24 August 2014

Karamah

Dalam setiap era kemodenan, kehidupan manusia sentiasa berkembang ke arah kesempurnaan, sehingga terwujudlah adat-istiadat, pengetahuan, budaya, moral, kepercayaan, aturan kemasyarakatan, pendidikan, undang-undang dan pemerintahan.


Dalam perkembangannya, aturan moral ini tetap mengalami pasang surutnya. Namun, setiap kali mengalami masa surutnya, pasti akan muncul insan-insan yang digelar wali-wali Allah yang sentiasa berjuang untuk mengembalikan nilai moral ke tahap yang tertinggi, sehingga nilai-nilai ini diserapi kembali ke dalam jiwa manusia. Perkembangan adat dan nilai akhlak ini terjadi pula dikalangan dunia Islam sejak Allah s.w.t. telah menjelaskan bahawa Nabi saw mempunyai moral yang paling sempurna . Nabi s.aw.pun mengenalkan dirinya sebagai utusan yang akan menyempurnakan keperibadian moral dan akhlak.

Justeru itu, Allah s.w.t. telah menyeru umat Islam untuk menjadikan RasulNya sebagai insan yang sentiasa dicontohi.Nabi Muhammad s.a.w. telah berhasil membina sahabatsahabatnya menjadi manusia-manusia sufi yang boleh dibanggakan di hadapan seluruh umat manusia. Padahal pada waktu sebelumnya mereka adalah manusia-manusia jahiliyah yang berada di tepi jurang neraka. Tentunya keberhasilan beliau itu tidak lain karena bantuan Allah dan bimbingan Baginda s.a.w.Dalam kehidupan sehariannya Nabi s.a.w. menyeru dan mempamerkan cara hidup yang sederhana, selalu prihatin,berharap penuh keridhaan Allah dan kesenangan di akhirat, dan selalu menjalani kehidupan sufistik dalam segala tingkah laku dan tindakannya. Kehidupan sufistik ini dilanjutkan oleh generasi tabi’in, tabi’-tabi’in dan seterusnya hingga kini.

Perjuangan Rasulullah s.a.w. tidak berhenti setakat masa hidupnya sahaja, namun segala ilmu-ilmu dan nilai-nilai akhlak Islamiyah telah diwarisi oleh wali-wali yang sentiasa mendokong dan meneruskan perjuangan Rasulullah s.a.w. sepertimana yang disifatkan oleh Allah s.w.t. dalam salah satu hadis qudsi yang berbunyi :

“Wali-waliKu berada di bawah kubah-kubahKu. Tidak ada yang mengetahuinya selain Aku”.

Maka wujudnya para wali-wali Allah tidak dapat dinafikan dan mereka merupakan para kekasih Allah yang terdapat diseluruh pelusuk bumi di mana sahaja terdapat orang yang beriman. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengingatkan hakikat wujudnya para wali serta karamah mereka sebagaimana tercatit dalam kitabnya

Fatwa Ibnu Taimiyah :

“Wali Allah adalah orang-orang mukmin yang bertaqwa kepada Allah. Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan pada diri mereka dan mereka tidak merasa khuwatir. Mereka beriman dan bertaqwa kepada Allah, bertaqwa dalam pengertian mentaati firman-firmanNya, penciptaanNya, izinNya, dan kehendakNya yang termasuk dalam ruang lingkungan agama. Semua itu kadang-kadang menghasilkan berbagai karamah pada diri mereka sebagai hujjah dalam agama dan bagi kaum muslimin, tetapi karamah tersebut tidak akan pernah ada kecuali dengan menjalankan syariat yang dibawa Rasulullah s.a.w.”

Kedudukan wali hanya dapat diberikan kepada orang-orang yang telah nyata ketaqwaannya. Sementara orang yang nyata telah melanggar syari’ah tidak dapat diberikan kedudukan yang mulia ini. Sayangnya, di kalangan manusia, ada orang yang mengaku bahawa dirinya adalah wali dan memperoleh karamah dari Allah, padahal dalam kehidupannya sehari-hari mereka tidak melaksanakan syariat Islam dengan baik sehingga mustahil bagi Allah untuk memberikan darjat ‘wali’ kepada orang seperti ini.

Yang perlu diwaspadai juga, syaitan pun dapat membantu manusia untuk mewujudkan keajaiban-keajaiban di mata manusia. Itulah yang dinamakan sihir. Syaitan pun berupaya membantu seseorang menghilang dirinya dari pandangan orang lain, dan juga memberi maklumat kejadian yang akan datang. Dan inilah yang

sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak beriman untuk menipu manusia. Maka, peri pentingnya bagi umat Islam mengetahui juga akan perkara-perkara luar biasa yang wujud di alam ini supaya dapat membezakan antara yang hak dan yang batil. Para wali-wali Allah juga diberi kurniaan yang luar biasa dikenali sebagai Karamah.

Karamah adalah sesuatu pemberian Allah swt yang sifatnya seakan-akan dengan mukjizat para nabi dan rasul, iaitu kebolehan melakukan hal-hal yang luar biasa yang diberikan kepada orangorang yang dikasihiNya yang dikenal sebagai wali Allah. Mudah-mudahan dengan pembentangan secebis pengetahuan tentang wali-wali Allah dan karamah mereka ini, pintu keberkahan para wali-wali Allah akan terbuka bagi kita, sehingga dapat kita meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Yang Maha Pencipta.

TANDA-TANDA WALI ALLAH

1. Jika melihat mereka, akan mengingatkan kita kepada Allah swt.

Dari Amru Ibnul Jammuh, katanya: “Ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah berfirman: “Sesungguhnya hamba-hambaKu, wali-waliKu adalah orang-orang yang Aku sayangi. Mereka selalu mengingatiKu dan Akupun mengingati mereka.”10

10 Hadis riwayat Abu Daud dalam Sunannya dan Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I hal. 6

Dari Said ra, ia berkata: “Ketika Rasulullah saw ditanya: “Siapa wali-wali Allah?” Maka beliau bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika

dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah.”11

11 Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Auliya’ dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya Jilid I hal 6).

2. Jika mereka tiada, tidak pernah orang mencarinya.

Dari Abdullah Ibnu Umar Ibnu Khattab, katanya: “Pada suatu kali Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal ra, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?” Kata Mu’adz: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para imam petunjuk dan para pelita ilmu.”12

12 Hadis riwayat Nasa’i, Al Bazzar dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah jilid I hal. 6

3. Mereka bertakwa kepada Allah.

Allah swt berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhuwatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.. Dan bagi mereka

diberi berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat”13

Abul Hasan As Sadzili pernah berkata: “Tanda-tanda kewalian seseorang adalah redha dengan qadha, sabar dengan cubaan, bertawakkal dan kembali kepada Allah ketika ditimpa bencana.”14

13 Surah Yunus: 62 - 64

14 Hadisriwayat.Al Mafakhiril ‘Aliyah hal 104


4. Mereka saling menyayangi dengan sesamanya.

Dari Umar Ibnul Khattab ra berkata:

“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya sebahagian hamba Allah ada orang-orang yang tidak tergolong dalam golongan para nabi dan para syahid, tetapi kedua golongan ini ingin mendapatkan kedudukan seperti kedudukan mereka di sisi Allah.”

Tanya seorang: “Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan apa amal-amal mereka?” Sabda beliau: “Mereka adalah orang-orang yang saling kasih sayang dengan sesamanya, meskipun tidak ada hubungan darah mahupun harta di antara mereka. Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbarmimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.”

Kemudian Rasulullah saw membacakan firman Allah yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”15

15 Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I, hal 5

5. Mereka selalu sabar, wara’ dan berbudi pekerti yang baik.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa“Rasulullah saw

bersabda:

“Ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, iaitu: pandai mengendalikan perasaannya di saat marah, wara’ dan berbudi luhur kepada orang lain.”16

“Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abu Hurairah, berjalanlah engkau seperti segolongan orang yang tidak takut ketika manusia ketakutan di hari kiamat. Mereka tidak takut siksa api neraka ketika manusia takut. Mereka menempuh perjalanan yang berat sampai mereka menempati tingkatan para nabi. Mereka suka berlapar, berpakaian sederhana dan haus, meskipun mereka mampu. Mereka lakukan semua itu demi untuk mendapatkan redha Allah. Mereka tinggalkan rezeki yang halal kerana takut akan shubhahnya. Mereka bersahabat dengan dunia hanya dengan badan mereka, tetapi mereka tidak tertipu oleh dunia. Ibadah mereka menjadikan para malaikat dan para nabi sangat kagum. Sungguh amat beruntung mereka, alangkah senangnya jika aku dapat bertemu dengan mereka.” Kemudian Rasulullah saw menangis kerana rindu kepada mereka. Dan beliau bersabda: “Jika Allah hendak menyiksa penduduk bumi, kemudian Dia melihat mereka, maka Allah akan menjauhkan siksaNya. Wahai Abu Hurairah, hendaknya engkau menempuh jalan mereka, sebab siapapun yang menyimpang dari penjalanan mereka, maka ia akan mendapati siksa yang berat.”17

16 Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Al Auliya’

17 Hadis riwayat Abu Hu’aim dalam kitab Al Hilya

7. Mereka selalu terhindar ketika ada bencana.

Dari Ibnu Umar ra, katanya:

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang diberi makan dengan rahmatNya dan diberi hidup dalam afiyahNya, jika Allah mematikan mereka, maka mereka akan dimasukkan ke dalam syurgaNya. Segala bencana yang tiba akan lenyap secepatnya di hadapan mereka, seperti lewatnya malam hari di hadapan mereka, dan mereka tidak terkena sedikitpun oleh bencana yang datang.”18

18 Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I hal 6

8. Hati mereka selalu terkait kepada Allah.

Imam Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Kumail An Nakha’i: “Bumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya. Akan tetapi, berapakah jumlah mereka dan dimanakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang mereka. Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka. Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di dunia, tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para da’I kepada agamaNya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka.”19

19 Nahjul Balaghah hal 595 dan Al Hilya jilid 1 hal. 80

9. Mereka senang bermunajat di akhir malam.

Imam Ghazali menyebutkan: “Allah pernah memberi ilham kepada para siddiq: “Sesungguhnya ada hamba-hambaKu yang mencintaiKu dan selalu merindukan Aku dan Akupun demikian. Mereka suka mengingatiKu dan memandangKu dan Akupun demikian. Jika engkau menempuh jalan mereka, maka Aku mencintaimu. Sebaliknya, jika engkau berpaling dari jalan mereka, maka Aku murka kepadamu. “ Tanya seorang siddiq: “Ya Allah, apa tanda-tanda mereka?”

Firman Allah: “Di siang hari mereka selalu menaungi diri mereka, seperti seorang pengembala yang menaungi kambingnya dengan penuh kasih sayang, mereka merindukan terbenamnya matahari, seperti burung merindukan sarangnya. Jika malam hari telah tiba tempat tidur telah diisi oleh orang-orang yang tidur dan setiap kekasih telah bercinta dengan kekasihnya, maka mereka berdiri tegak dalam solatnya. Mereka merendahkan dahi-dahi mereka ketika bersujud, mereka bermunajat, menjerit, menangis, mengadu dan memohon kepadaKu. Mereka berdiri, duduk, ruku’, sujud untukKu. Mereka rindu dengan kasih sayangKu. Mereka Aku beri tiga kurniaan: Pertama, mereka Aku beri cahayaKu di dalam hati mereka, sehingga mereka dapat menyampaikan ajaranKu kepada manusia. Kedua, andaikata langit dan bumi dan seluruh isinya ditimbang dengan mereka, maka mereka lebih unggul dari keduanya. Ketiga, Aku hadapkan wajahKu kepada mereka. Kiranya engkau akan tahu, apa yang akan Aku berikan kepada mereka?”20

20 Ihya’ Ulumuddin jilid IV hal 324 dan Jilid I hal 358

10. Mereka suka menangis dan mengingat Allah.

‘Iyadz ibnu Ghanam menuturkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Malaikat memberitahu kepadaku: “Sebaik-baik umatku berada di tingkatan-tingkatan tinggi. Mereka suka tertawa secara terang, jika mendapat nikmat dan rahmat dari Allah, tetapi mereka suka menangis secara rahsia, kerana mereka takut mendapat siksa dari Allah. Mereka suka mengingat Tuhannya di waktu pagi dan petang di rumah-rumah Tuhannya. Mereka suka berdoa dengan penuh harapan dan ketakutan. Mereka suka memohon dengan tangan mereka ke atas dan ke bawah. Hati mereka selalu merindukan Allah. Mereka suka memberi perhatian kepada manusia, meskipun mereka tidak dipedulikan orang.Mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati, tidak congkak, tidak bersikap bodoh dan selalu berjalan dengan tenang. Mereka suka berpakaian sederhana. Mereka suka mengikuti nasihat dan petunjuk Al Qur’an. Mereka suka membaca Al Qur’an dan suka berkorban. Allah suka memandangi mereka dengan kasih sayangNya. Mereka suka membahagikan nikmat Allah kepada sesama mereka dan suka memikirkan negeri-negeri yang lain. Jasad mereka di bumi, tapi pandangan mereka ke atas. Kaki mereka di tanah, tetapi hati mereka di langit. Jiwa mereka di bumi, tetapi hati mereka di Arsy. Roh mereka di dunia, tetapi akal mereka di akhirat. Mereka hanya memikirkan kesenangan akhirat. Dunia dinilai sebagai kubur bagi mereka. Kubur mereka di dunia, tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat tinggi. Kemudian beliau menyebutkan firman Allah yang artinya:“Kedudukan yang setinggi itu adalah untuk orang-orang yang takut kepada hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.”21

21 Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I, hal 16

11. Jika mereka berkeinginan, maka Allah memenuhinya.

Dari Anas ibnu Malik ra berkata: “Rasul saw bersabda:“Berapa banyak manusia lemah dan dekil yang selalu dihina orang, tetapi jika ia berkeinginan, maka Allah memenuhinya, dan Al Barra’ ibnu Malik, salah seorang di antara mereka.”

Ketika Barra’ memerangi kaum musyrikin, para sahabat: berkata: “Wahai Barra’, sesungguhnya Rasulullah saw pernah bersabda: “Andaikata Barra’ berdoa, pasti akan terkabul. Oleh kerana itu, berdoalah untuk kami.” Maka Barra’ berdoa, sehingga kami diberi kemenangan.

Di medan peperangan Sus, Barra’ berdo’a: “Ya Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum Muslimin dan temukanlah aku dengan NabiMu.” Maka kaum Muslimin diberi kemenangan dan Barra’ gugur sebagai syahid.

12. Keyakinan mereka dapat menggoncangkan gunung.

Abdullah ibnu Mas’ud pernah menuturkan:

“Pada suatu waktu ia pernah membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan”, pada telinga seorang yang pengsan, maka dengan izin Allah, orang itu segera sedar, sehingga Rasuulllah saw bertanya kepadanya: “Apa yang engkau baca di telinga orang itu?” Kata Abdullah: “Aku tadi membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum‘abathan” sampai akhir surah.” Maka Rasul saw bersabda: “Andaikata seseorang yakin kemujarabannya dan ia membacakannya kepada suatu gunung, pasti gunung itu akan hancur.”22

22 Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Al Hilya jilid I hal 7

20 August 2014

Perut Buncit ???!

Ana nak share lagi tips nak elakkan perut buncit nih. Bagus tips ni dan boleh diamalkan. Macam biasa ana copy paste dan ambil tips ni dari artikel ini. Ana guna google translate dan edit sikit sikit. Memang klas bila bacanya..hehehe. Selamat mentelaah.... !!!

gemuk

1. Mulakan hari anda dengan jus lemon

Ini adalah salah satu terapi terbaik untuk menghilangkan lemak perut. Picit sedikit jus kuning ke dalam segelas air suam dan tambah sedikit garam kepadanya. Teruskan minum ini setiap pagi untuk meningkatkan metabolisme anda dan untuk menghilangkan perut gendut itu.


2. Elakkan nasi putih

Gantikan nasi putih dengan pelbagai produk gandum. Termasuk beras perang, roti coklat, bijirin penuh, oat dan quinoa dalam diet anda.

3. Elakkan makan dan minum yang bergula

Jauhi gula-gula, minuman manis dan makanan yang kaya dengan minyak. Pengambilan makanan ini dapat meningkatkan lemak badan di sekitar pelbagai bidang badan anda seperti perut dan peha.

4 Minum air yang banyak

Jika anda ingin menghilangkan perut anda, kemudian minum air yang mencukupi setiap hari. Air minuman, selepas jangka masa yang tetap akan membantu untuk meningkatkan metabolisme anda dan membuang toksin dari badan anda.

5. Makan bawang putih mentah

Kunyah 2-3 ulas bawang putih setiap pagi, dan minum segelas air lemon selepas itu. Rawatan ini akan menggandakan proses penurunan berat badan anda dan membuat peredaran darah anda lancar dalam badan anda.

6. Elakkan makanan yang tidak veg

Untuk menghapuskan lemak perut, adalah disyorkan bahawa seseorang itu perlu mengelakkan makanan bukan vegetarian sejauh yang mungkin.

7. Makan buah-buahan dan sayur-sayuran

Makan semangkuk buah-buahan setiap hari di waktu pagi dan petang. Ini akan mengisi anda dengan banyak antioksidan, mineral dan vitamin.

8. Gunakan Rempah

Penggunaan rempah seperti kayu manis anda, halia dan lada hitam dalam masakan anda. Ini rempah sarat dengan manfaat kesihatan. Mereka membantu untuk meningkatkan rintangan insulin dan mengurangkan tahap gula dalam darah anda.

Surirumah Perolehi 5 angka

Dahulu surirumah sering dikaitkan dengan kerja-kerja rumah, menjaga anak dan sebagainya.Tetapi kini tugas surirumah bukan setakat itu sahaja tetapi sehingga boleh menjanapendapatan 5 angka sebulan. Surirumah 5 angka? sesuatu yang mustahil untuk didengar bukan. Zaman serba canggih sekarang , semuanya dihujung jari maka tidak hairan lagi pekerjaan surirumah boleh menjadi sesuatu yang professional malah menjana pendapatan lebih dari mereka yang makan gaji.
Bagaimana seorang surirumah mampu menjana pendapat sebegitu banyak?
Berpelunag mengenai wanita hebat. Ibu kepad 2 orang cahaya mata, surirumah sepenuh masa tetapi disebalik keayuaan nya terselit kehebatan wanita berhati waja.

Hadhatina Abd Halim nama bukan asing lagi dalam Shaklee. Sanggup menggagalkan diri dalam temuduga pekerjaan semata-mata tidak mahu anak-anak dijaga oleh orang lain atau dihantar ke nursery. Ibu hebat ini mula berjinak-jinak menjual vitamin di alam maya sejak 2 tahun lepas nyata membuahkan hasil. Hasil nya ana-anak sihat ceria ditangan sendiri dan mampu meraih pendapatan 5 angka sebulan. Bayangkan kalau dapat RM10,000 sebulan.hanya duduk dirumah. Malah income beliau hampir mencecah 6 angka sekarang.6 angka bersamaa RM100,000 sebulan .Agak-agak apa jawatan di syarikat anda yang gajinya RM100,000 sebulan ? CEO pun tak mungkin mencecah gaji itu rasanya.

Semuanya bermodalkan RM65 sahaja. tak pecaya? cuba dahulu baru tahu. 
Apa rahsia beliau? 
Jom kita saksikan rahsia hebat beliau


Jika beliau BOLEH maka kita semua pun BOLEH
Tiada yang mustahil untuk berjaya. Semuanya bermula dari anda.

Makanan-Makanan Yang Mencegah Pembuluh Darah Tersumbat

Mohhh ! kita nengok beberapa makanan yang boleh mencegah dari pembuluh darah kita leh tersumbat. Biasanya bila kita makan benda-benda yang sedap-sedap ni , biasalah, banyak kolestrol, dan menyebabkan pembuluh darah kita tersumbat. Ini boleh menyebabkan bahaya seperti serangan jantung, darah tinggi. Jadi kali ini ana nak kongsi artikel menarik dari Health Digest, di terjemah seratus peratus dan di copy write..hehehe..




1. Bawang putih
Sejak zaman purba bawang putih telah digunakan untuk merawat hati penyakit dan tekanan darah tinggi. Menurut kajian yang diterbitkan dalam perubatan pencegahan, bawang putih menghalang arteri koronari menjadi keras menjadi kapur yang berfungsi sebagai penanda bagi plak pembentukan. 

2 Anggur
Anggur kaya dengan flavonoid, quercetin, dan resveratrol. Ini flavonoid telah didapati untuk mencegah pengoksidaan kolesterol buruk yang membawa kepada pembentukan plak pada dinding arteri. Mereka juga mengurangkan risiko membangunkan darah beku yang boleh membawa kepada serangan jantung. 

3 Bayam
Bayam kaya dengan kalium dan folik asid, kedua-duanya bertindak sebagai pertahanan terhadap tekanan darah tinggi. bayam adalah juga kaya dengan lutein, karotenoid tumbuhan yang bukan sahaja melindungi daripada umur degenerasi makula berkaitan tetapi juga mencegah serangan jantung dengan menjaga arteri bebas daripada kolesterol membina. 

4 Ikan
Kajian yang dijalankan oleh penyelidik di Southampton University mendapati bahawa Omega 3 minyak, hadir dalam ikan seperti tuna dan salmon, berhenti pengumpulan deposit lemak dalam arteri. Asid lemak mengelakkan pembekuan daripada membentuk dan kolesterol daripada menjadi teroksida. 

5 Minyak zaitun
Kolesterol teroksida hanya mampu berpegang kepada arteri anda dinding dan bentuk plak. Lemak monotaktepu membentangkan di minyak zaitun apabila dicampur dengan molekul kolesterol tidak baik menjadi kurang mungkin teroksida. 

6 Tomato
Menurut kajian yang dijalankan oleh penyelidik Korea, lycopene, sebatian yang terdapat di dalam tomato yang memberi mereka warna mereka, membantu dalam mencegah pengerasan arteri. Para penyelidik mendapati bahawa wanita yang lycopene tertinggi tahap dalam darah mereka mempunyai kekukuhan kurangnya dalam arteri mereka. 

7 Delima
Jus delima bukan sahaja muncul untuk mencegah pengerasan arteri dengan mengurangkan kerosakan saluran darah, tetapi boleh juga menterbalikkan perkembangan penyakit ini. delima buah-buahan dan jus yang tinggi kandungan antioksidan, yang boleh membantu perjuangan pengerasan arteri. 

8 Kiwi dan tembikai
Makanan ini kaya antioksidan berfungsi dengan mengurangkan LDL toksik kolesterol, yang dibentuk melalui proses berkarat dalam anda arteri. Mereka boleh membantu menghentikan karat di trek dan juga mencegahnya daripada merebak. Makan satu cawan tembikai atau satu kiwi setiap hari untuk unclog arteri anda. 

9 Jus Cranberry
Jus ini strain lemak daripada arteri. Daripada harus lemak terkumpul di dalam saluran darah, jus ini meningkatkan anda keupayaan sel untuk menyerap lemak dan menggunakannya untuk pengeluaran tenaga. Minum tiga gelas jus ini setiap minggu untuk unclog arteri anda. 

10 Oat
Terima kasih kepada gentian larut dalam oat, kolesterol tidak berdiri peluang. Alhamdulillah memang kegemaran bila waktu sarapan. Habis je kena beli oat...Serat ini melekat pada kolesterol dan membawa ia keluar dari sistem anda. Beberapa kajian mempunyai menunjukkan bahawa pemakanan hanya 1 1/2 hingga 2 1/2 cawan oat- dimasak bijirin bran setiap hari boleh menurunkan paras kolesterol sebanyak hampir

20%.


Dengan ini sayangilah jantung dan pembuluh darah anda..!
Lebih senang amalkan je PHYTOCOL-ST ! Mudah telan aje...hehehe
kalau mau elak dari pembuluh darah tersumbat cam ni...

19 August 2014

AYAT–AYAT UZLAH SERTA MAKSUDNYA

Abu Sulaiman menegaskan: "Diantara kebaikan UZLAH ialah ia dapat menjauhkan jarak diri seseorang dari terikat dengan banyak angan-angan dan memutuskan perkaitan dengan sifat tamak dan kecewa dengan rezeki yang dikurniakan oleh Allah SWT. Sekiranya ada sesiapa yang bersama-sama mereka dan menemani mereka tetapi tidak bersusah payah menjauhkan diri dari tabiat buruk itu samada dari segi pangkat mahupun harta, maka itu merupakan kerugian yang datang dan maka hilanglah segala kemuliaan"
PENAFSIRAN DR WAHBAH AZZ-UHAILI TENTANG AYAT – AYAT UZLAH

Didalam Al-Qur’an tema uzlah tidak didiskripsikan secara jelas dan detail. Penafsiran uzlah hanya tersirat dari isyarat yang ditunjukkan oleh beberapa ayat Al-Qur’an Ayat uzlah terdapat dalam surat Al-Kahfi yang didalamnya menerangkan kisah Ashhabul kahfi dalam ayat 16 Allah berfirman :

Artinya :   “Dan apabila kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung kedalam gua itu niscaya Tuhan kalian akan melimpahkan sebaian rahmatnya kepada kalian dan menjadikan sesuatu yang berguna bagi kalian dalam urusan kalian”.

Menurut Ibnu Katsir, sebagaimana dikuti Az-Zuhaili, tindakan mengasingkan diri kedalam gua sebagaimana pernah dilakukan ashhabul kahfi adalah  di syari’atkan ketika terjadi fitnah atas diri manusia yang membehayakan agamanya.

Az-Zuhaili menafsirkan ayat diatas sebagai berikut :
“Dan ingatlah! Hai ashhabul kahfi akan seruan itu, yang muncul dari antara kamu kepada yang lain. Ketika kalian berketetapan hati untuk melarikan diri, menyelamatkan agama kalian, maka asingkanlah diri kalian. Berpisahlah dengan kaum kalian seraya beruzlah secara fisik dan non fisik dengan berpindah dari tempat tinggal secara mental / kejiwaan dengan ketetapan tidak menyembah apa yang mereka sembah melainkan hanya kepada Allah semata”[3].


Menurutnya, Allah memerintahkan mereka beruzlah secara fisik dengan cara masuk ke gua besar didalam gunung secara total. Ditempat yang sunyi itu mereka dapat memurnikan jiwa dengan beribadah kepada Allah dan mampu menjauhi orang – orang musyrik. Ini dilakukan mereka sehingga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka dan memudahkan persoalan mereka serta menjadikannya bermanfaat.[4]

Berlindungnya para pemuda mukmin yang sebenarnya pemuda – pemuda terhormat masa kekuasaan “Diqyanus” yang kafir kegua adalah wujud pelarian mereka untuk menyelamatkan agama dari fitnah orang – orang kafir penyembah berhala. Peristiwa ini menjadi dalil yang jelas atas tindakan melarikan diri untuk agama dan hijrah untuk berpisah dengan keluarga, istri, anak, saudara, teman dekat, harta benda dan negara karena takut fitnah dan cobaan yang ditimbulkan oleh manusia.

Hal ini pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabat sebagaimana dalam surat At-taubah. Kondisi yang pengecualian ini menjadi dalil atas diperbolehkannya uzlah yaitu mengasingkan diri dari keramaian manusia. Para ulama sepakat dengan pendapat ini. Adapun pada situasi lain, bergaul adalah lebih baik daripada uzlah.[5]

Al-Baghawi, Ahmad bin Hanbal, Turmudzi dan Ibn Majah telah meriwayatkan dari Ibn Umar dari Nabi Muhammad saw bersabda :

[6]
Artinya :   Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas tindakan mereka yang menyakitkan perasaan lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak mau bergaul dengan mereka dan tidak sabar atas tindakan mereka yang menyakitkan (HR Ahmad, Turmudzi dan Ibn Majah)

Az-Zuhaili juga memahami firman Allah dalam surat Al-Hadid ayat 27 sebagai dasar perilaku uzlah, walaupun disisi lain ia mengkritik perilaku tersebut.

Artinya :   Kemudian Kami iringkan dibelakang mereka Rasul – rasul Kami dan kami iringkan (pula) Isa putra Maryam dan kami jadikan dalam hati orang – orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengadakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada – adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya, maka Kami berikan kepada orang yang beriman diantara mereka pahalanya dan banyak diantara mereka orang – orang fasik.

Berkaitan dengan ayat diatas, Az-Zuhaili menjelaskan bahwa Allah telah menjadikan rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk dihati para pengikut Nabi Isa as dan kaum Hawariyyin, tidak seperti kaum Yahudi yang keras hati. Mereka memulai hal baru dalam tradisi keagamaan, yaitu perilaku kerahiban yang sebenarnya tidak disyari’atkan oleh Allah swt.

Ini semata – mata untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah sampai akhirnya mereka mengesampingkan kebutuhan lain seperti makan, minum dan menikah serta menjauhkan diri dari lingkungan kehidupan masyarakat. Mereka bertempat tinggal di gua-gua dan lereng – lereng gunung dengan mengenakan pakaian sangat sederhana. Akan tetapi kebiasaan baru tersebut ternyata tidak dapat dipelihara secara penuh oleh mereka sendiri, sebagian besar mereka justru terjerumus ke dalam perbuatan dosa dan maksiat.
Itulah yang menjadi kritikan Ibn Katsir, sebagaimana dikutip az-zuhaili bahwa mereka telah menyimpang dalam dua hal, pertama mereka melakukan bid’ah dalam masalah agama padahal Allah sama sekali tidak memerintahkan hal tersebut,  kedua, mereka tidak konsisten melaksanakan aktifitas yang menurut mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah swt.

Menurut Az-Zuhaili, Al-Qur’an pada dasarnya tidak mensyari’atkan agar manusia dalam situasi normal memutuskan hubungan dengan dunia untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah swt. Alqur’an tidak menyerukan manusia berkonsentrasi penuh terhadap masalah dunia hingga meninggalkan ibadah. Ajaran Al-Qur’an pada dasarnya menegaskan adanya pertalian antara urusan dunia dan akhirat. Keduanya saling melengkapi dan saling menyempurnakan, bahkan dunia adalah lahan yang subur bagi kepentingan akhirat. Al-Qur’an menyerukan agar manusia saling membantu dalam kedua urusan tersebut.[7]

Maka seorang mukmin yang ideal adalah ia selalu beribadah dan bermunajat kepada Allah dimanapun ia berada, baik ketika berdagang, bekerja, bermasyarakat serta menjaga akhlaq yang baik, ia juga selalu berharap kepada Allah agar mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat bagi dirinya dan orang lain[8]. Sebagaiman realisasi firman Allah surat Al-Qashash ayat 77


ANALISIS

Mengasingkan diri atau menyendiri bukanlah dari tradisi kehidupan seorang muslim. Tradisi yang berasal dari kehidupan yang Islami adalah pergaulan yang baik, berkumpul secara sehat dan beramah tamah atau bersahabat dengan mereka yang suka kebaikan[9].

Sedangkan yang melengkapi tradisi kehidupan Islam adalah beruzlah dari kekufuran, kemunafikan dan kefasikan dari orang – orang kafir, munafik dan fasik serta beruzlah dari tempat yang penuh dengan caci maki terhadap ayat – ayat Allah dan hal – hal serupa yang wajib dijauhi[10].

Al-Qur’an selain melindungi juga membebaskan manusia dari ketertindasan kaum kuat. Uzlah yang termaktub dalam Al-Qur’an adalah gambaran riil dari solusi bagi manusia yang ingin selamat dunia dan akhirat. Dalam kisah tersebut diatas ashhabul kahfi siap menjadi buron dan hidup papa, jauh dari keramaian, jauh dari karib, teman dekat, anak istri bahkan harta benda karena iman dan keteguhan hati menjadi skala prioritas hidup, maka uzlah adalah jalan akhir yang harus dilakukan dengan tujuan ridlo Allah dan dekat kepada-Nya.

Sikap uzlah yang ditawarkan Al-Qur’an bukan bermaksud mengkerdilkan jiwa manusia agar takut, lari dan menghindar dari perjuangan. Antisipasinya adalah kekuatan yang tidak sebanding antara negara dan sekelompok pemuda (ashhabul kahfi) walaupun mereka adalah sekelompok pemuda dari kaum bangsawan yang terhormat, mereka tidak mungkin melakukan perlawanan terhadap kerajaan yang memiliki power lebih. Sikap menyingkir merupakan alternatif terbaik bagi ashhabul kahfi, demikian halnya yang dilakukan oleh kaum rahbaniyyin.

Satu hal yang harus disadari adalah uzlah jangan dipahami sebagai sikap menyingkir dan menyelamatkan diri ansich. Dalam Uzlah hakekatnya sikap positif yakni tafakkur dan mendekatkan diri kepada Allah demi tercapainya kejernihan jiwa. Kalau uzlah hanya sebatas menyingkir, sembunyi dan lari dari kehidupan sosial adalah menyalahi fitrah kemanusiaan dan dosa karena menghindar dari tanggung jawab sebagai manusia zone politicon. Bahkan ia akan menjadi pengecut, berjiwa kerdil dan a sosial yang notabene menyalahi aturan Tuhan yang menjadikan dirinya Khalifah Allah fi al-Ardl.

Menurut Az-Zuhaili dua peristiwa ashhabul kahfi dan rahbaniyyin sebagaimana dalam ayat – ayat diatas dapat dijadikan landasan dasar diperbolehkannya Uzlah (pengasingan diri) dari keamaian masyarakat ketika situasi membahayakan jiwa dan tauhid, namun dalam situasi normal ketika jiwa dan akidah umat tidak terancam, sebaiknya manusia tidak mengasingkan diri secara fisik dan non fisik dari masyarakat. Islam pada dasarnya mengajarkan umatnya untuk menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, material dan spiritual, sehingga umat Islam disamping diperintah beribadah dan membersihkan jiwa juga diperintah untuk terlibat aktif dalam aktifitas duniawi yang berorientasi ibadah serta pendekatan dan pengabdian diri kepada Allah swt.

Pendapat Az-Zuhaili tentang prinsip keseimbangan aktifitas manusia, antara urusan dunia dan akhirat, material dan spiritual dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dan melibatkan diri bersama masyarakat. Pemahamannya terhadap teks Al-Qur’an tampak sejalan dengan para tokoh pembaharu dan pemikir Islam modern seperti Fazlur rahman dan Hamka yang mengkritik kaum sufi agar lebih aktif melibatkan diri dalam aktifitas di masyarakat.

Semangat uzlah yang pernah di lontarkan oleh para sufi, sangat relevan untuk dikaji ulang dengan pemahaman Qur’ani dan diaktualisasikan dalam kehidupan dimasa sekarang ini, dimana ketidak seimbangan manusia dalam berfikir dan menggunakan teknologi sebagai manusia yang berkualitas membuat mereka mengidap gangguan kejiwaan antara lain, kecemasan, kebosanan dan penyimpangan akan nilai – nilai spiritualitas, mereka banyak terlibat dalam glamornya dunia. Kalau yang terjadi demikian maka mereka akan menjadi manusia yang kehilangan nilai – nilai agama sehingga menjadi resah. Dalam kondisi seperti ini, uzlah dalam pengertian meninggalkan segala perilaku dan nilai – nilai tidak baik dan melaksanakan nilai-nilai Islam yang diridloi Allah merupakan solusi yang tepat dalam rangka meningkatkan moralitas individu dan masyarakat menjadi lebih baik.

Uzlah tidak sekadar lari dan menjauhi keramaian, sikap menghindari dan menjaga dari hal – hal yang menyebabkan maksiat adalah uzlah dalam artian sempit. Kisah ashhabul kahfi dan rahbaniyyin yang lari dari ancaman pemerintah dengan cara lari kegua tidak boleh dipahami secara letterleik. Konteks uzlah era sekarang adalah berubah pada sikap sebagai pribadi yang menyadari dan bersikap bahwa ia harus menghindari kemaksiatan serta hal – hal yang menyebabkan dosa kecil dan besar.

Uzlahnya Ashhabul Kahfi, Kaum Rahbaniyyin dan Nabi Muhammad dengan cara pergi kegua karena tuntutan zaman saat itu memang demikian. Sekarang kita bisa beruzlah ditengah – tengah aktifitas sehari-hari yakni menanamkan keteguhan hati dan selalu memerangi kemungkaran. Menghindarkan diri bisa berarti pergi atau tidak melaksanakan, inilah sesungguhnya hakekat makna uzlah

KESIMPULAN

1.         Menurut Wahbah Az-Zuhaili perilaku uzlah pernah dilakukan umat Nabi Isa as yaitu Ashhabul Kahfi dan Kaum Rahbaniyyin, demi keselamatan jiwa dan agama dari kedhaliman penguasa. Hal ini hanya boleh dilaksanakan dalam kondisi darurat, sedangkan pada kondisi normal Al-Qur’an menegaskan harus ada keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan.
2.         Pemahaman Az-Zuhaili terhadap teks Al-Qur’an tampak sejalan dengan para tokoh pembaharu dan pemikir Islam modern seperti Fazlur rahman dan Hamka yang mengkritik kaum sufi agar lebih aktif melibatkan diri dalam aktifitas di masyarakat.
3.         Konsep keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat dalam realita sekarang yang penuh dengan ketidak seimbangan manusia dalam berfikir dan menggunakan teknologi sebagai manusia yang berkualitas membuat mereka mengidap gangguan kejiwaan antara lain, kecemasan, kebosanan dan penyimpangan akan nilai – nilai spiritualitas sangat relevan diterapkan sebagai solusi terhadap problema kehidupan sekarang.

Koleksi Soal Jawab Fiqh

1 - Apakah itu uzlah?
J - Uzlah bermakna mengasingkan diri iaitu mengasingkan diri ,meninggalkan, melupakan daripada masyarakat,keluarga,kawan kawan, atau sebarang tanggung jawab yang menjadi rutin  hidup   dalam tempoh tertentu.. mungkin sehari, sepuluh hari,30 hari atau mengikut kadar waktu yang termampu.

Uzlah kebiasaannya disertai dengan amalan “Khalwah”
Khalwah ialah tinggal bersendirian/ bersunyi diri di suatu tempat tertentu  bagi membolehkan seseorang  itu focus beribadah tanpa gangguan dari sesiapa.

Maksudnya:"Tidak ada sesuatu yang dapat memberi manafaat kepada hati seperti UZLAH di mana seseorang hamba itu masuk kepadanya medan tafakkur"

"Sesiapa yang memencilkan diri akan selamat.Sesiapa yang memisahkan dirinya daripada nafsu akan merasai kebebasan"....(Habib Al Ajmi)

Uzlah juga maksudnya memencilkan diri atau mengasingkan diri dari kelompok majoriti manusia, misalnya kaum Muktazilah ialah suatu kelompok orang Islam yg mengasingkan diri mereka dari ASWJ.

Justeru itu, yang dimaksudkan UZLAH ialah suatu tindakan untuk menjauhi bahaya fitnah dan menyekatnya agar kejahatan dan keburukannya tidak merebak dan meningkat. Perkara ini juga yang sentiasa diharapkan oleh Rasulullah SAW agar seluruh umat Islam dapat memahami dan lantas menjauhkan diri dari fitnah yang sangat bahaya. Kita tahu bahawa bala yang diturunkan oleh Allah SWT bukan semata-mata jatuh ke atas orang-orang yang melakukan kezaliman sahaja, bahkan ianya turut mengenai orang lain yang langsung tidak bersalah.

2 - Apakah bezanya uzlah / suluk / bertapa dan lain-lain..
J - Uzlah vs suluk vs bertapa..
Kesemuanya bertemu maksud pada "mengasingkan diri dari orang banyak"

Uzlah mengasingkan diri kerana kefahamannya berlainan dgn orang ramai.

Suluk mengasingkan diri dari orang ramai untuk meningkatkan iman dan amal bersama sesuatu tareqat.

Bertapa mengasingkan diri dari orang ramai untuk mempelajari sesuatu ajaran sesat.

3 - Apakah hukum-hukumnya?
J -  Hukum2:

a. uzlah ditegah kerana kita tidak boleh meninggalkan ASWJ, manakala uzlah yg dibenarkan ialah i'tikaf dan bangun malam sahaja (tahajjud)

b. suluk juga ditegah kerana banyaknya aliran tareqat yg tidak menepati ASWJ, ditakuti dgn bersuluk itu akan membawa anda kepada bid'ah dan kesesatan

c. bertapa adalah diharamkan secara mutlak kerana ia adalah ajaran Buddha.

4 - Bagaimanakah tatacaranye?
J - Tatacara:
Uzlah yg dibenarkan ialah:

i. Zuhud, anda hidup di alam serba materialistik tapi jiwa anda tidak dipengaruhi oleh material. Anda di hidup di zaman penuh maksiat dan kejahatan manusia, tapi anda tidak terpengaruh dari kejahatan tsb

ii. I'tikaf, terutama 10 terakhir Ramadhan adalah suluk dan pertapaan yg dibenarkan.

iii. Tahajjud yakni bangun malam ketika org lain dibuai mimpi juga adalah suatu bentuk suluk dan pertapaan yg dibenarkan...

iv. Jika zaman menjadi semakin teruk dan fitnah memuncak, diharuskan uzlah atau memisahkan diri dari masyarakat. Namun kata al-Ghazali, terus hidup dan berjuang membersihkan masyarakat itu tetap lebih aula dan dituntut dari lari beruzlah ke gunung2 atau ke pendalaman.

UZLAH....dengan uzlah teringat betapa kotornya diri...terkenang akan kematian yang bakal datang tanpa sebarang isyarat.....

Kematian itu pasti. Ia tidak meleset meski hanya sedetik. Namun demikian, tidak seorang pun tahu bila hari kematiannya tiba. Kematian boleh datang secara tiba-tiba. Kematian sangat misteri. Kerananya, setiap orang semestinya selalu sudah bersiap sedia. Dan sudah tentu husnul khatimah harus menjadi pilihan. Untuk mencapai itu, kita harus melalui jalan hidup bersyariat dengan menjalankan segala perintah dan larangan Allah SWT.

Sebagai manusia biasa, kita amat memerlukan nasihat kerana hidup di dunia yang serba mencabar ini kadang-kala melalaikan diri dari terus mengingat akan kematian. Seseungguhnya Iman dijiwa seseorang itu sentiasa ada pasang dan surutnya. Kadang-kala bertambah dan kadang-kala berkurang. Oleh itu kita perlu sokongan, ingatan dan nasihat terutama ketika tahap keimanan kita jatuh merudum. Hanya dengan mengingat kematian, kita akan berasa lebih insaf.

Renungkanlah bait2 puisi dari Dr Abdullah Aid Al Qarni

Wahai orang tua yang telah bongkok punggungnya dan dekat ajalnya,
Apakah engkau telah bersiap-siap menghadapi malam pertama di alam kubur?,

Wahai pemuda gagah yang bergelimang harta dan sejuta kuasa,
Apakah engkau telah bersiap-siap menghadapi malam pertama di alam kubur?,

Ia adalah malam pertama dengan dua wajah,

Mungkin menjadi malam pertama bagi malam-malam di syurga berikutnya,

Atau mungkin malam pertama bagi malam-malam di neraka selanjutnya

Wallahua'lam..moga kita mendapat ilmu dan pencerahan erti kata sebenar uzlah. :)

RUJ : DAFTAR PUSTAKA

Amin Syukur, MA, Prof. Dr. Zuhud di Abad Modern, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1997
Az-Zuhaili, Wahbah, Dr. Tafsir Al-Munir fi al-aaridah wa asy – Syari’ah wa al Manhaj, Dra al Fikr al –musahir, Damaskus, 1991
____________, Al-Qur’an al-Karim Bunyatuh al-Tashri’iyyah wa Khashaisuh al Hadlariyyah, Dra Al-Fikr, Damaskus, Cet. I, 1993
Ayazi, Sayyid Muhammad Ali, Al-Mufassirun Hayatun wa Manhajuhum, Wizanah al-Tsiqafah wa al-Insyaq al_islam, Teheran, cet I., 1993
Al-Qazwini, Muhammad Ibn Yazid, Sunan Ibn Majah, Dar al Fikr, Beirut, t.th.
At-Tirmidzi, Abu Isa Muhammad Ibn Isa Ibn Surah, Sunan At-Tirmidzi, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, t.th.
Awwa, Said, Tarbiyyatuna Ar –Ruhiyyah, Dar as-Salam, Cet III, 1990.
Muhayya, Abdul Dr. dkk, Tasawwuf dan Krisis, Pustaka Pelajar, Yogya, 2001


[1] Sayyid Muhammad Ali Ayazi, Al-Mufassirun Hayatuhum wa manhajuhum, Wizarah al-Tsazifah wa al-Ursyad al –Islami, Teheran, cet 1, 1993, hlm. 684 - 685

[2] Ibid., hlm.. 685

[3] Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, Juz XV, Dar al-Fikr al-Mu’ashir, beirut, Cet. I, 1990,  hlm. 220. Dalam mengarang kitab Tafsir Al-Munir, Az-Zuhaili berhijrah ke Daulat Al-Imarah Al ‘Ain, seraya meninggalkan istri dan anak-anaknya, ia melarutkan diri dalam keagungan kalam Allah selama beberapa tahun. Karya besar ini selesai ketika penulisnya berumur 56 tahun, tepatnya pada pukul 08.00, tanggal 13 Dzul Qa’dah 1408 / 27 Juni 1988 M.

[4] Ibid., hlm. 221

[5] Ibid., hlm. 231

[6] Muhammad ibn Yazid al-Qaawiny, Sunan Ibn Majah, Juz II, Dar al-Fikr, Beirut, t.th. , hlm. 1338. Lihat Abu Isa Muhammad Ibn ‘Isa Sunah al-Turmudzi, Sunan At-Turmudzi, Juz IV, Dar al-Kutub al ‘Ilmiyyah, Beirut, t.th., hlm. 572 dan Musnad Al-Imam Ahmad Ibn Hanbal, Juz V, Dar Al-Fikr, t.th., hlm. 365.

[7] Dr. wahbah Az-Zuhaili, Al-Qur’an Al-Karim Bunyatul At-tasri’iyyah wa Khasha’ishuh al Hadlariyyah, Dar al-Fikr, Damaskus, Cet. I, 1993, hlm. 57

[8] Wahbah Az-Zuhaili, Op.Cit., Juz XXIX, hlm. 200

[9] Sa’id Hawwa, Tarbiyyatuna ar-Ruhiyyah, Dar al-salam, Cet. III, 1994, hlm. 121.


[10] Ibid.

14 August 2014

Merenung Kembali Asas-Asas Akhlak dan Adab Berjamaah


Ke hadapan semua Penggerak Harakah Islamiyyah,

Parti Islam seMalaysia (PAS) amat memahami bahawa menyampaikan da’wah itu merupakan suatu kewajiban adalah suatu hakikat yang pasti seperti yang dituntut oleh Syara’ dan tidak pernah timbul sebarang khilaf di kalangan ‘ulama’ mengenai hukum ini.[1] Selanjutnya kita juga difahamkan bahawa pelaksanaan prinsip-prinsip wajib berda’wah itu dapat dilakukan melalui dua keadaan: secara fardiyy (perseorangan)[2] dan jama’iyy (berkumpulan/kolektif). Nas yang terkuat menunjukkan bahawa pelaksanaan da’wah secara jama’iyy adalah lebih dituntut yang mesti dilaksanakan oleh setiap ummat Islam sehingga tertegaknya Din dan Hakimiyyah Allah di atas muka bumi ini dan kaedah ini akan menyebabkan kesan da’wah lebih terasa. Dan di atas dasar itulah para ‘ulama’ tanah air yang menyedari hukum ini mewujudkan Parti Islam Se Malaya atau ringkasnya PAS, 55 tahun dahulu!

Bagaimanakah sesuatu Jama’ah Islam itu dapat menyusun organisasinya (tanzim) secara teratur[3] dan kemas ke arah mencapai matlamat yang telah digariskannya? Dalam hal ini, kita juga dapati kelemahan dan kegagalan kebanyakan Jama’ah Islam di dunia pada masa kini adalah berpunca daripada kelemahan aspek pengurusan organisasi atau tanzim Jama’ah. Berjaya-tidaknya sesuatu Jama’ah Islam amat bergantung kepada bagaimana Pimpinan (Qiyadah) dan pengikutnya (Jundiyyah) mengendalikan penyusunan organisasi Jama’ah itu. Dan di dalam mengendalikan Jama’ah itu, prinsip dan adab berJama’ah itu menjadi amat penting sekali kepada semua peringkat, dari Ahli Biasa PAS ke Mursyidul ‘Am.

Secara umumnya setiap Jama’ah Islam ataupun organisasi mempunyai prinsip dan kaedah tersendiri untuk menguruskan jentera organisasinya. Oleh itu, kita dalam PAS juga mempunyai adab, tertib dan akhlak berjamaah yang mesti dipatuhi. Selain daripada asas-asas al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ ‘Ulama’ dan Qiyas yang kita gunakan sebagai dasar Jama’ah kita, sebagai sebuah parti politik moden yang berdaftar, kita turut memiliki Perlembagaan PAS yang menjadi peraturan organisasi, dan yang paling penting, keputusan muktamad yang dicapai dalam Majlis Syura PAS. Jika kita ahli PAS yang berakhlak dan beradab, kita wajib patuh kepada adab organisasi seperti yang dinyatakan di atas.

Dalam konteks ilmu kemasyarakatan moden, akhlak dan adab mengendalikan Jama’ah dapat dikaitkan sebagai ilmu pengurusan, iaitu proses merancang (planning), menyusun (organize), memimpin (lead) dan mengawal (control) sesuatu organisasi ke arah mencapai matlamat (objective) yang telah digariskan.[4] Sehubungan dengan itu, pengurusan Jamaah Islam pula bermaksud “menguruskan Jama’ah Islam ke arah menyempurnakan segala tuntutan Islam seperti yang termaktub di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulu’Llah SAW.”

Oleh sebab modul pengurusan Islam adalah al-Qur’an dan Hadith dan model pelaksanaannya ialah diri Rasulu’Llah SAW itu sendiri maka ummat Islam pada masa kini bergantung kepada para ‘ulama’ mu’tabar selaku pewaris para nabi untuk mentafsirkan segala mesej pengurusan yang telah ditinggalkan oleh Rasulu’Llah SAW menerusi amalan peribadi baginda SAW.

Dalam hal ini pengkajian sirah Rasulu’Llah SAW,[5] para sahabatnya serta ‘ulama’ mu’tabar terdahulu menjadi amat penting sebagai dasar manhaj pengurusan Islam pada hari ini. Selain itu, ilmu-ilmu moden yang diajarkan di universiti amat penting sebagai ilmu bantu ke arah menyempurnakan pelaksanaan tugas pengurusan itu sendiri. Malah di dalam era post modernism yang hangat diperkatakan oleh para sarjana ilmu kemasyarakatan kini,[6] aspek-aspek nilai dan kebenaran mula dititikberatkan.

Dengan mengambil kisah Nabi Allah Sulaiman AS sebagai satu contoh yang dihidangkan oleh Allah SWT kepada kita secara terang lagi bersuluh , dapatlah kita simpulkan bahawa sesebuah Jama’ah Islam yang berjaya itu mesti memiliki sifat-sifat berikut:
(i) memiliki ‘ilmu yang benar;
(ii) matlamat perjuangan yang jelas;
(iii) tanzim yang tersusun kemas;
(iv) manhaj perjuangan yang jelas;
(v) barisan kepemimpinan yang berkeupayaan;
(vi) pengikut yang faham, taat dan istiqamah;
(vii) dianggotai oleh ahli dipelbagai peringkat.

Dalam pertembungannya dengan musuh-musuh Islam, organisasi atau Jama’ah Islam harus meneliti batas keupayaannya. Harus diingat: kekalahan dalam sesuatu pertembungan boleh ditafsirkan sama ada perencanaan musuh terlalu baik ataupun penyusunan organsiasi kita yang lemah. Dan kelemahan kita dapat berlaku melalui tiga cara : kelemahan dalaman yang sangat rumit atau ancaman luar yang terlalu hebat atau barangkali juga kedua-duanya sekali. Pimpinan harus meneliti bersungguh-sungguh segala permasalahan tanzim Jama’ah. Pimpinan mesti mempunyai keupayaan mengesannya dari peringkat awal lagi dan sekurang-kurangnya dapat mengawal keadaan. Berdasarkan pengalaman beberapa Jama’ah Islam, adalah didapati masalah dalaman amat rumit untuk diselesaikan begitu sahaja. Kepemimpinan yang bercelaru menyebabkan organisasi lemah dan pengikut tidak dapat dikawal. Dalam hal ini al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna telah mengingatkan kepada seluruh anggota jamaahnya apabila beliau berkata:
“Saya tidak bimbangkan keadaan kamu dan ancaman musuh-musuh Islam, tetapi apa yang saya bimbangkan ialah diri kamu sendiri. Saya tidak takutkan ancaman orang orang Inggeris terhadap kamu, atau orang Amerika atau Rusia atau lainnya. Yang saya takutkan ialah kamu melakukan dua perkara:

(a) Kamu mengenepikan Allah, lalu Allah mengenepikan kamu;

(b) Kamu berpecah belah sesama sendiri, maka kamu tidak akan berguna lagi.[7]



Ingatlah akan pesanan tegas daripada Rasulu’Llah SAW bahawa:
“Apabila dilantik seseorang untuk sesuatu tugas yang bukan ahlinya, maka nantilah saat kehancurannya!”

Sesungguhnya jalan da’wah itu memang berliku dan tidak pernah dihampar dengan bunga-bungaan yang harum, tetapi jalan yang susah dan panjang.[8] Bukankah Allah SWT telah menegaskan sifat segala ujian dan cabaran da’wah itu sendiri :

“Alif…Lam…Mim…. Adakah manusia menyangka bahawa
mereka akan dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman”
padahal mereka tidak duji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah
orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti berdusta.”
(Al-Ankabut: 1–3)

Amatlah penting bagi kita yang berada di atas jalan da’wah ini, memelihara keaslian da’wah, memelihara martabat Islam yang dibawa dan memelihara kesucian nama Jama’ah Islam yang kita anggotai ini, iaitu Parti Islam Se Malaysia atau PAS supaya kita, Jama’ah dan Islam yang kita bawa ini tidak menjadi bahan ketawa dan fitnah orang lain di antara lainnya termasuklah:
(i) Menyeleweng dari landasan asal dan kefahaman
tentang Islam dan Jama’ah;

(ii) Tidak mengutamakan aspek tarbiyyah;

(iii) Mendedahkan Jama’ah kepada orang luar;

(iv) Mengenepikan Syura dan nasihat;

(v) Mengutamakan kulit bukan isinya – banyak
bertengkar tetapi sedikit kerja;

(vi) Berjalan mengikut kaki tanpa panduan yang sahih;



(g) Cenderung kepada masalah furu’ dan mengenepikan dasar.[9]



Dan…….ingatlah pesanan Sayyidina ‘Ali Abi Talib bahawa :
“Perencanaan batil (musuh) yang tersusun kukuh hampir pasti
menumbangkan kebenaran (Islam) yang kucar-kacir”.
Dengan memahami bahawa jalan da’wah itu amat berliku dan dipenuhi ranjau berduri, maka al-Imam Hasan al-Banna telah menggariskan rukun-rukun da’wahnya ( الأركان الدعوة ) peringkat-peringkatnya ( مرا حل الدعوة ) di mana Rukun Faham ( الفهم ) sahaja mempunyai dua puluh (20) buah huraian daripada sepuluh (10) Rukun Bay’ah ( لأركان البيعة)[10] sebagai asas-asas dan dasar fiqh ad-Da’wah yang wajib (dari segi hukum ‘amal jama’iyy) diikuti oleh setiap mujahid da’wah. Sesunugguhnya, antara yang Haq dan batil, ada pertentangannya yang nyata. Ia memerlukan kesabaran dan ketekunan memikul bebanan yang berat. Ia memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera tanpa putus asa dan putus harapan. Yang diperlukan ialah usaha dan kerja yang terus menerus dan hasilnya terserah kepada Allah di waktu yang akan ditentukan-Nya.[11]

Akhlak dan adab anggota Jama’ah adalah nadi terpenting dalam perjalanan sesebuah Jama’ah Islam. Di dalam rangka ‘amal jama’iyy, setiap langkah ahli PAS, tidak kira apa jawatan yang pegangnya sama ada di Unit, Kawasan, Negeri ataupun Pusat, akan mewakili dan melambangkan imej dan hasrat parti atau Jama’ah. Kesilapan ahli akan menempelakkan masalah dan musibah kepada Jama’ah! Pimpinan pula sebagai anchor jentera pengurusan dipertanggungjawabkan sepenuhnya terhadap organisasi Jama’ah. Kita berasa amat bernasib baik dan dengan Takdir dan Izin Allah SWT jua, Jama’ah Islam bernama PAS ini dikendalikan dan ditadbir di bawah para ‘ulama’ dan kita berdoa agar Jama’ah kita terus dirahmati Allah SWT. Mengikut prinsip ‘amal jama’iyy, semua arahan pimpinan atasan wajib dipatuhi oleh pimpinan bawahan dan seterusnya di semua peringkat kecuali arahan yang bercanggah dengan nass yang jelas berdasarkan syariat Islam.

Oleh yang demikian, para ikhwah sekalian, kita hanya ada satu pilihan – iaitu untuk yang bersama dengan orang-orang yang mendapat tarbiyyah tertib lagi penuh beradab. Dan para muktamirin telah membuat pilihan..... iaitu mereka yang ikhlas bersungguh-sungguh mempertahankan Jama’ah berdasarkan hujjah-hujjah syar’iyy dalam konteks dakwah yang luas terbentang berasaskan sumber-sumber sahih daripada al-Qur’an, Hadith, Ijma’ dan Qiyas ulama’ terdahulu. Siapakah yang kita maksudkan - tidak lain dan tidak bukan, iaitu para ulama’ sendiri dan mereka yang mendukung para ulama’ dan profesional yang dapat membantu ulama’. Jangan sekali-kali kita mengikut kata-kata mereka yang tidak berakhlak dan beradab dalam jamaah! Kita elakkan barisan kepimpinan kita daripada anasir-anasir perosak yang menyelewengkan hala tujuan dakwah kita....

Jama’ah Harakah Islamiyyah kita yang bernama PAS sebagai sebuah parti politik telah melaksanakan kewajiban meletakkan al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas sebagai sumber sahih rujukan dan dasar perjuangan. Amalan syura yang berkesan pula akan membantu pimpinan mengemudi organisasi dengan cekap dan mendapat keredhaan Allah SWT. Gabungan tenaga di antara barisan pimpinan yang bijak dan pengikut yang setia di bawah manhaj yang tersusun kukuh akan menghasilkan natijah yang diharapkan dan bakal melahirkan Hizbu’Lah yang dinantikan. Sebarang usaha yang dilakukan di luar kaedah-kaedah tersebut harus ditolak dan tidak dapat diterima sebagai ‘amal-‘amal Islam kerana bagi kita yang mendukung Islam, “tujuan tidak menghalalkan cara”. Jangan ada, ahli mahupun pimpinan, yang boleh menerima arahan dari luar jama’ah dan dari luar pimpinan kita. Ini amanat daripada barisan Pimpinan Tertinggi kita dan kita sebagai ahli Jama’ah PAS wajib menerima dan melaksanakan amanat ini. Hanya dengan sedemikian Rahmat Allah SWT akan bersama-sama kita dan nun jauh di sana……Janji Allah SWT menanti kita……………

Kepimpinan sedia ada dalam jamaah Islam bernama PAS adalah kepimpinan bersifat jama’iyy bukannya fardiyy. Ia bukanlah milik peribadi. Kewajiban mematuhi arahan pemimpin tertinggi oleh pemimpin bawahan hanya berlaku dalam perkara-perkara ma’ruf bersifat syar’iyy sahaja kerana larangan mematuhi arahan pemimpin tidak syar’iyy adalah perintah yang amat jelas oleh Rasulullah SAW.[12] PAS bukan milik Presiden ataupun Mursyidul ‘Amnya. Ia adalah harta dan milik seluruh anggota dan ahli PAS serta mereka yang menyokong cita-cita Islam yang dibawa oleh PAS. Ia dipandu oleh Jawatankuasa Pusat dan di bawah kepimpinan ulama’ yang dikawal-selia oleh Majlis Syura Pusat. Oleh sebab struktur yang sedemikian, Tuan Guru Mursyidul ‘Am tidak boleh “memecat” atau “mengarahkan” atau memberi maksud arahan kepada mana-mana pimpinan pimpinan PAS Pusat atau Negeri untuk meletakkan jawatan yang telah disokong oleh majoriti muktamirin. PAS bukan dipimpin oleh pandangan seorang daripada beberapa pimpinan sedia ada walau bagaimana masyhur dan tersohor pun pimpinan itu. Apa yang berlaku kini amat sedih dan tidak mencorakkan kepimpinan Islam yang mementingkan akhlak dan adab berjamaah. Bukankah ucapan penerimaan jawatan khalifah oleh Sayyidina Abu Bakar dan pelaksanaan Majlis Syura Sayyidina ‘Umar menjadi bukti yang paling simple bahawa jamaah Islam bersifat jama’iyy bukannya fardiyy selain bukti yang terlalu banyak dalam al-Qur’an dan hadith?

Mengetepikan semua prinsip ‘amal jama'iyy dan uslub dakwah yang diamalkan adalah tanda dan bibit awal kehancuran jamaah Islam itu sendiri. Apabila Allah menganjurkan penyebaran dakwah secara terbuka luas tanpa batasan dengan memberi nasihat berguna serta perbahasan (bermujadalah) dengan hujjah-hujjah yang terbaik,[13] maka ia adalah metodologi yang anjurkan oleh Islam untuk diselami oleh para du’at. Dan asas jamaah Islam itu ada dua – kefahaman dan ukhuwwah. Kemudian datanglah kekuatan diri dan mahabbah. Tidak mungkin seseorang da’i itu menggadaikan prinsip Islamnya kerana terlalu bergelut dengan amalan politiknya. Tidak mungkin dan tidak boleh seorang Tok Guru mengambil hujjah politik mengatasi hujjah al-Qur’an. Apatah lagi seorang Tok Guru yang cukup senior yang di kalangan beberapa orang sudah dianggap sebagai legenda siyasah Islam! Dan jika masih kusut lagi dan tidak selesai sepenuhnya, bersyuralah seperti yang Allah ajarkan. Bukankah Majlis Syura adalah badan penasihat parti? Manfaatkan Syura.

Namun hakikatnya Tok Guru adalah manusia jua, sama seperti Muhammad SAW, Junjungan yang kita sanjungi dan sayangi. Bukankah beberapa kali Allah SWT menegur kesilapan Rasulullah SAW? Di dalam sifat kemaksuman baginda SAW, Allah turunkan ujian sebagai pengajaran buat manusia kerana Muhammad itu juga seorang insan. Sudah lupakah kita peristiwa getir fitnah al-Kubra yang melanda Sayyidatina Aishah RA yang kehilangan kalungnya yang telah mendukacitakan Rasulullah SAW, membangkitkan kemarahan Sayyidina Abu Bakr kerana anakandanya telah ‘derhaka’ terhadap suaminya, yang juga seorang Rasul? Dan apabila ditanya olehnya kepada Aishah - “siapakah yang dapat membantumu kerana tiada sesiapa lagi yang mempercayaimu?” Dengan tangisan sedih namun penuh tekad dan komited dengan pendiriannya, Ummul Mukminin menjawab – “Allah SWT akan menunjukkan kebenaranku!” Dan ketika mana tiada manusia yang dapat membantu, turunlah Wahyu Ilahi yang telah membela Aishah, yang telah memperbetulkan kesilapfahaman Rasulullah dan paling penting – mengajar seluruh ummat Islam bahawasanya Kebenarn itu hanyasanya daripada Allah, Pemilik Yang Maha Agung!

Bermunajatlah wahai Tok Guru dan kami bersamamu.

Titisan air mata ini akan menjadi saksimu, Ya Allah...... betapa gundahnya hati ini mengenang ujian yang Engkau turunkan demi mematangkan kami. Tapi kami tetap percaya dengan-Mu, ya Allah kerana Janji-Mu pasti tetap berlaku seperti yang telah Kau janjikan kepada kami yang terdahulu dan telah Kau tunaikan terdahulu. Namun kami amat berharap kepada-Mu, ya Allah, janganlah Kau bebani kami dengan ujian yang terlalu berat untuk kami pikul, dalam usaha kami bertatih di atas jalan dakwah yang telah Engkau gariskan itu. Ampunilah kami, restuilah kami dan kami bermunajat kepada-Mu, ya Allah......agar Kau permudahkan urusan kami agar kami dapat kembali bersatu hati, mengumpul segala tenaga sedia ada untuk menegakkan Kalimah-Mu di muka bumi Malaysia ini.

Amin, ya rabbal ‘Alamin!

Nukilan
Abu Aiman,
Kuala Lumpur

Nota Kaki:
[1]Lihat nas-nas al-Qur’an, umpamanya dalam surah Ali ‘Imran: 104 dan 110, an-Nahl: 125, as-Saff: 4 dan al-Ma’idah: 54-56. Terdapat juga sekian banyak hadith-hadith sahih yang menjelaskan kewajiban berda’wah. Lihat juga tulisan yang mendalam oleh para ‘ulama’ harakiyyah mengenai hukum berda’wah, di antaranya termasuklah Dr. Abdul Karim Zaydan dalam Dasar-Dasar Ilmu Da’wah dan Fathi Yakan dalam Bagaimana Kita Memanggil Kepada Islam.
[2]Sila lihat prinsip dan kaedah pelaksanaan Da’wah Fardiyyah yang telah dikupas dengan indah oleh al-Ustadh Mustafa Masyhur dalam Da’wah FardiyyahKuala Lumpur: Pustaka Salam, 1985.
[3]Penegasan Allah SWT dalam surah as-Saff: 4 perlu diteliti dengan mendalam. Da’wah perlu disusun rapi secara kolektif, dirancang, dikawal dan dipimpin secara berkesan untuk mencapai matlamat yang telah digariskan.[4]Huraian tradisi konsep pengurusan ini pernah diberikan oleh Stoner dalam J.A.F. Stoner dan C. Wankle, Management, New Jersey: Prentice Hall, 1986. Lihat juga Ernest Dale, Organisation: New York, American Management Association, 1967.[5]Di antara kajian sirah yang terbaik yang boleh dijadikan panduan anggota Jamaah Islam ialah Fiqh as-Sirah oleh Sa’id Ramadan al-Buti, Kuala Lumpur: Dewan Pustaka Fajar, 1987, Fiqh as-Sirah oleh Muhammad al-Ghazali, Kuala Lumpur: Dewan Pustaka Fajar, 1986 dan As-Sirah an-Nabawiyyah: Durus wa ‘Ibar oleh Dr. Mustafa as-Siba’i.
[6]Di antara yang terkehadapan ialah Peter F. Drucker yang banyak menulis tentang kelakuan manusia dalam penyusunan organisasi moden. Lihat umpamanya, karangan beliau,Post-Capitalist Society, 1993.[7]Diungkapkan semula oleh Dr. Yusuf al-Qardawi dalamHarakah Islamiyyah ; Suatu Tuntutan, Shah Alam: KPIITM, 1981, hal. 30-31.[8] Lihat huraian tentang fiqh ad-Da’wah dalam siri Tariq ad-Da’wah oleh al-Ustadh Mustafa Masyhur,Kuala Lumpur: Pustaka Salam, 1985. Diterbitkan kembali semua siri tulisan tersebut dalam dua jilid yang berasingan dengan judul Min Fiqh ad-Da’wah Mustafa Masyhur Jld. I dan 2.
[9]Kupasan yang mendalam dan indah ini telah dihuraikan oleh mujahid dakwah ini dalam tulisannya yang amat penting, Jalan Da’wah: Di antara Keaslian dan PenyelewenganKuala Lumpur: Dewan Pustaka Fajar, 1986.
[10]Lihat tulisan-tulisan beliau dalam Majmu’ah al-Rasa’il al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna, Dar ad-Da’wah, 1990.
[11]Mustafa Masyhur, Jalan Da’wahKuala Lumpur: Pustaka Salam, 1985, hal. 5.[12]Di dalam hadith yang masyhur, Rasulullah SAW ada menyebut, “La ta’atan li makhluqin fi ma’siati’l-Khaliq” (tiada ketaatan kepada makhluk dalam perkara-perkara yang bertentangan dengan syara’)[13] Surah an-Nahl: 125