dari kaum muslimin mempunyai pengikut di belakangnya untuk kemudian berbeza dengan kaum muslimin lain dengan memiliki pemahaman tertentu, pemakaian fesyen yang tersendiri dan segala hal yang terkait tampilan zhahir seperti secara serius memperhatikan pakaian-pakaian pendek (cingkrang:jawa), jenggot panjang dan rambut yang disisir belah dua (piyak tengah:jawa), maka ini semua adalah bid’ah yang muncul dan sesuatu yang baru dalam agama.

Orang-orang yang mengaku sebagai pengikut salaf pada hari ini perlu membaca dengan seksama tentang kehidupan generasi salaf; baik tentang kezuhudan, ibadah, ilmu, kebaikan akhlak dan sifat-sifat mereka. Ini karena mereka memiliki pemahaman yang salah dan pemikiran yang menyimpang serta moral yang buruk yang semuanya perlu diluruskan.

11-  Senantiasa menetapi kebiasaan memberatkan diri meski faktor-faktor kemudahan begitu nyata. Tidak disuruh memilih di antara dua perkara kecuali mereka memilih yang terberat untuk menunjukkan keteguhan agama dan menganggap orang lain kurang (dalam beragama). Sementara ikhlas, kebaikan niat, keseriusan mengikuti sunnah, dan keselarasan dengan syara’ merupakan standar penerimaan amal. Dan termasuk memperberat orang lain adalah mengawasi mereka terkait hal-hal yang bersifat sunnah seakan itu adalah wajib, terkait hal-hal yang makruh seakan itu adalah hal yang diharamkan, dan terkait masalah-masalah yang fiqih yang masih terjadi khilaf di dalamnya seakan-akan itu adalah masalah aqidah, padahal seorang muslim berada di antara hal dan maqamnya.

Demikianlah kedudukan orang yang melampau batas yang lebih dikenali sebagai ekstrim yang selamanya tidak pernah ada bertemu dengan orang lain. Dia dengan orang lain seperti timur dan barat “Begitu jauh antara orang yang berada di timur dan orang yang berada di barat” karena ia tidak mengerti akan sikap moderat  (al wasath) dan juga tidak mengakuinya.

=والله يتولي الجميع برعايته=

Disarikan dari buku :

Al Mutatharrifun Khawarijul Ashri
Karya:DR Umar Abdullah al Kamil

[1] رواه النسائي رقم 3057
[2] التوبة:31
[3] النحل: 116-117
[4] الفتح:39
[5][5] رواه البخاري رقم 2652 ومسلم رقم 2533
[6]HR Nasai no:3057
[7]QS at Taubah:31
[8]QS An Nahl:116-117
[9]QS al Fath:39
[10]HR Bukhari no:2652. HR Muslim no:2533 

05 November 2014

Saat-saat Kematian Nabi Muhammad yang Sahih

Rasulullah s.a.w kekasih Allah wafat ditangisi oleh makhluk seluruh alam. Namun apa yang selama ini telah dikisahkan kepada kita yakni kisah wafatnya Nabi dengan menyebut kalimah “Ummati, ummati, ummati” yang membawa maksud “Umatku, umatku, umatku” adalah jelas suatu pembohongan dan rekaan cerita dari mereka yang tidak bertanggungjawab dan sekaligus menyebarkan ia menjadikan kita semua menjadikan ia suatu kata-kata yang sahih. Mari baca kisah sebenar kewafatan baginda Rasulullah s.a.w..

Kisahnya bermula…

“Kepalaku!” kata Aisyah.

Baginda Rasulullah s.a.w dan Aisyah r.a baru sahaja pulang daripada menziarahi perkuburan al-Baqi’ lewat malam tadi. Kepala Aisyah sakit berdenyut-denyut. Baginda menyedarinya.

“Bahkan kepalaku juga wahai Aisyah. Oh kepalaku!” kata Baginda s.a.w.

Jika suami pening, tangan isteri yang memicit banyak mendatangkan rasa lega. Jika isteri yang sakit, belaian seorang suami adalah penyembuh paling berharga. Tetapi di malam itu kedua-duanya sakit. Kepala mereka berat.

“Janganlah engkau bersusah hati wahai Aisyah. Seandainya engkau mati sebelumku, nescaya aku akan menyempurnakan urusanmu. Aku akan mandikan dikau, kukafankan dirimu dan akan kudirikan solat buatmu serta engkau akan kukebumikan!!”, usik sang suami.

“Demi Allah, aku rasa kalau begitulah kisahnya pasti selepas itu engkau akan pulang ke rumahku dan berpesta gembira dengan isteri-isterimu yang masih hidup!” si isteri tersentak dengan gurauan sang suami.

Merajuk. Nabi s.a.w ketawa. Dalam sakit yang luar biasa itu, baginda masih suami yang hangat dengan mawaddah. Sakitnya tidak menjadikan beliau keluh kesah. Sempat pula mengusik isteri yang tidak tentu rasa.

SAKIT YANG BERTAMBAH

Malam itu berlalu dengan sakit yang tidak beransur kurang. Kesakitan itu memuncak semasa Nabi s.a.w memenuhi giliran Baginda di rumah isterinya, Maimunah r.a. Bukan sakit yang sembarangan. Ia sakit yang menjadi kemabukan sebuah kematian. Sakaraat al-Maut!

“Esok aku di mana? Esok aku di mana?” Baginda s.a.w bertanya.

Dalam sakit yang bersangatan, Baginda masih ‘sedar’ akan tanggungjawab dirinya berlaku adil kepada para isteri. Itulah ukuran adil seorang mukmin terhadap isteri-isterinya. Mengusahakan segala tenaga yang berbaki untuk tidak memalit zalim dalam melunaskan amanah sebagai seorang suami. Tidak mengambil mudah hanya dengan alasan yang remeh temeh untuk melebihkan seorang isteri berbanding yang lain.

Itulah juga ukiran makna bagi sebuah Mawaddah. Cinta yang bertambah hasil kesungguhan mengatasi ujian dan musibah. Namun di situlah terselitnya Rahmah. Sifat belas ihsan yang terbit daripada hati yang mengasihi.

“Izinkan aku berhenti bergilir dengan menetap di rumah Aisyah” Rasulullah s.a.w meminta izin daripada para isterinya.

Siapakah yang pernah membantah permintaan seorang Rasul. Namun Baginda tetap meminta izin kerana keizinan itu hakikatnya kekal bagian seorang isteri. Tiada isteri yang dipinggirkan. Hak masing-masing dihormati. Andaikata seorang Rasul boleh meminta izin menahan giliran daripada isteri Baginda, bagaimana mungkin seorang suami menjadi angkuh mempertahankan haknya di hadapan isteri atau isteri-isterinya?

HARI-HARI TERAKHIR

Masruq meriwayatkan daripada Aisyah r.a: Tatkala Baginda s.a.w gering, kesemua isteri Baginda berada di sisi. Tiada seorang pun yang tercicir antara mereka. Ketika mereka berhimpun, anakanda kesayangan Baginda s.a.w, Fatimah r.a datang berjalan. Demi sesungguhnya cara berjalan Fatimah tidak ubah seperti ayahandanya, Rasulullah s.a.w.

“Selamat datang wahai anakandaku,” Baginda s.a.w dengan suara yang lemah menjemput Fatimah duduk di sisinya.

Baginda membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah. Anakanda itu menangis. Kemudian Baginda s.a.w membisikkan sesuatu lagi ke telinga anak kesayangannya. Fatimah ketawa.

Apabila Fatimah bangun dari sisi ayahandanya, Aisyah r.a bertanya, “Apakah yang diperkatakan oleh Rasulullah s.a.w hingga menyebabkan engkau menangis dan engkau ketawa?”

Fatimah menjawab, “Aku tidak akan mendedahkan rahsia Rasulullah s.a.w!”

Demi sesungguhnya, selepas wafatnya Baginda s.a.w, Aisyah r.a mengulang kembali soalan yang sama kepada Fatimah, “Aku bertanyakan engkau soalan yang engkau berhak untuk menjawab atau tidak menjawabnya. Aku ingin sekali engkau memberitahuku, apakah rahsia yang dikhabarkan oleh Rasulullah s.a.w dahulu?”

Kata Fatimah, “Ada pun sekarang, maka ya, aku bisa memberitahunya! Baginda s.a.w berbisik kepadaku dengan berkata: Sesungguhnya Jibril selalunya mendatangiku untuk mengulang semakan Al-Quran sekali dalam setahun. Namun di tahun ini beliau mendatangiku dua kali. Tidaklah aku melihat kelainan itu melainkan ia adalah petanda ketibaan ajalku. Justeru, bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah kamu dengan ketentuan ini. Atas segala yang telah ditempuh dalam kehidupan ini, sesungguhnya aku adalah untukmu wahai Fatimah!”

Aku menangis…

“Kemudian Baginda s.a.w berbisik lagi kepadaku dengan berkata: Apakah engkau gembira kalau aku khabarkan kepadamu bahawa engkau adalah penghulu sekalian wanita di Syurga? Dan sesungguhnya engkau adalah insan pertama yang akan menurutiku daripada kalangan ahli keluargaku!, aku ketawa”, sambung Fatimah.

Sesungguhnya Fatimah r.a benar-benar kembali kepada Allah, menuruti pemergian ayahandanya enam bulan selepas kewafatan Baginda s.a.w. Benarlah beliau ahli keluarga pertama Baginda yang pergi. Dan benarlah kalam utusan Allah, Rasulullah s.a.w!

DETIK SEMAKIN HAMPIR

Dhuha itu tepu dengan kegelisahan. Senyuman yang dilemparkan Baginda s.a.w kepada Abu Bakar dan sahabat semasa mereka mengerjakan solat Subuh tadi, benar-benar mengubat rindu mereka. Namun para sahabat tidak tahu bahawa kerinduan mereka hanya terubat seketika, dan mereka akan kembali merindui wajah itu, buat selamanya. Senyuman itu bukan senyuman kesembuhan. Ia adalah senyuman perpisahan.

Badan Baginda s.a.w semakin panas. Sesekali ada dengusan yang keras dari nafas kekasih Allah itu mendepani mabuknya kesakitan sebuah kematian.

“Laknat Allah ke atas Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai masjid!” bibir Baginda s.a.w masih tidak berhenti menuturkan pesan-pesan yang penting buat umat yang bakal dilambai perpisahan.

Aisyah r.a meneruskan catatannya: Aku melihat sendiri Rasulullah s.a.w mendepani kematian Baginda. Kami ketika itu berbicara sesama kami bahawa sesungguhnya Nabi s.a.w tidak akan meninggal dunia sehinggalah Baginda membuat pilihan antara Dunia dan Akhirat. Tatkala Baginda s.a.w semakin gering mendepani kematian, dalam suara yang serak aku mendengar Rasulullah s.a.w berkata: Aku bersama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah ke atas mereka daripada kalangan para Nabi, Siddiqin, Syuhada’ dan Solihin, dan itulah sebaik-baik peneman yang menemankan aku!

Dan tahulah kami, Baginda s.a.w telah menyempurnakan pilihannya itu. Dalam kegeringan itu, aku sandarkan tubuh Rasulullah s.a.w rapat ke dadaku. Telingaku menangkap bicara lemah di ambang kematian, Baginda s.a.w berbicara: Allahumma, ampunkanlah diriku, rahmatilah aku, dan temukanlah aku dengan-Mu, Temanku yang Maha Tinggi.

Ketika Baginda s.a.w bersandar di dadaku, datang adikku, Abdul Rahman bin Abi Bakar dengan siwak yang basah di tangannya. Aku menyedari yang Baginda s.a.w merenung siwak itu, sebagai isyarat yang Baginda menggemarinya. Apabila ditanya, Baginda s.a.w mengangguk tanda mahukan siwak itu. Lalu kulembutkan siwak itu untuk Baginda dan kuberikan kepadanya. Baginda cuba untuk melakukannya sendiri tetapi ketika siwak yang telah kulembutkan itu kena ke mulut Baginda, ia terlepas daripada tangan dan terjatuh. Air liurku bersatu dengan air liur Rasulullah s.a.w di detik akhirnya di Dunia ini, dan detik pertamanya di Akhirat nanti.

Di sisinya ada sebekas air. Baginda s.a.w mencelupkan tangannya dan kemudian menyapu wajahnya dengan air itu lalu berkata: Laa Ilaaha Illallaah! Sesungguhnya kematian ini kesakitannya amat sakit hingga memabukkan! Allahumma, bantulah aku mendepani Sakaraat al-Maut ini!

Baginda s.a.w mengangkat jari kirinya ke langit lalu berkata: Kembalilah aku kepada Teman yang Maha Tinggi! Kembalilah aku kepada Teman yang Maha Tinggi! (Allahumma Rafiqul A’laa)”

Tangan itu layu. Jatuh ke dalam bejana. Leher Baginda s.a.w terkulai di dada Aisyah. Pencinta Ilahi yang rebah di pelukan isteri tercinta. Melambai pergi ummah yang dirindui. Pencinta yang agung itu telah mati. Tetapi cintanya harum hingga ke detik ini.

Innaa Lillaah wa Innaa Ilayhi Raaji’un.

Sesungguhnya Allah dan malaikatNya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya. [Al-Ahzaab 33: 56]

Kita pernah dengar kan ayat terakhir nabi sebelum meninggal nabi menyebut Ummati, Ummati, Ummati kan?? sebenarnya itu hadis yang lemah,,Hadis yang sahih seperti riwayat Aisyah, isteri nabi, sebab nabi meninggal di pangkuan Aisyah, bermaksud Aisyah yang paling dekat dengan nabi..hadis yang sahih adalah spt di bawah


Berkata Aisyah r.a: Adalah akhir kalimah yang diucapkan oleh Nabi s.a.w ialah “Allahumma Rafiqul A’laa” (Hadith Riwayat Bukhari & Muslim)Hadith2 Tentang Kewafatan Rasulullah SAW

Hadis-Hadis berkaitan saat kewafatan Nabi

Hadis Sahih Bukhari Jilid 3. Hadis Nombor 1574.
Dari Aisyah r.a., katanya: Di antara nikmat Allah kepada saya, Rasulullah s.a:w. wafat di rumah saya, di hari giliran saya, antara dada dan leher saya (bersandar kepadanya). Dan Tuhan mempercampurkan air liur saya dengan air liur beliau kerana sugi waktu beliau akan wafat. Abdur Rahman datang ke rumah saya, di tangannya ada sugi (pembersih gigi) sedang Rasulullah s.a.w. bersandar kepada saya. Saya lihat beliau memandang kepadanya. Saya ketahui bahawa beliau ingin bersugi. Saya tanyakan: "Akan saya pakaikan sugi itu untuk tuan?" Lalu beliau isyaratkan dengan kepala beliau (mengatakan setuju). Lalu saya berikan kepada beliau dan terasa keras oleh beliau. Lalu saya berkata: "Akan saya lunakkankah untuk tuan?" Beliau isyaratkan dengan kepala (tanda setuju). Lalu saya lunakkan dengan gigi. Dan di hadapan beliau ada bejana kecil atau bejana besar yang berisi air. Lalu beliau masukkan kedua tangan beliau ke dalam air itu dan beliau sapukan ke muka beliau sambil bersabda: "Tiada Tuhan selain Allah! Sesungguhnya bagi kematian itu ada sakaratul maut". Lalu beliau mengangkat tangannya sambil mengucapkan: "Teman Yang Maha Tinggi". Lalu beliau wafat dan rebahlah tangan beliau.

Hadis Sunan Ibnu Majjah Jilid 2. Hadis Nombor 1232.
Mewartakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah, mewartakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki', dari Al-A'masy. Mewartakan kepada kami 'Ali bin Muhammad, mewartakan kepada kami Waki', dari Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari 'Aisyah, dia berkata: Ketika Rasulullah SAW. sakit, dengan sakitnya itu, beliau wafat. (Abu Mu'awiyah berkata: Ketika Nabi SAW. berat sakitnya). Bilal datang memberi khabar solat kepadanya. Nabi berkata: "Perintahkan olehmu sekalian kepada Abu Bakar, maka hendakah dia mengimami solat bersama orang-orang (para sahabat). Kami berkata: "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Abu Bakar itu orangnya cepat menangis -sentimental--." 'Aisyah bermaksud: Abu Bakar itu halus hatinya. Ketika dia menempati berdiri di tempatmu, dia menangis, tidak mampu -menjadi imam-. Kalau engkau memerintahkan 'Umar, maka dia akan mengimami solat bersama orang-orang. Nabi berkata: "Perintahkan olehmu sekalian kepada Abu Bakar, maka hendaklah dia mengimami solat bersama orang-orang. Sebab kamu sekalian ini bagai perempuan teman-teman Yusuf saja." 'Aisyah berkata: "Kemudian kami mengirimkan -utusan- kepada Abu Bakar, kemudian Abu Bakar mengimami solat bersama orangorang. Lalu Rasulullah SAW. mendapati dirinya terasa ringan sakitnya. Lalu dia keluar menuju solat, dipapah oleh dua orang lelaki. Sedang kedua kaki beliau nyeret ke tanah/bumi. Maka ketika Abu Bakar merasa ada Nabi, dia mundur -belakang- lalu Nabi SAW. memberi isyarat kepadanya: "Tetaplah di tempatmu." Selanjutnya kata perawi: Kemudian Nabi SAW datang, sehingga dua orang pemapah mendudukan beliau di samping -di dekat- Abu Bakar. Sementara Abu Bakar mengikut Nabi SAW. dan orang-orang (Sahabat) mengikuti Abu Bakar -mengerjakan solat.

Hadis Sahih Bukhari Jilid 1. Hadis Nombor 0386.
Diceritakan oleh Anas bin Malik Al Anshari r.a., yang biasa mengikuti, melayani dan menemani Rasulullah saw. dan yang menyukakannya, katanya: "Abu Bakar menjadi imam solat bagi kami ketika Nabi saw. sakit menjelang akhir hayat beliau. Maka pada suatu hari, hari Isnin, mereka telah berbaris hendak solat. Tiba-tiba Nabi saw., menyingkapkan tabir biliknya melihat kepada kami. Beliau berdiri dengan wajah seputih kertas (berkilauan), senyum dan tertawa. Sehingga kami hampir saja tertipu kerana kegirangan melihat Nabi saw. (telah sembuh). Abu Bakar mundur ke belakang untuk masuk ke dalam saf, kerana dia mengira bahawa Nabi saw. akan datang solat. Tetapi Nabi saw. memberi isyarat kepada kami supaya kami menyempurnakan solat kami, dan setelah itu beliau lepaskan tabir. Ternyata beliau wafat pada hari itu juga.

Hadis Sahih Bukhari Jilid 4. Hadis Nombor 1979.
Dari Ibnu Abbas r.a. katanya: Di waktu Nabi saw. hampir wafat, sedang dalam rumah ketika itu ada beberapa orang, di antaranya Umar bin Khattab, Nabi berkata: "Mari ku tuliskan untuk kamu suatu kitab yang kamu tidak akan sesat sesudah itu." Umar berkata: "Sesungguhnya Nabi saw. sedang keras sakitnya dan kamu ada mempunyai Quran. Maka cukuplah untuk kita Kitab Allah itu. "Orang-orang yang dalam rumah itu bertikai pendapat dan berselisih, kerana diantara mereka ada yang mengatakan supaya Rasulullah saw. didekati untuk menuliskan suatu Kitab yang kita tidak akan sesat sesudah itu. Yang lain mengatakan serupa yang dikatakan Umar. Setelah itu jadi hiruk pikuk dan perselisihan pendapat dekat Nabi, beliau berkata: "Pergilah kamu dari sini!"

Hadis Sunan At-Termizi Jilid 5. Hadis Nombor 3697.
Bisyr bin Hilal Ash Shawwaf AI-Bashri menceritakan kepada kami, Ja'far bin Sulaiman Adh Dhuba'i menceritakan kepada kami dari Tsabit dari Anas bin Malik berkata: "Pada hari dimana Rasulullah SAW memasuki kota Madinah, maka segala sesuatu di Madinah bersinar dan pada hari dimana Rasulullah SAW wafat, maka segala sesuatu di Madinah gelap dan kami tidak menghilangkan debu yang ada pada tangan-tangan dari Rasulullah SAW dan kami sungguh sibuk mengebumikan Beliau sehingga hati kami tidak percaya."

Hadis Sunan An-Nasai Jilid 2. Hadis Nombor 1629.

Dari Ummi Salamah katanya: "Demi Tuhan yang memegang jiwaku, ketika mendekati saat wafatnya, Rasulullah sering melakukan solat sunat sambil duduk. Dan amalan yang paling disenangi oleh beliau adalah yang dilakukannya secara istiqamah, walaupun hanya sedikit."

Hadis Sahih Bukhari Jilid 3. Hadis Nombor 1573.
Dari Aisyah r.a.: Saya mendengarkan sabda Nabi s.a.w. dengan penuh perhatian sebelum beliau wafat, sedang beliau menyandarkan punggungnya kepada saya. Beliau mendoa: "Wahai Tuhan! Ampunilah saya! Kasihanilah saya dan hubungkan saya dengan teman yang maha tinggi".

Hadis Sunan An-Nasai Jilid 2. Hadis Nombor 1867.
Dari Aisyah katanya: "Ketika Rasulullah saw wafat, maka beliau dikafani dengan tiga helai kain putih yang dibuat di desa Suhuliyah tanpa di beri qamish mahupun serban."

Hadis Sunan An-Nasai Jilid 3. Hadis Nombor 3481.
Dari Al Aswad dari Aisyah ra. berkata: "Ketika Rasulullah saw sakit keras, beliau meminta sebuah bejana padaku untuk tempat kencingnya. Dan ketika beliau wafat, tiada seorangpun di sampingnya kecuali aku."

Diwartakan kepada kami 'Ali bin Muhammad, mewartakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari 'Abdur-Rahman bin Abu Bakar, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari 'Aisyah, dia berkata: Ketika Rasulullah SAW. meninggal dunia, sementara Abu Bakar di tempat istrinya, yaitu putri Kharijah, di 'Awaliy. Mereka berkata: "Nabi SAW. belum mati. Hanya saja dia dalam keadaan suatu kondisi mendapatkan wahyu". Kemudian datang Abu Bakar, lalu dia membuka tutup dari wajah beliau, dan mencium di antara kedua mata beliau, dan berkata: "Engkau adalah lebih mulia bag! Allah, kalau Dia mematikanmu dua kali. Sungguh, demi Allah, Rasulullah SAW. telah meninggal dunia". Sedangkan 'Umar berada di sudut masjid, mengatakan: "Rasulullah SAW. tidak mati, dan dia tidak akan mati, sehingga memotong tangan orang-orang munafik, banyak sekali, dan kaki-kaki mereka". Kemudian Abu Bakar berdiri, naik mimbar, berkata: "Barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu hidup, tidak akan mati. Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad sudah mati. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat ataukah dibunuh, kamu sekalian membalikkan tumitmu -yakni murtad"? Barangsiapa yang membalikkan tumitmu "yakni murtad", maka ia tidak dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan membalas -kebajikan- kepada orang-orang yang bersyukur". 'Umar berkata: "Maka sungguh sepertinya aku ini tidak pernah membaca ayat tersebut (QS. 3:144) kecuali pada kali ini"

Hadis Sunan An-Nasai Jilid 2. Hadis Nombor 1811.
Kata Abu Salamah, bahawasanya Aisyah pernah memberitahu padanya: "Ketika mendengar berita wafatnya Nabi saw, maka Abu Bakar datang dari rumahnya di Sunuh dengan berkenderaan kuda. Sesampainya di pintu masjid, maka dia turun dan dia segera masuk ke rumah Aisyah tanpa bercakap-cakap dengan seorangpun yang ada di masjid. Di rumah Aisyah dia dapatkan Rasulullah saw telah ditutupi dengan sehelai kain selimut. Setelah dibuka dibahagian wajahnya, maka Abu Bakar, menurunkan kepalanya dan mencium kening Nabi saw seraya menangis. Kata Abu Bakar: "Demi ayahku, setelah ini Allah tidak akan menjadikan kematian lagi bagimu wahai Rasulullah".

Hadis Sahih Bukhari Jilid 3. Hadis Nombor 1544.
Dari Aisyah r.a., katanya: Fatimah datang berjalan kaki, seolah-olah perjalanannya sama dengan perjalanan Nabi s.a.w. Beliau bersabda: "Selamat datang, wahai anakku!" Kemudian beliau suruh duduk di kanan atau di kiri beliau. Lalu beliau bisikkan suatu berita kepadanya. Lantas Fatimah menangis. Saya bertanya kepadanya: "Mengapa engkau menangis?" Kemudian beliau membisikkan lagi suatu berita kepadanya. Lalu Fatimah tertawa. Saya berkata: Belum pernah saya melihat seperti kejadian di hari ini, suka yang mendampingi duka. Saya bertanya kepadanya mengenai apa yang dibisikkan Rasulullah kepadanya. Jawab Fatimah: "Saya tiada akan membukakan rahsia (bisik) Rasulullah s.a.w." Setelah Nabi s.a.w. wafat, saya ulang menanyakan. Jawabnya: Beliau membisikkan kepada saya: Bahawa malaikat Jibril datang mengajarkan Quran selengkapnya pada saya sekali setahun. Dan dia datang kepada saya tahun ini dua kali. Saya mengira ajal saya telah dekat. Engkau di antara keluarga saya yang pertama mengikuti saya. Lantas saya (Fatimah) menangis. Beliau bersabda: "Apakah engkau tidak suka jadi ketua wanita-wanita yang mendiami syurga atau ketua wanita mukmin?" Lalu saya (Fatimah) tertawa kerananya.

Hadis Sahih Bukhari Jilid 3. Hadis Nombor 1375.
Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: "Hari Khamis! Apakah hari Khamis itu?" Kemudian ia menangis sehingga air matanya membasahi pasir. Katanya: "Rasulullah s.a.w. sakit keras pada hari Khamis, beliau lalu bersabda: "Bawalah kemari sebuah buku! Saya suruh tuliskan untuk kamu sesuatu yang kamu tiada akan tersesat sesudah itu selamanya". Mereka lalu berselisih, sedangkan berselisih itu tidak patut dekat Nabi. Mereka berkata: "Rasulullah s.a.w. akan pulang". Beliau bersabda: "Biarkanlah saya! Keadaan saya sekarang lebih baik daripada apa yang kamu katakan". Beliau berwasiat ketika beliau akan wafat dengan tiga perkataan: Pertama: Keluarkanlah orang musyrik dari Jazirah Arab, kedua: sambutlah perutusan sebagaimana saya pernah menyambut mereka, dan yang ketiga: saya (lbnu Abbas) lupa".

Hadis Sunan At-Termizi Jilid 2. Hadis Nombor 0986.
l Hasan bin Al Shabah Al Bazzar menceritakan kepada kami, Mubasyir bin Ismail Al Halabi memberitahukan kepada kami dari Abdur Rahman bin Al Alaa' dari ayahnya dari ibnu umar dari aisyah, ia berkata. "saya tidak iri pada seseorang dengan mudahnya mati, sesudah saya melihat beratnya wafat Rasulullah saw. "Rawi berkata: Saya bertanya kepada Abu Zur'ah tentang hadis ini, saya tanyakan siapa itu Abdur Rahman bin Al Alaa'? Dia menjawab: Abdur Rahman adalah anak laki-laki Al Alaa' bin Al Lajlaj dan saya mengetahui dari arah ini

Hadis Sahih Bukhari Jilid 3. Hadis Nombor 1347.
Dari Abu Hurairah r.a.: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Saya diutus membawa perkataan yang cukup ringkas. Saya ditolong beroleh kemenangan dengan perasaan takut di hati musuh. Pada suatu malam ketika saya sedang tidur, saya bermimpi diberi anak kunci perbendaharaan bumi (negeri-negeri), lalu diletakkan di tanganku". Kata Abu Hurairah: "Rasulullah s.a.w. telah pergi (wafat), dan kamulah yang akan menggali isi perbendaharaannya."

Hadis Sunan Ibnu Majjah Jilid 3. Hadis Nombor 2697.
Mewartakan kepada kami Ahmad bin Al-Miqdam; mewartakan kepada kami Al-Mu'tamir bin Sulaiman; aku mendengar ayahku mewartakan hadis dari Qatadah, dari Anas bin Malik dia berkata: "Adalah kebanyakan washiyat Rasulullah saw. ketika menjelang wafatnya, beliau berdesah diri: "(Jagalah) solat, dan budak-budak yang kalian miliki". Dalam Az-Zawa-id: Isnadnya hasan, kerana kekurangan Ahmad bin Al- Miqdam dari derajat Ahlu-dhabit. (kuat, cermat, betul) sanad selebihnya sesuai dengan Persyaratan Bukhari-Muslim

Hadis Sunan An-Nasai Jilid 2. Hadis Nombor 1814.
Dari Anas katanya: "Ketika Rasulullah saw wafat, maka Siti Fatimah menangisi beliau seraya berkata: "Wahai ayahku, alangkah dekatnya engkau di sisi Tuhanmu, wahai ayahku, hanya kepada Jibril akan kami sampaikan rasa susah hati kami, wahai ayahku, sungguh tiada tempat yang pantas engkau diami setelah ini selain syurga Al-Firdaus".

Hadis Sunan An-Nasai Jilid 2. Hadis Nombor 1628.
Dari Ummi Salamah katanya: "Ketika mendekati saat wafatnya, Rasulullah saw sering melakukan solat sunat sambil duduk. Dan amalan yang paling disenangi oleh beliau adalah yang dikerjakannya secara istiqamah, walaupun amalan itu hanya sedikit."

Hadis Sunan An-Nasai Jilid 2. Hadis Nombor 1801.
Dari Anas katanya: "Pandangan terakhir yang aku lihat pada Rasulullah saw adalah ketika beliau membuka kain langsirnya sedangkan ketika itu para sahabat sedang berdiri dalam saf-saf mereka masing-masing dibelakang Abu Bakar. Ketika Abu Bakar hendak undur ke belakang, maka Rasulullah saw menyuruh mereka untuk tetap melaksanakan solatnya dan beliau segera menutup kain langsirnya. Dan pada akhir hari itu - hari Isnin - beliauwafat."